-FF- Our Love – Part 1

 

“maaf, bolehkah aku duduk di sebelah mu?” tanya yeoja berambut panjang terurai kepada namja di depannya

Namja itu menoleh dan menatapi wajah yeoja tersebut “ah? ne..” jawab namja itu dan disambut dengan senyuman yeoja di depannya

“kamsahamnida..”

 

***

Our Love

  • Main cast: Lee Hyun Woo (Actor), Min Hyo Sun (Ulzzang yeoja)
  • Other cast: Yang Yo Seob (Beast), Han Min Young (OC), Jeon Ji Yoon (4Minute), Jason Jang Han Byul (LED Apple) dll. You can find it yourself^^
  • Genre: Romance, Humor(?)
  • Author: Lee Hana a.k.a dk1317 (of course that’s me)

P.S : Di ff ini mungkin kalian akan menemukan ‘umur’ yang tidak sesuai dengan umur Hyunwoo sekarang, but no problem right? It’s just ff, hanya umur dan sekolahnya yang ku ubah dari dia, toh ff kan hanya ff.. ^^

 

Happy Reading~

***

Hyunwoo POV

‘wuuuush’ angin kencang menerpa wajahku, musim dingin yang sangat tidak cocok untukku. Kebanyakan orang menyukai musim ini, tapi aku tidak.. aku sangat membencinya..

Ku langkahkan kaki ku keluar rumah menuju motor ku, aku mendapati motor ku yang penuh dengan salju di luar sana dan sukses membuat ku berdecak kesal.. aku sangat menyesal telah membiarkan motorku diluar selama 15 menit..

Aku menuju motorku yang sangat malang itu..

“aaah, jinjja..” kesalku

Aku menengok ke kiri ke kanan mencari sesuatu yang dapat ku gunakan untuk membuang tumpukan salju ini dari motor ku.. ku dapati sekop dan ember di pintu garasi rumahku..

‘srak’ ‘srak’ ‘srak’ bunyi yang dihasilkan oleh ku ketika mengambil tumpukan salju itu dengan sekop, terkadang aku berfikir betapa bodohnya diriku karena meninggalkan motor di luar dan bukan di dalam garasi..

“huft..”

Aku menghela nafas sejenak dan melihat motorku yang sudah bersih dari tumpukan salju. Aku menaiki motor kesayangan ku tersebut dan mulai berangkat ke kampus dan berharap tidak telat..

***

“yo! Lee Hyunwoo!”

Aku menoleh ke sumber suara.. “o.. Yoseob-ah..”

“ng? neo wae geurae?” tanya Yoseob sambil memandangi wajahku dari atas ke bawah

“na? nan gwenchana..” jawabku sedikit lesu

“hee?? Mukamu lesu begitu, kau tidak senang bertemu denganku?”

“eo? Eotteoke arachi?”

“yak!” kesal yoseob

“wae?”

“kau, menyakiti hatiku Hyunwoo-ah..” kata Yoseob dengan nada bicara seperti yeoja yang sedang patah hati

“ya! Apa yang kau lakukan!” kesalku

“seseorang tolong aku, aku sedang sakit hati karena Hyunwoo..” Yoseob semakin menjadi

‘plak!’ aku melotot melihat orang yang telah memukul kepala Yoseob dari belakang

“Hanbyul!” teriak yeoja di sampingnya

“o? aku memukulnya, mian Yoseob-i..” katanya sambil mengeluarkan senyum khas yang menunjukkan lesung pipinya

“auuh..” Yoseob meringis kesakitan

“Hanbyul-ah! Kenapa kau memukulnya!” kesal yeoja di sampingnya itu

“ah, itu.. karna dia menjijikan..” jelas hanbyul sambil menatap Yoseob tajam

“Hanbyul, Jiyoon.. kebetulan sekali, aku sangat ingin menghentikannya tapi aku tidak tahu harus bagaimana, gumawo! Nanti ku traktir es krim..” kataku kepada Hanbyul

“aku mau jjangmyeon..” kata Hanbyul menawari traktiranku

“hee? Uhm, kalau uangku sudah banyak ya..” kataku sambil cengir

“yak! Sakit tau!!” teriak Yoseob di tengah-tengah kesakitannya

“mian, nanti ku traktir kau permen..” kata Hanbyul

“permen! Sekiranya cokelat dong! Atau es krim!” kesal Yoseob

Aku mengingat apa yang harus ku lakukan, aku melihat jam di tanganku sekilas.

