-FF- Rain Sound (One Shot)

rain sound

 

Annyeong~ I’m back again with my ff~ How long since my last ff ‘This Is Our Destiny’? Did you all missing me? No? Alright, ==”

Okke~ Udah lama kan? Nunggu kan? Jujur aja, buktinya ngunjungin terus, haha. Saya kembali dengan ff Him-Sun couple :9.. Karna saya suka couple ini~ Hee,, langsung terlintas di benak aja pengen buat ff tentang couple ini. Mian. Silakan menikmati(?) ya ff saya kali ini. Lagi cobain genre sedih, semoga saya berhasil membuat anda-anda sekalian bersedih, *ea*

Rain Sound..

  • Main Cast            : Kim HimChan (B.A.P), Han SunHwa (Secret)
  • Support Cast      : You can find it yourself, ^^
  • Genre                   : Romance, Sad
  • Author                  : dk1317 a.k.a  GDhia/GDhia1

P.S  : This is just FF and my other imagine, don’t be plagiat and other that god and I don’t like, and please don’t be silent readers, please leave some comment~

 

Happy Reading~

***

Ingin menangis tapi tidak dapat menangis. Kau tahu bagaimana rasanya?

Dan ketika kau mulai akan menangis, kau di pertemukan oleh takdirmu. Kau tahu bagaimana rasanya?

***

Himchan POV

Ku langkahkan kakiku pergi meninggalkan kursi taman kota Seoul. Melihat-lihat suasana sore hari ini sangat ramai dipenuhi para penduduk yang sedang berjalan-jalan. Mataku melihat sosok seorang yeoja cantik mengenakan terusan berwarna cream, rambutnya panjang bergelombang. Dia tersenyum memandangi langit sore hari sambil memegang tasnya yang berwarna senada.

Jantungku langsung berdegup kencang seakan-akan sedang melihat malaikat turun. Ku beranikan diriku untuk menyapa yeoja tersebut.

“johgi..”

Yeoja itu menoleh sambil memperlihatkan wajah bingungnya, lalu sesaat kemudian tersenyum dengan manisnya..

“ne?” tanyanya ramah

Aku terdiam sesaat, terpesona akan kecantikan yeoja yang berada di depanku saat ini.

“a-annyeonghaseyo. Apakah kau sendirian?” tanyaku dengan gugup

Dia terlihat ragu dengan pertanyaan ku lalu tertawa kecil, “apakah aku terlihat seperti sendirian?” dia balik bertanya padaku

“ka-kalau begitu, apakah kau bersama pacarmu?”

“ani..”

“lalu, kau bersama ibumu?”

Dia menggeleng, aku bingung sebenarnya dia bersama siapa..

“babo, aku ini sedang bersamamu. Apakah sekarang aku terlihat seperti sendirian ha?”

Aku terkejut sesaat dengan pernyataannya. Benar juga kata yeoja ini, dia tadi memang sendirian, tapi sekarang dia bersamaku.

“ahaha,, jwiseonghamnida..” kataku sambil tersenyum kecil

“siapa namamu? Sepertinya kau orang yang menarik..”

“aku? Kim Himchan. Kalau kau sendiri?”

“Han Sunhwa. Bangawoyo..” dia menjulurkan tangannya

Aku menatap tangannya diam, sambil sesekali menatapnya..

“hei, tidak mungkin kau tidak tahu cara bersalaman kan?” tayanya sambil tertawa kecil

Aku ikut tertawa lalu menjabat tangannya. Namun, tiba-tiba saja tangannya langsung terlepas dengan lemas. Dia terkejut sesaat sambil memegangi tanggannya.

“waeyo?” tanyaku

“a-aniya..”

Dia tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya. Aku terus menatap tangan yang dipegang erat olehnya itu. Ada apa? hanya itu yang ingin kutahu.

 

***

“jalke Himchan-ah. Besok bertemu lagi ya disini jam 3 sore..”

“eo..”

Aku berbalik pergi menjauhinya. Kuambil handphoneku dari saku jeans. Aku berhenti sesaat lalu berbalik kearah Sunhwa.

“Sunhwa-ssi!”

Dia menoleh dan tersenyum kecil, “wae?”

“bo-boleh aku minta nomor handphone mu?”

Dia menatapku sesaat lalu mengambil handphone dari tasnya.