“ehm, mian, aku ke perpus dulu ya..” pamitku

“eeh, tapi..”

Sebelum Yoseob melanjutkan omongannya, aku langsung berlari ke arah tangga..

 

***

“permisi..” kataku

“o, Hyunwoo-ssi.. kau sudah ku tunggu dari tadi, ini buku yang mau kau pinjam..”

“ne, kamsahamnida..”

“ye..”

Aku berjalan menuju bangku kosong yang ada di perpustakaan ini, melihat semua telah terisi, aku pun berjalan menuju keatas..

‘tap’ ‘tap’ buku yang kubawa termasuk banyak, dan sesekali aku tidak dapat melihat kedepan, dan saat itulah.. ‘bruk’

“ah!”

Gawat! Aku menabrak seorang yeoja..

“jweseonghamnida, aku tidak tahu kalau ada kau di depanku..” kataku

“a-aniya,, aku yang salah karena dari tadi hanya melihat handphone ku..” katanya, “ini bukumu..” sambungnya

“kamsahamnida..”

Tanpa melihat wajahnya lagi, aku menuju keatas..

‘brak’ haaah.. dasar kau bodoh Hyunwoo, bisa-bisanya kau menabrak yeoja.. oh iya! Aku tidak melihat wajahnya, dan juga cara minta maafku tadi, haah! Molla!

Aku terduduk lemas di kursiku dan membuka buku yang tadi dipinjamkan kepadaku..

‘srek’ selembar demi selembar aku membuka buku tersebut.. inilah keseharianku, setiap pagi aku ke perpustakaan, setelahnya aku akan kekelas, setelah jam selesai, jika masih ada waktu aku akan ke perpustakaan lagi atau pergi main bersama Yeoseob dan Hanbyul.. mungkin memang membosankan, tapi beginilah aku jika sudah memasuki musim dingin, aku sama sekali kurang aktivitas, rasanya aku seperti beruang yang berhibernasi setiap musim dingin, namun sedikitnya aku mempunyai aktivitasku dan bukan hanya tidur dan membulat di gua..

“maaf, bolehkah aku duduk di sebelah mu?”

Aku menoleh, yeoja cantik berambut panjang tepat di depanku bertanya dengan suaranya yang lembut, tiba-tiba saja jantungku langsung berdetak kencang,

“ah? ne..” kataku, hah? Apa yang barusan ku katakan, mulut ku bergerak dan bersuara dengan sendirinya

Dia tersenyum mendengar jawabanku dan semakin membuat jantungku berdetak kencang tak menentu

“kamsahamnida..” katanya

Aku hanya mengangguk pelan untuk merespon kata-katanya..

 

***

Selama hampir setengah jam, kami sama sekali tidak berbicara, kami hanya terfokus belajar satu sama lain..

‘kriiet..’ aku menoleh ke arah suara, dia berangkat dari tempat duduknya dan menyadari bahwa aku sedang melihatnya

“ah, jweseongiyo, apakah aku menganggu mu?” tanyanya dengan wajah sedikit takut

“a-aniyo, nan gwenchana..” kataku meyakinkannya

“ah, kalau begitu aku duluan..” katanya dan tersenyum kepadaku

Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk pelan karena sekarang jantung ku berdetak dengan kencang, ketika dia sudah jauh, aku terlemas diantara tumpukan buku di depanku.. rasanya aku ingin teriak dan menghempas semua yang ada di sini, tapi.. ini bukan rumah ku, ini adalah perpustakaan kampusku, mana mungkin aku melakukannya atau aku akan dicap sebagai mahasiswa yang sedang stress di koran-koran terpercaya..

‘tap’ ‘tap’ suara langkah kecil menghampiri kursi yang kududuki..

“ah, jweseongiyo, apakah kau capek? Maaf menganggumu..”

Aku menoleh ke arah suara yang sedang berbicara denganku, saat kulihat, ternyata yeoja yang tadi, kenapa dia balik lagi? Apa ada yang ketinggalan..

“ah, aniyo, aku memang agak capek, tapi kau sama sekali tak mengangguku..” jawabku sambil tersenyum kecil

“mm, syukurlah.. oh iya, ini kubelikan untukmu.. kalau kau suka..”

Dia menyerahkan sekaleng kopi hangat yang di jual di drink machine di bawah.. aku kaget melihatnya dan menatapnya..