“minta handphonemu..”

Aku memberikannya handphone-ku. Dia menekan beberapa angka dan menekan tombol telpon. Sesaat kemudian, handphone-nya berbunyi..

“ini nomor handphone-ku, aku juga sudah dapat punyamu..”

“kamsahaeyo..”

Dia tersenyum lalu tiba-tiba cemberut..

“w-waeyo?” tanyaku

“ya! Tidak bisakah kau berbicara informal denganku. Aku tidak terlalu suka bicara formal dengan orang yang seumuran denganku..”

“a-arasseo..”

“hm, gitu dong.. jalke, himchan-ah..”

Dia berjalan menjauhiku sambil melambai tangannya. Dari kejauhan, lagi-lagi dia memegang erat tangannya. Sebenarnya ada apa?

 

***

“aku pulang..”

“TIDAK KAH KAU MENGERTI MENGAPA AKU MENANGIS HAH! TIDAKKAH KAU MENGERTI ITU..”

Aku berjalan masuk kedalam rumah mendapati suara teriakan ibu dari ruang keluarga. Ku paksakan kakiku berjalan melewati ruangan tersebut.

“AKU SUDAH BILANG PADAMU ITU SALAH PAHAM!! JUSTRU KAU YANG TIDAK MENGERTI!”

Teriakan ayah dan ibu sudah menjadi hal yang biasa untukku. Mereka selalu berkelahi, tidak ada ujungnya lagi. ku langkahkan kakiku menuju lantai dua.

Di depan sana merupakan kamar nunaku.

‘tok tok tok’ “nuna..”

Tak ada jawaban dari nuna, karenanya aku langsung membuka pintu kamarnya. Dia terlihat sedang menunduk sambil memegangi headphone yang ada ditelinganya yang ku yakini saat ini dia sedang menangis. Ku biarkan dia menangis dan aku pergi menuju kamarku.

Sesampainya di kamar, aku langsung terbaring lemas. Suara ayah dan ibu masih saja terdengar, bahkan lebih besar dari pada yang tadi. Tidakkah mereka malu dengan tetangga yang lain? Tidakkah mereka sadar kalau tetangga yang lain mungkin akan terganggu?

Aku meraba-raba seluruh daerah tempat tidurku, mencoba mencari headphone. Setelah ku temukan, langsung ku pasang ke ipod ku dan kuputar lagu yang sangat kusukai. Dengan volume besar aku mencoba menutupi suara pertengkaran ayah dan ibu dengan suara musik dari ipod ku. Ku pejamkan mataku. Dan perlahan, air mataku mengalir.

 

***

Sunhwa POV

Hari ini, aku akan bertemu lagi dengan namja yang bernama Kim Himchan itu. Sepertinya dia orang yang asyik, aku jadi penasaran dengannya.

Tidak kusangka aku datang ke taman sedikit lebih cepat dari jam janjianku dengan Himchan, seperti bukan diriku saja. Aku mencari-cari tempat duduk kosong dan akhirnya ku temukan. Aku pun duduk di kursi itu dan akan mendengarkan musik agar aku tidak terlalu bosan saat menunggu Himchan.

Aku mengambil hanphone-ku dan headset ku dari dalam tas. Tiba-tiba saja tanganku lemas dan bergetar. Aku mengenggam kuat tanganku dan mencoba agar tidak bergetar lagi.

“kumohon berhentilah..” bisikku dengan lirih

Setelah beberapa menit, akhirnya getaran itu hilang. Aku langsung mengambil hanphoneku dan mendapati beberapa pesan masuk.

 

From: Himchan

Kau sudah datang? Mungkin aku akan sedikit terlambat.

 

Saat ku pandangi jam, ternyata sudah jam 3 lewat, aku menghela nafas dan membalas pesan Himchan.

 

To: Himchan

Gwenchana. Aku akan menunggu.

 

Akhirnya, sambil menunggu aku mendengarkan musik lewat hanphone-ku sambil menikmati pemandangan di depanku.

 

***

“mian, aku terlambat. Apakah kau sudah menunggu dari tadi?” Tanya Himchan

Aku merengut kesal lalu berdiri dari kursi dan melihat jam di tanganku.

“ini sudah jam berapa. Kau benar-benar lama. Memangnya apa yang kau lakukan?”

Dia terlihat bersalah, “tadi, bos di tempatku kerja sambilan mendadak sakit, jadi aku harus mengurusnya dulu..”

“arasseo, sebagai gantinya kau traktir aku..”

Dia terkejut lalu tersenyum, “oke..”

 

***

Entah kenapa, pergi ke taman sore-sore seperti sebuah kebiasaan untukku sejak bertemu dengan Himchan. Sudah tiga bulan kami saling mengenal. Dan dia juga yang telah membuatku nyaman selama ini. Yang membuatku melupakan semua rasa kesakitan ini.

“Sunhwa-ah..” panggil ibuku

Aku menoleh dan mendekati ibu, “ne eomma?”

“hari ini mau ke taman lagi?”

“eo..”

Ibu menghela nafas sesaat lalu mengenggam tanganku, “bagaimana kalau hari ini kita periksa kesehatanmu? Besok saja kau kesana lagi, eo?”

Aku terdiam mendengar permintaan ibu. Aku tidak mau diperiksa, jika diperiksa sama saja membuatku sakit hati dengan hasil-hasil yang tak meng-enakkan itu. Tapi, mau bagaimana lagi, aku harus diperiksa kan?

“arasseo..”

Ibu tersenyum lalu menciumi keningku dan meninggalkanku. Aku mengambil handphone dan memberi pesan kepada Himchan.

 

To: Himchan

Mianhae, hari ini aku tidak ke taman.

 

Setelah ku kirim, aku mengganti pakaianku bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ku turuni anak tangga di rumahku, tiba-tiba saja badan ku langsung melemas, pandangan mataku buyar, semuanya menjadi gelap..

‘bruk’ aku terjatuh lemas, sayup-sayup terdengar suara teriakan ibu. Tak lama kemudian, aku tak dapat mendengar apapun, tak dapat melihat apapun.

 

***

Suara hujan? Aku dimana? Kenapa aku hanya bisa mendengar suara hujan? Kenapa semuanya gelap?

Aku berjalan menyusuri ruangan gelap itu. Mencoba mencari sudut di ruangan ini. Secara tiba-tiba, ada bayangan seseorang yang tak berada jauh dari hadapanku, disinari cahaya putih dan hujan membasahinya.

Bayangan tersebut adalah bayangan seorang namja, dia terlihat sedang menunggu seseorang. Semakin ku perhatikan, bayangan tersebut semakin jelas, dan semakin ku percayai, itu adalah Himchan.

Tiba-tiba saja aku teringat Himchan. Aku harus kembali ke duniaku dan pergi menemui Himchan, dan katakan padanya bahwa aku baik-baik saja.

Aku berlari menyusuri ruangan tersebut, namun tetap saja tidak dapat ku temukan satu sudut pun. Kenapa? Kenapa aku tidak bisa keluar? Aku ingin keluar, aku ingin melihat Himchan.

Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dan membuat seluruh ruangan tersebut menjadi putih, penghilatan ku pun terganggu. Tapi, cahaya tersebut terus menerang membuat ruangan dan penglihatanku semakin silau.

 

***

“… dok? Jadi, anakku sakit apa?”

Itu, bukankah itu suara ibu?

“kita harus memeriksa lebih lanjut. Jadi, dia harus menjalani beberapa tes. Tesnya akan dimulai ketika dia sudah siuman..”

Suara siapa itu? Aku tidak mengenal suara itu..

Perlahan aku mendengar isak tangis ibu.

Kenapa ibu menangis? Aku ingin melihat ibu, kenapa ibu menangis?

Ku paksakan mataku terbuka namun tetap tak bisa terbuka. Dan setelah aku menyerah, akhirnya mataku dapat kubuka walau dengan perlahan.

Rasanya semua cahaya masuk secara tiba-tiba. Aku memejamkan mataku lalu membukanya lagi, mencoba untuk tidak membiarkan cahayanya masuk secara langsung. Terlihat wajah dongsaeng dan ayahku ketika aku membuka mata.

Aku tidak kenal tempat ini, atap yang sangat tidak ku kenal. Keperhatikan disekitarku. Jendela, sofa, meja, bahkan kasur ini bukan punyaku. Setelah ku sadari sebuah selang infuse tersambung ke tanganku.

Ah, aku berada di rumah sakit ya? Berarti, sakitku sudah parah.