“kau tidak suka kopi?” tanyanya

Aku hanya terdiam, namun di wajahku tersirat perasaan tidak suka.. ya, aku tidak suka kopi, menurutku kopi itu pahit, mungkin aku kekanak-kanakan, tapi ya.. kopi itu pahit walau sudah dicampur dengan krim sekalipun..

“ah, jweseonghamnida, aku sok tahu.. bukannya bertanya padamu tapi malah memberikan sesuatu yang tak kau suka, jweseonghamnida..” katanya sambil membungkuk beberapa kali

Wajahnya sedikit sedih dan bersalah ketika melihatku hanya diam saja, mungkin dia tahu apa yang ingin ku bicarakan, ku kumpulkan semua keberanianku untuk berbicara dengannya..

“em, kalau begitu aku..” belum sempat dia melanjutkan aku langsung menarik tangannya ketika dia hendak pergi, “johgi..” katanya

“maaf kalau aku telah menyakiti hatimu, aku tidak bermaksud seperti itu, dan aku tidak mungkin menyia-nyiakan pemberian dari seseorang..” aku menatapnya “aku memang tak suka kopi, tapi ku coba untuk menyukainya sekarang..” sambungku

Dia terlihat terkejut dan senang sekaligus, lalu dia tersenyum melihatku.. aku membalas senyumnya dan mengambil kopi yang ada di tangannya..

“gumawo..” kataku

 

***

“jeoneun Lee Hyun Woo imnida.. neo?” tanyaku

Saat ini kami sedang berjalan di koridor lantai dua.. aku memegang sekaleng kopi yang dia berikan kepadaku, namun aku belum membukanya dan membiarkan kopi ini dingin dengan sendirinya..

“Min Hyo Sun imnida..” jawabnya

“Min Hyo Sun? nama yang bagus..” kataku

Dia hanya tersenyum

 

***

Hyosun POV

“jeoneun Lee Hyun Woo imnida.. neo?” tanyanya

“Min Hyo Sun imnida..” jawabku

“nama yang bagus..” katanya

Kurasa pipi ku memerah, dan aku hanya tersenyum selagi bisa sambil menutup rasa maluku.. ku rasa aku telah menyukai namja ini sejak pertama kali bertemu, tak ku sangka kami langsung bisa mengobrol seperti ini, padahal satu jam yang lalu kami sama sekali tidak ngobrol, yah.. ku pikir mungkin karena dia sedang fokus dengan bacaannya, aku tidak ingin menganggunya, tapi karena sekaleng kopi, kami pun bisa mengobrol, gumawo kopi kaleng!

“oh iya, setelah ini aku akan kekelas, kalau kau?” tanyanya sambil menatapku

Aku mencoba untuk menatapnya juga namun yang kulakukan adalah memalingkan wajahku, ah! Nan eotteokke!? Dia pasti mengiraku aneh!

“aku.. aku juga akan kekelas ku..” jawab ku sedikit terbata-bata

“ah..”

Eotteokke? Apakah dia tau? Atau benar-benar mengiraku aneh??

“Hyunwoo-ah!!”

Aku menoleh ke sumber suara, itu teman-temannya?

“ah! Yoseob-ah!” Hyunwoo menghampiri namja yang bernama Yoseob itu, aku hanya mengikutinya kecil dari belakang..

“o? nugu nikka?” tanya Yoseob sambil melihatku dari bawah sampai atas

“a-annyeonghaseyo, Min Hyo Sun imnida..” kataku

“oo, Hyosun-ssi.. pacar barumu Hyunwoo??” tanya Yoseob kepada Hyunwoo sambil menyikut lengan Hyunwoo kecil

Mendengar itu wajahku langsung memanas, rasanya saat ini wajahku sedang mengecil!

“mwo ya! Aniyo!” kata Hyunwoo

Sebenarnya aku senang kalau dibilang begitu.. kalau saja dia merasakan hal yang sama denganku..

“eei, kau tak usah mengelak.. oh iya Hyosun-ssi..” panggil Yoseob

“ne?” tanyaku

“jaga Hyunwoo baik-baik ya, dia orangnya kurang terbuka..”

“ye??”

“anineunde!” kesal Hyunwoo

“hahahaha, oh iya, aku Yoseob, Yang Yoseob..”

“Jeon Jiyoon..”

“Jason Jang Hanbyul..”

“annyeonghaseyo..” sapaku dengan sedikit kaget mendengar nama ‘Jason Jang Hanbyul’

Sepertinya mereka semua baik, hah.. senangnya jika punya teman seperti mereka..

“oh iya Hyosun-ssi.. kelas mu dimana?” tanya Hyunwoo

“em, dilantai 3..” jawabku

“kalau begitu kami duluan ya..”

“ne..”

Mereka melambaikan tangan mereka dan menghilang dari koridor lantai dua, aku pun mulai berjalan kearah tangga untuk kelantai tiga..

 

***

Dikejauhan aku melihat tag kelas yang tergantung di depan dua pintu, kelas yang ku harap akan menjadi kelas yang membuatku pas berada di sini..

“akan ada mahasiswi baru dikelas ini, silakan masuk..”

Ketika dipanggil oleh seonsaeng yang mengajar, aku mulai melangkahkan kaki ku ke dalam kelas ini. Terdengar sedikit kericuhan ketika aku memasuki kelas ini..

“annyeonghaseyo, Min Hyo Sun imnida..”

“ne, Hyosun-ssi, kau boleh duduk di tempat kosong yang ada di ruangan ini..”

Aku menunduk pelan untuk merespon kata-kata seonsaengnim, sebenarnya sejak aku kelas 2 SMP, aku sudah berapa kali pindah sekolah karena masalah keluargaku, dan juga masalahku.. ayahku sering dinas di luar kota hingga 5-10 bulan, dan ibu yang tidak ingin ayah kenapa-napa, mengajakku untuk tinggal bersama ayah, dan yang pastinya akan membuatku terus berpindah-pindah.. dan ini adalah kepindahan ku yang ke-6 kali setelah kepindahan terakhirku bulan kemarin di daegu.. hal ini membuatku susah bergaul dan tidak terlalu banyak memiliki teman, dan kepindahan ku ke sini mengharapkan bahwa aku akan mempunyai banyak teman dan tidak pindah-pindah lagi, karena aku sudah mulai menyukai tempat ini.. aku juga sudah dewasa, bukankah ini saatnya aku hidup mandiri?

“Minyoung-ssi, kau bisakan menjelaskan materi-materi yang ketinggalan kepada Hyosun-ssi??” tanya seonsaengnim kepada teman sebangku-ku

“ne, geureom..” jawabnya senang

“kamsahamnida..” kataku dan tersenyum kearahnya

“oh iya, namamu Hyosun kan? Aku Minyoung, Han Minyoung..” katanya

“bangapseumnida..” kataku

Dia tersenyum, “ne..” katanya

 

***

“Hyosun-ssi..”

Aku menoleh, “oh, Minyoung-ssi.. waeyo?” tanyaku

“mau pulang bareng? Kebetulan kita searah..” jawabnya

“ah, jweseongiyo, aku mau ke perpustakaan dulu..”

“ah, begitukah?”

“mianhaeyo..”

“gwenchana, mau kutemani..”

“ani, gwenchana..”

“aniyo, aku yang seharusnya bilang seperti itu..”

“kamsahamnida..”

Kurasa di baik, senyum dan perbuatannya sangat ikhlas kepadaku. Kami pun berjalan menuju perpustakaan..

“oh iya Hyosun-ssi..”

“ne?”

“bagaimana kalau kita saling memanggil dengan akrab, gimana?” tanyanya

“em, boleh..”

“gumawo Hyosun-ah..”

“ne..”

 

Hyun Woo POV

-in Library-

Aku mengelilingi rak-rak di dalam perpustakan ini, mencari buku yang kucari dari sepulang dari kelas siang tadi, kekecewaan pun menghampiriku..

“johgi, ahjumma..” panggilku kepada penjaga perpustakaan

“ne Hyunwoo-ssi??”

“buku ‘The Story of One Man’ dimana ya?” tanyaku dengan sedikit lesu

“looh? Bukannya di sekitar sana?”

“aku sudah mencari lima kali di semua rak sekitar sini, tapi aku tetap tak menemukannya..”

“sebentar, aku coba cek di buku pinjaman dulu..”

“ne..”

Aku mencoba mencari buku itu selagi penjaga perpustakaan memeriksa catatan di buku pinjaman, mataku langsung menatap buku yang berjudul ‘How to be a great Actor’ aku segera memalingkan pandanganku saat penjaga perpustakaan memanggilku..

“Hyunwoo-ssi..”

“ne?”

“mianhae, semua stok buku itu yang ada di sini semuanya sudah dipinjam..”

“ah, geurae? Ne, Kamsahamnida..” kataku sambil tersenyum tipis

“kalau kau ingin meminjamnya lagi, 3 hari kemudian kau bisa datang ke sini..”