Ibu menghampiriku dan mengenggam tanganku erat.

“gwenchana Sunhwa-ah..”

Aku terpaksa tersenyum dan berharap kalau ini akan benar baik-baik saja.

 

***

Himchan POV

Setelah pesan terakhir dari Sunhwa, aku sama sekali tidak mendapat kabar apapun darinya, sudah seminggu sejak pesan tersebut. Ada apa dengannya? Apakah ini ada hubungannya dengan tangannya yang bergetar itu?

Ku pegangi handphone-ku dan berharap mendapat pesan masuk dari Sunhwa. Namun hasil yang ku harapkan nihil. Tidak ada satu pun pesan dari Sunhwa. Aku memandangi langit sore di taman kota Seoul. Jika melihat langit sore ini, aku teringat kembali dengan Sunhwa.

Akhirnya ku putuskan untuk mengirim pesan untuk Sunhwa.

 

To: Sunhwa Baca lebih lanjut

Iklan

Kunjungan LABSKY ke SPENDOE Sungailiat – Part 3 (END)

labsky3

Okke, aku lanjutin yang kemarin ya^^

Hari Jum’atnya jadwal kita tuh City Tour. Sebelum pulang dari sekolah, kita ada sesi foto-foto sama temen-temen sekelas. Pas keluar, ada adik kelas yang minta tanda tangan mereka. Gila, bener-bener serasa dateng artis. Ckck..

Pulangnya kita naik angkot, kebetulan Jihan pengen main ke rumah. Sampe rumah kira-kira jam setengah 12, Irvi sama Jihan ke kamar mandi. Aku jadi agak enggak ada kerjaan. Terus, gantian aku yang di kamar mandi buat mandi. Terus, rencananya jam 1 itu kita pengen ke rumah Nadia. Tapi, setelah dipikir-pikir, lebih enak langsung ke sekolah aja, jadi kita putusin buat langsung ke sekolah. Di sekolah, yang lainnya pada les, sedangkan kita nunggu temen yang lain. Aku, Irvi sama Jihan datengnya kecepetan. Haha..

Terus, Fayza, Lila sama Shafa dateng. Shafa bawa bola basket, haha. Terus, yang lain datengnya gak lama setelah Lila sama Shafa dateng. Ngeliatin bola basket, semuanya jadi pengen main basket. Mereka larian ke lapangan basket terus main basket ^^.

ady

satria

Foto diatas fotonya Ady yang pengen nge-shoot, dan Satria yang udah nge-shoot. Baca lebih lanjut

Kunjungan LABSKY ke SPENDOE Sungailiat – Part 2

labsky2

 

 

Nah, aku bakal lanjutin yang kemarin.

Besoknya, pas hari selasa, kita dapet kabar kalo Jihan sakit, jadi dibilangin pengen jenguk Jihan. Kita juga dapet kabar kalo Rani galau, jadinya Ibu Juju minta ke Pak Iwan agar eskul hari itu diliburkan buat ngejenguk Jihan dan ngehibur Rani. Ternyata Pak Iwan menerima tawaran Ibu Juju. Pas pulang sekolah kita langsung kerumah Fayza dimana Jihan home stay. Kita nyater satu angkot, angkot 88 yang biasanya aku sama Anis langganan, tapi sekarang kita langganannya angkot 82 (gak ada yg nanya). Kita bersempit-sempitan di dalem angkot itu. 14 orang di dalem angkot + supir angkot. Adi sama Satria duduk di depan, yang lain di belakang. Supir tentu saja di depan.

Rumah Fayza agak jauh dari sekolah, rumahnya di Kampung Jawa. Om angkotnya agak kelewat dikit rumahnya Fayza, tapi mundur lagi. Eh, kelewatan lagi, jadi maju dikit lagi. Kita masuk ke rumah Fayza, Jihan katanya sakit tenggorokan dan agak pusing. Jadi kita diem bentar, terus solat, lalu diajakin Bu Juju makan di Raja Laut. Alhasil, kita ke Raja Laut dan Jihan juga ikut. Jadi di angkot nambah satu orang lagi, jadi di dalem itu 15 orang + supir angkot.