“ne..”

Karena tak mendapat apa yang kucari, pikiran ku mulai berputar pada saat aku melihat buku yang sama sekali tak berminat untuk ku baca, memang disini adalah kampus yang memang termasuk mengajar didalam kategori itu, namun aku sama sekali tidak terlalu tertarik, tapi aku heran kenapa tiba-tiba saja mataku tadi langsung terpusat pada buku itu..

Aku mulai berjalan ke arah rak yang ku kunjungi tadi, dan lagi-lagi, mataku langsung menangkap buku itu, aku mangambilnya dan melihat covernya..

“Hyunwoo-ssi??”

Aku menoleh ke sumber suara, ternyata dia adalah yeoja yang tadi pagi bersamaku di perpustakaan ini, Min Hyo Sun..

“kau ingin meminjam buku?” tanyanya

Aku mengangguk lemas, yah benar, tapi tak ku dapatkan buku itu..

“o? Kau mau jadi aktor? Wah! Keren sekali!” pujinya dengan semangat saat melihatku memegang buku tadi

Aku kaget mendengarnya begitu semangat, yeoja ini..

“menurutmu itu keren?” tanyaku

“ne! Menjadi aktor itu sangat keren! Apa lagi kalau aktor film laga! Wuaaah! Benar-benar keren! Tapi aku lebih suka jika aktor tersebut memainkan satu film dengan dua kepribadian. Hehehe, kesannya jadi deg deg-an kalau menontonnya..” jawabnya riang sambil tersenyum cerah ke arahku

Aku melihatnya tersenyum lebar setelah mendengar ceritanya yang terkagum-kagum dengan profesi aktor tersebut..

“kau mau jadi aktor?” tanyanya sambil melihatku dengan mata berkaca-kaca

Aku langsung memalingkan wajahku ke arah rak buku, mencoba untuk menyembunyikan rasa malu ku, yeoja ini entah kenapa saat seperti tadi terlihat sangat cantik, aku mengambil buku tentang musikal untuk memastikan agar dia tidak mencurigai apa yang kulakukan..

“a-aku lebih tertarik dengan musikal..” jawabku terbata-bata

“aktor musikal??” tanyanya riang

Aku melihatnya, dia sedang tersenyum dengan lebarnya mendengar aku menyabutkan kata musikal.. “Ne..” jawabku

“wuaah! Itu lebih keren lagi, berakting sambil bernyanyi.. itu susah sekali loh! Kau yakin mau menjadi aktor musikal? Tapi, ku yakin kau pasti bisa!” katanya riang dengan sorot wajah mendukungku

Aku tersenyum geli melihatnya, “ppffft.. hahahahahah!!” tiba-tiba saja aku langsung spontan tertawa keras di perpustakaan ini

“wae? Wae geurae Hyunwoo-ssi??” bingungnya yang melihatku tertawa dengan kerasnya

Aku pun meliriknya, wajahnya yang sedang bingung membuat tawa ku semakin menjadi, hingga akhirnya kami diusir dari perpustakaan karena berisik..

 

***

“waeyo Hyunwoo-ssi??” kesal Hyosun

“a-aniyo.. haha..”

“kenapa kau tertawa dari tadi? Apa begitu lucu sehingga kita diusir dari perpustakaan?”

“nado molla, hahaha!!” jawabku diikuti dengan tawa karena mengingat kejadian tadi

“aissh!!” kesal Hyosun sambil menghentakkan kakinya lalu terduduk dikursi di belakangnya..

“mianhae..” kataku dengan menahan tawa

Dia menatapku tapi langsung memalingkannya lagi..

“Hyosun-ssi, mianhae..” kataku lagi sambil tetap menahan tawa

“Hyosun-ah!”

Kami berdua menoleh, seorang yeoja menghampiri kami dan langsung kaget begitu melihat ku..

“ya! Kau kemana saja?” tanyanya kepada Hyosun

“ah, Minyoung-ah, mianhae.. Aku lupa kalau kau menungguku..” jawab Hyosun

“nugu, Hyosun-ssi?” tanyaku

“ah, teman satu kelas denganku..”

“Han Minyoung imnida..” katanya sambil membungkuk

“kau mahasiswi jurusan sastra semester 3 kan?” tanyaku

“ne, sunbae-nim..”

“jinjja?” “sunbae?” kataku dan Hyosun serentak

Aku dan Hyosun saling menatap, kami terlihat tak percaya satu sama lain

“MWO!?” teriak kami serentak

 

***

“ckck, seolma..” kataku sambil berdecak tak percaya “jinjjaro? Kau masih semester 3!?” tanyaku

“ne..” jawab Hyosun

Saat ini aku dan Hyosun berada di taman kampus, teman sekelas Hyosun pergi duluan karena ada urusan..

“kau sendiri?” tanya Hyosun kepadaku

“aku semester 5..” jawabku

“jinjja?”

Aku mengangguk..

Sungguh, aku sangat kaget, kupikir dia seangkatan, tapi memang sih aku tidak sering melihatnya tapi mungkin saja kan dari jurusan lain, tapi memang benar dari jurusan lain, tapi beda angkatan..

“jadi, umurmu berapa?” tanyaku

“19 tahun..”

Aku menelan air ludah ku.. aigoo, apakah tuhan sedang mengutuk ku? Haruskah aku menyukai yeoja yang lebih muda dari ku..

“ah, aku pusing.. aku mau pulang, kau juga pulanglah..”

“ne, sunbae..”

Aku melihatnya.. “jangan panggil aku sunbae..” kataku sinis

“ne..” jawabnya takut-takut

Hah, biarlah begini apa adanya, aku tidak suka orang yang kusukai memanggilku sunbae..

 

***

Hyosun POV

“jadi dia lebih tua dari ku, tapi aku tidak bertanya sih umurnya..” kataku saat memasuki rumah “na wasseo..” sambungku

“ah, selamat datang Hyosun-ah..” sambut ibuku

Aku tersenyum mendengarnya, lalu ku langkahkan kaki ku ke tangga..

‘krek’ aku membuka pintu kamarku perlahan..

“kira-kira umurnya berapa ya?” “20 atau 21? Minimal segitukan kalau sudah semester 5?”

Aku berjalan kecil menuju lemari pakaian ku

“hm, mukanya sih seperti seumuran denganku.. mmm..”

“Hyosun-i.. ayo cepat turun, kita makan malam dulu..”

“eh? Ne eomma!”

 

***

“lauk apa nih?” tanyaku

“lauk kesukaan mu..” jawab eomma

“asyik..”

Aku pun duduk di tempatku, begitu pula eomma dan appa..

“jam mogseumnida~” kataku dibalas dengan senyuman eomma dan appa

“mm, seperti biasa, masakkan eomma enak..” pujiku

“eei, kau bisa saja..” kata eomma

Dikeluargaku, aku adalah anak tunggal.. aku tidak suka kenyataan bahwa aku adalah anak tunggal, mungkin itulah mengapa aku sulit bergaul.. tapi kenapa ya aku dan Hyunwoo ‘oppa’ mudah sekali akrab, bagus deh kalau begitu..

Tanpa sengaja aku tertawa ditengah makan malam kami.. eomma dan appa melihatku..

“kenapa kau tertawa?” tanya appa dengan nada ‘jangan-jangan anakku’

“aniyo, lanjut makannya appa..” jawabku dan sedikit mengelak

Dengan sedikit rasa penasaran, appa melanjutkan makannya diikuti oleh tertawa kecil eomma..

“gwenchanayo appa, anak kita kan sudah besar..” sambung eomma

Appa terlihat tidak suka dengan kata-kata eomma..

Setelah selesai makan, eomma mengagetkanku dengan pertanyaannya

“kau sudah punya pacar ya Hyosun?”

‘brrruft!’ spontan the yang ku minum langsung muncrat begitu saja, aku mengambil tisu dan mengelap seadanya..

“aniyo eomma..”

“berarti, kau sedang menyukai seseorang?”

Aku tidak menjawab pertanyaan eomma, aku melihat mata appa membulat melihat ku dan eomma secara bersamaan..

“eomma aro..” goda eomma

Aku hanya terdiam sambil menyembunyikan rasa malu ku dengan bantal yang ada disampingku, eomma memang keren, dia langsung tahu begitu saja dengan hanya melihatku..

Aku pun kabur dari ruang tv dan masuk ke kamarku..

“daebak..” kataku kecil

Aku menuju tempat tidurku dan membaringkan badanku yang terlemas karena eomma, tak sengaja tanganku terpantuk handphone ku..

“seandainya aku punya nomornya..” kataku kecil

Perlahan-lahan, mataku terlemas dan terpejam penuh..

 

***

-pagi harinya-

“hoaaaam..”

Aku terbangun lemas dari tempat tidurku, kulihat cermin didepanku dengan tatapan terkejut..