Saat sampe Raja Laut yang lama, kita duduk terus Ibu Juju memesan makanannya. Si Fauzan sama Riski ngambil tutup botol buat main ‘rujak’, BUANYAK BUANGET. ‘mungkin’ tanpa sepengetahuan Fauzan, aku ngewakaf 5 tutup botol atau satu rujak, wkwkwkw.. XD terus, Satria, Adi, Riski sama Fauzan main rujak, kita cuma ngeliatin dan akhirnya malah tertarik.

Pulang dari Raja Laut, aku sama Irvi sampe rumah jam setengah 4. Kita mandi, dan tadi sih rencananya pengen ke rumah Nadia, tapi pas aku sms Anis, dia ngajak ke pantai. Ya udah kita ikut deh ke pantai. Sampe di pantai kira-kira jam 5 lewat, anginnya kenceng banget. Rasanya pengen melayang *bo’ong*, tapi emang kenceng banget, enak, tapi dingin.. Brr,, aku aja sampe kedinginan.. Haha.. XD

 

matras

 

Ini salah satu dari foto-foto di pantai matras, yang motoin itu Nadia. Maaf nad~

Nah, hari rabunya. Pulang sekolah kita diajak Mamanya Fauzan makan di Raja Laut yang baru alias yang jauh. Mamanya Fauzan memesan cukup banyak, tapi pas lah buat kita-kita. Hehe, makasih tante^^

Sehabis makan kita masih ada sedikit waktu, jadi kita main bekel dulu di sana, setelahnya kita ke Mesji Al-Ittidah kalo gak salah, untuk solat Dzuhur. Setelah itu kita diajak ke NOVILLA, dalam perjalanan, Lila, Irvi, Rani, sama Fanny ngebahas pelajaran bahasa inggris dari Miss Farida tentang Recoun Text, mereka bahas kelucuan temen-temen yang lain tentang bahasa inggrisnya, haha.. XD Unforget Table, I hope Like it dengan nada aneh, I will ’til’ you, dan sebagainya yang buat kita ngakak gak berenti di dalem mobil. Aku dapet julukan ‘TRIDI’ dari mereka, ahaha.. XD

Sampe di Novilla, kita ngeliat tambak dulu bentar, ada akuarium kecil di sana, aku tertarik banget sama ikan-ikan yang lucu dan super imut di dalem akuarium itu, imuuut!! ><

Terus kita keliling-keliling. Ketemu lapangan basket yang juga sekaligus lapangan futsal, Fauzan dan yang lainnya mulai beraksi, sampe-sampe bola bekelnya Anis jadi sasaran. Setelah itu kita dikagetin sama aksi Fauzan, Riski sama Ady yang muter-muter dipermainan apa gitu, ih gila.. Ngeliatnya aja udah pusing, apa lagi ngerasain. Ady aja sampe mual-mual, dianya pusing tambah pusing. Tapi, si Anis tahan banting. Ih Anis tanda kutip “” ah, dia udah 5 kali muter tapi reaksinya cuma sedikit, yang lain pada mual. Ckckck..

Terus jam 3 lewat kita kembali ke sekolah buat eskul. Sesampainya di sekolah, semuanya pada K.O alias mabok, wkwkwkwk. Terus hujan lebat, hii dingin. Kita nungguin Kak Manca yang belum dateng, sampe kurang lebih jam 4 lah. Kita ke serba guna tapi sayangnya mati lampu, jadi kita ke kelas 9D. Disana kita belajar tari Dambus.

Terus, hari Kamisnya. Hari kamis itu, dari pulang sekolah kita langsung latihan tari Dambus lagi. Sampe kira-kira setengah dua. Pulang dari latihan tari Dambus kita main ke rumah Riski. Di rumah Riski, aku, Anis, sama Fayza main bekel, yang lain main kartu, main tepuk nyamuk. Haha..

Terus kita ngumpul di kamarnya Riski bercerita ini dan itu. Saat Anis nelpon Mamanya tapi enggak diangkat, dia bilang mungkin Mamanya lagi ngelayat, aku tanyain ngelayat siapa, dia bilang Almarhumah Yodhea. Si Nadia sama Riski jadi ikut-ikutan, katanya dia meninggal ditempat, tapi ceritanya agak berbeda. Terus yang buat si Nadia merinding itu ceritanya Riski, saat hari dimana Almarhumah meninggal, dia nge-add FB-nya Riski, dan itu sukses membuat Nadia merinding dan Anis sama aku gak percaya.