“aiuu,, ige mwonde..” kataku sambil tertawa kecil

Aku berangkat dari tempat tidurku dan berjalan lemas ke arah meja riasku, mengambil sisir dan mulai menyisir rambutku yang berantakan.. aku sedikit tertawa kecil mengingat rambutku yang berantakan. Setelah selesai menyisir, aku pun turun ke bawah dan mendapati sosok eomma..

“pagi eomma..” panggilku

“eo, pagi..” jawab eomma dengan senyum khas-nya

“appa sudah pergi?” tanyaku

Eomma mengangguk sambil memberi ku semangkuk nasi, “gumawo eomma” kataku

“Hyosun-ah..”

“ne?”

“hari ini eomma dan appa pulang malam, kau makan malam sendiri ya?”

“ne gwenchana, aku kan sudah besar..” jawabku dengan sedikit terseyum

“ne, eomma aro..” kata eomma sambil mencium keningku

 

***

“eomma, aku pergi..”

“ne, nanti eomma taruh kunci di tempat biasa..”

“ne~”

Aku berjalan keluar rumah sambil menenteng tas ku lemas.. aku berjalan sangat lemas keluar dari gang rumah ku, ku lihat halte bus sudah di depan mata, aku melirik jam ku, jam ku menunjukkan angka 8 lewat dan 6 yang mengartikan sekarang pukul 08.30..

“masih sempat tidak ya ke perpustakaan, padahal ada buku yang ingin ku pinjam, haish!” kesalku

Aku menunggu di depan halte bus, menunggu bus nomor E05, tiba-tiba sebuah motor berwarna merah berhenti didepanku, pengendara motor tersebut pun membuka helmnya dan tersenyum padaku..

“Hyunwoo-ssi..”

“annyeong..”

 

***

‘wuuurrr..’ deru angin yang disebabkan oleh Hyunwoo ‘oppa’ karena mengandarai motornya begitu cepat, bayangkan saja, mungkin sekarang ini motor yang kami naiki berkecepatan 100 km/jam.. aigoo, untung saja ‘oppa’ membawa helm cadangan kalau tidak, mungkin saat ini wajahku sedang kram dan otot dan bibirku kemana-mana arahnya, dan untungnya aku tidak salah memakai jaket! Kalau saja aku salah memakai jaket, mungkin sekarangbaku sedang beku..

‘ciit..’ suara rem dari motor Hyunwoo ‘oppa’ yang menandakan bahwa kami telah sampai dengan selamat..

Aku segera turun dari motornya dan melepas helm yang ada dikepalaku.

“kamsahamnida..” kataku sambil menunduk

Dia hanya tersenyum sambil melepas helmnya, aku menyerahkan helm yang kupakai tadi kepadanya, dan kami pun berjalan menuju gedung kampus..

“kau tidak kedinginan?” tanyanya

“ani, mm.. untung saja tadi kau lewat, kalau tidak mungkin aku akan terlambat..” kataku

“aku juga dalam perjalanan tadi, tak sengaja aku melihatmu begitu gelisah..”

“kamsahamnida..”

Lagi-lagi dia hanya tersenyum.. aku melihat wajahnya yang sangat cerah, apakah aku bisa memiliki namja yang secerah ini, di wajahnya sama sekali tidak terlihat kesedihan..

“Hyunwoo-ah!!”

Kami menoleh ke sumber suara, ternyata itu adalah Yoseob ‘oppa’ dan yang lainnya..

“eo? Ige mwoya? Kalian datang berdua ya?” tanya Yoseob ‘oppa’ dengan nada menggoda

Aku hanya terdiam, aku melirik Hyunwoo ‘oppa’.. dia sedang memegang keningnya dan siap ingin mencekik Yoseob ‘oppa’

“kalau iya kenapa?” Hyunwoo ‘oppa’ menanya balik dengan nada kesal

“ooo, berarti kalian pacaran kan? Iyakan?”

‘plak!’ “aniyo!” kesal Hyunwoo ‘oppa’

“kajja Hyosun-ssi..” ajaknya

“ne..”

“ya! Hyunwoo-ah!”

 

***

Hyunwoo POV

Haish jinjja, tidak bisakah orang satu itu diam.. haish!

“..woo? Hyunwoo-ssi?? LEE HYUNWOO!”

“eh? Ye?”

Aku melihat orang yang memanggilku, ternyata itu adalah Hyosun, astaga! Bagaimana aku bisa lupa dengannya..

“mianhae, wae? Wae geurae?”

“gwenchana?”

“na? nan gwenchana..”

“tapi kau tidak terlihat seperti itu, padahal tadi kau terlihat ceria..”

“ani, gwenchana..”

Hyosun terlihat sedikit bingung, “araseo..” jawabnya kecil

“oh iya, kau mau kemana? Kelasmu belum dimulai kan?” tanyaku

“aku mau ke perpustakaan..” jawabnya

“jinjja? Aku juga, kalau begitu kita sama-sama..”

Dia mengangguk, tak ku sangka tujuan kami pagi ini sama..

 

***

“anu..”

Aku menoleh, ternyata dia adalah Hyosun ‘lagi’..

“wae?”

“bolehkah aku duduk disini lagi?”

Aku terkejut mendengarnya, dia menunggu jawabanku dengan polosnya, aku tertawa kecil..

“geureom..” jawabku dengan senyum merekah “kau bisa duduk denganku kapan saja..” sambungku

Dia tersenyum dan mengangguk, “kamsahamnida..”

Selama kurang lebih 15 menit kami terfokus pada bacaan kami, dia memulai percakapan kecil..

“anu..”

Aku menoleh, aku melihat wajahnya sedikit malu-malu, tiba-tiba saja jantungku menjadi tak karuan..

“ne?”

“itu, bagaimana ya aku mengatakannya..”

Dia terlihat bingung dan malu sehingga membuat ku lebih tak karuan..

“mm.. ah, eotteokkae..” kesalnya dan memalingkan wajahnya

Aku menunggu apa yang akan dia bicarakan, aku memutuskan untuk bicara juga, dia membalikkan wajahnya lagi kearahku..

“johgi..” kata kami bersamaan

Kami pun langsung terdiam..

“w-wae?” tanyanya

“ani, kau duluan..” jawabku

“aniyo..”

“a-aniya, yeoja duluan..”

Setelah beberapa detik terdiam, dia melihatku aku pun melihatnya.. matanya terlihat malu namun yakin..

“itu, bisakah kita berbicara dengan akrab? Maksudku, bisakah kita bicara dengan informal..”

Aku terdiam mendengar kata-katanya, aku melihat matanya yang takut-takut kalau dia mengucapkan kata yang salah..

Aku tersenyum, “geureom, Hyosun-ah..” jawabku dan membuatnya kaget namun bahagia “bukankah aku sudah berbica seperti itu denganmu dari kemarin?” sambungku

“jinjja? Hehe, berarti aku saja yang tidak begitu” dia tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal “mm, gumawo, oppa..” sambungnya

Tiba-tiba jantungku berdetak kencang mendengarnya memanggilku ‘oppa’, rasanya tanganku ingin memegang wajah kecilnya yang sangat manis, namun aku menolak semua gejolak itu

 

***

“oppa!”

“ne?” aku menoleh kesumber suara, terlihat raut wajah Hyosun yang bingung, aigoo lucunya..

“mm, boleh ku tanya umurmu berapa?” tanyanya

“hng? Umurku? Geureom, umurku 21 tahun ini..”

“jinjja? Memangnya kapan kau ulang tahun kapan oppa?”

“23 maret..”

“jinjja!?”

“wae?”

Dia hanya terdiam, aku melihat wajahnya hanya tersenyum kecil, aku mulai mencurigai gerak-geriknya..

“waeyo?” tanyaku

Dia hanya menggeleng dan melihat ku dengan senyumnya yang manis

“rahasia..” katanya

Aku hanya tersenyum mendengarnya dan mengacak-acak rambutnya, sepertinya dia akan membuat kejutan untuk ku, aigoo..

 

-bersambung

 

Holla reader yang baik~ yuhu~ *lambai-lambai*

Keukeu, sesuai janji saya, ini nih ff-nya.. baru part 1 nih, buetnya udah semangat eh tau2 macet, jadi aku posting dulu deh..

Huft~ Reader yang baik.. kasih comment dong, kritik or saran juga boleh, huhu.. T_T aku gak semangat nih buatnya kalo gak ada masukan sama sekali, comment kalian memengaruhi ff ku *cie* *cih lebay lu gay*

Okok~ Eh udah ketauan tau! di stat blog aku aku gak tau siapa, ada kok yang baca ff aku.. T__T aku sedih loh sedih. *sumpah lo ngalay gay*

Okok lagi, comment ya? Hehe.. *maksa*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s