 

Okke, part 2 sampe di sini aja ya, besok kita sambung lagi part 3 ^^

Kunjungan LABSKY ke SPENDOE Sungailiat – Part 1

labsky

Seminggu yang lalu, 7 murid labsky dateng ke bangka. Mereka adalah Lila, Irvi, Ady, Fanny, Rani, Jihan, dan Satria di dampingi Bu Juju.

Selama di Bangka, mereka pengennya Home Stay, jadi satu per satu murid labsky bakal nginep di rumah satu per satu murid spendoe. Yang ke pilih rumahnya yang bakal di tinggalin mereka itu, Shafa, aku, Riski, Nadia, Anisa, Fayza, sama Fauzan. Awalnya kita belum tahu siapa yang bakalan di rumah kita, jadi kata Bapak Iwan (kepala Spendoe Sungailiat) kita cabut lot aja, jadi adil. Akhirnya, Aku dapet Irvi, Shafa dapet Lila, Riski dapet Ady, Nadia dapet Fanny, Anisa dapet Rani, Fayza dapet Jihan, dan Fauzan dapet Satria.

Mereka dateng ke Bangka tuh sebenernya hari sabtu tanggal 2 Maret. Tapi mereka di Pangkal Pinang dulu nginep di rumah tantenya Fanny. Minggunya mereka dateng ke Sungailiat sampenya jam 15.15 WIB. Kita sebagai ‘buddy’ jemputin mereka di sekolah bareng sama ortu. Aku datengnya agak terakhir soalnya nungguin ortu yang emang ‘agak’ lama solatnya. Pas dateng ke sekolah, hal pertama yang aku lihat, koper mereka yang bertumpuk. Okke, maaf.

Waktu masuk ke ruang kepala sekolah, tiba-tiba jantung dag-dig-dug gitu. Pertama ngeliat mereka ‘speechless’. Hahaha,, gak tahu kenapa. Lalu salam-salam sama mereka, ngeliat Satria sama Ady tinggi banget jadi agak ‘minder’. Aku disuruh duduk di tengah sama pak Iwan, katanya tempat duduk special buat aku, TAPI hanya diem aja gak ngomong apa-apa pas aku duduk di situ! Uhuk-uhuk..

Selama rapat kecil kecil-an.. Aku dikagetin sama ringtone hape (B.A.P – One Shot). Sekali ngeliat ternyata Meti nelpon. Kata-kata yang terlintas di otak itu cuma “Asem, jangan nelpon kenapa” terus aku matiin telponya. Eh asemnya lagi, malah nelpon lagi. 3 kali nelpon aku matiin. Maaf kawan. Terus si Fanny kalo gak salah bilang, “jawab aja gak papa..” terus aku jawab, tapi gak kedenger, MIRIS! terus aku matiin, eh nelpon lagi. Akhirnya pas diangkat itu agak-agak kedengeran ternyata yang nelpon itu Tari cuma pengen nanyain “ka dimane?” “lah sampe lom?” “kapan pulang..” zzzz…

Emm, okke. Pas sampe rumah, aku sama Irvi tuh ‘awkward’ banget, gak tahu musti ngomong apa.. T_T (derita org yang gak mudah bergaul).

Nah, udah. Pas hari pertama mereka di spendeo, semua mata menatap mereka. Serasa deteng artis.. Haha.. Terutama si Satria sama Ady. Entah kenapa hari pertama langsung jadi topik ‘panas’ di spendoe, banyak yang mintain nomor handphone, mintain nama twitter, mintain pin BB, banyak yang naksir padahal mereka udah punya cewe, kasian.. haha..

Nanyain ke yang lain gimana semalem, jawabannya hampir sama, “enggak ngomong apa-apa..” satu sinyal dapet, GAWAT. Pulang sekolah naek angkot, dibayarin Irvi. Padahal enggak apa-apa kok. Pulang, makan, nonton bentar pergi ke sekolah lagi buat eskul. Hari itu jadwalnya senam bangka. Terus pulangnya main ke rumah Riski. Pulangnya jalan kaki, Anisa sama yang lain katanya di’plototin’ sama anjing, hahaha.. XD

Nah, part 1 udah selesai, gak tahu lagi musti ngomongin apa.. haha, sampe jumpa di part 2~