-FF- Rain Sound (One Shot)

rain sound

 

Annyeong~ I’m back again with my ff~ How long since my last ff ‘This Is Our Destiny’? Did you all missing me? No? Alright, ==”

Okke~ Udah lama kan? Nunggu kan? Jujur aja, buktinya ngunjungin terus, haha. Saya kembali dengan ff Him-Sun couple :9.. Karna saya suka couple ini~ Hee,, langsung terlintas di benak aja pengen buat ff tentang couple ini. Mian. Silakan menikmati(?) ya ff saya kali ini. Lagi cobain genre sedih, semoga saya berhasil membuat anda-anda sekalian bersedih, *ea*

Rain Sound..

  • Main Cast            : Kim HimChan (B.A.P), Han SunHwa (Secret)
  • Support Cast      : You can find it yourself, ^^
  • Genre                   : Romance, Sad
  • Author                  : dk1317 a.k.a  GDhia/GDhia1

P.S  : This is just FF and my other imagine, don’t be plagiat and other that god and I don’t like, and please don’t be silent readers, please leave some comment~

 

Happy Reading~

***

Ingin menangis tapi tidak dapat menangis. Kau tahu bagaimana rasanya?

Dan ketika kau mulai akan menangis, kau di pertemukan oleh takdirmu. Kau tahu bagaimana rasanya?

***

Himchan POV

Ku langkahkan kakiku pergi meninggalkan kursi taman kota Seoul. Melihat-lihat suasana sore hari ini sangat ramai dipenuhi para penduduk yang sedang berjalan-jalan. Mataku melihat sosok seorang yeoja cantik mengenakan terusan berwarna cream, rambutnya panjang bergelombang. Dia tersenyum memandangi langit sore hari sambil memegang tasnya yang berwarna senada.

Jantungku langsung berdegup kencang seakan-akan sedang melihat malaikat turun. Ku beranikan diriku untuk menyapa yeoja tersebut.

“johgi..”

Yeoja itu menoleh sambil memperlihatkan wajah bingungnya, lalu sesaat kemudian tersenyum dengan manisnya..

“ne?” tanyanya ramah

Aku terdiam sesaat, terpesona akan kecantikan yeoja yang berada di depanku saat ini.

“a-annyeonghaseyo. Apakah kau sendirian?” tanyaku dengan gugup

Dia terlihat ragu dengan pertanyaan ku lalu tertawa kecil, “apakah aku terlihat seperti sendirian?” dia balik bertanya padaku

“ka-kalau begitu, apakah kau bersama pacarmu?”

“ani..”

“lalu, kau bersama ibumu?”

Dia menggeleng, aku bingung sebenarnya dia bersama siapa..

“babo, aku ini sedang bersamamu. Apakah sekarang aku terlihat seperti sendirian ha?”

Aku terkejut sesaat dengan pernyataannya. Benar juga kata yeoja ini, dia tadi memang sendirian, tapi sekarang dia bersamaku.

“ahaha,, jwiseonghamnida..” kataku sambil tersenyum kecil

“siapa namamu? Sepertinya kau orang yang menarik..”

“aku? Kim Himchan. Kalau kau sendiri?”

“Han Sunhwa. Bangawoyo..” dia menjulurkan tangannya

Aku menatap tangannya diam, sambil sesekali menatapnya..

“hei, tidak mungkin kau tidak tahu cara bersalaman kan?” tayanya sambil tertawa kecil

Aku ikut tertawa lalu menjabat tangannya. Namun, tiba-tiba saja tangannya langsung terlepas dengan lemas. Dia terkejut sesaat sambil memegangi tanggannya.

“waeyo?” tanyaku

“a-aniya..”

Dia tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya. Aku terus menatap tangan yang dipegang erat olehnya itu. Ada apa? hanya itu yang ingin kutahu.

 

***

“jalke Himchan-ah. Besok bertemu lagi ya disini jam 3 sore..”

“eo..”

Aku berbalik pergi menjauhinya. Kuambil handphoneku dari saku jeans. Aku berhenti sesaat lalu berbalik kearah Sunhwa.

“Sunhwa-ssi!”

Dia menoleh dan tersenyum kecil, “wae?”

“bo-boleh aku minta nomor handphone mu?”

Dia menatapku sesaat lalu mengambil handphone dari tasnya.

“minta handphonemu..”

Aku memberikannya handphone-ku. Dia menekan beberapa angka dan menekan tombol telpon. Sesaat kemudian, handphone-nya berbunyi..

“ini nomor handphone-ku, aku juga sudah dapat punyamu..”

“kamsahaeyo..”

Dia tersenyum lalu tiba-tiba cemberut..

“w-waeyo?” tanyaku

“ya! Tidak bisakah kau berbicara informal denganku. Aku tidak terlalu suka bicara formal dengan orang yang seumuran denganku..”

“a-arasseo..”

“hm, gitu dong.. jalke, himchan-ah..”

Dia berjalan menjauhiku sambil melambai tangannya. Dari kejauhan, lagi-lagi dia memegang erat tangannya. Sebenarnya ada apa?

 

***

“aku pulang..”

“TIDAK KAH KAU MENGERTI MENGAPA AKU MENANGIS HAH! TIDAKKAH KAU MENGERTI ITU..”

Aku berjalan masuk kedalam rumah mendapati suara teriakan ibu dari ruang keluarga. Ku paksakan kakiku berjalan melewati ruangan tersebut.

“AKU SUDAH BILANG PADAMU ITU SALAH PAHAM!! JUSTRU KAU YANG TIDAK MENGERTI!”

Teriakan ayah dan ibu sudah menjadi hal yang biasa untukku. Mereka selalu berkelahi, tidak ada ujungnya lagi. ku langkahkan kakiku menuju lantai dua.

Di depan sana merupakan kamar nunaku.

‘tok tok tok’ “nuna..”

Tak ada jawaban dari nuna, karenanya aku langsung membuka pintu kamarnya. Dia terlihat sedang menunduk sambil memegangi headphone yang ada ditelinganya yang ku yakini saat ini dia sedang menangis. Ku biarkan dia menangis dan aku pergi menuju kamarku.

Sesampainya di kamar, aku langsung terbaring lemas. Suara ayah dan ibu masih saja terdengar, bahkan lebih besar dari pada yang tadi. Tidakkah mereka malu dengan tetangga yang lain? Tidakkah mereka sadar kalau tetangga yang lain mungkin akan terganggu?

Aku meraba-raba seluruh daerah tempat tidurku, mencoba mencari headphone. Setelah ku temukan, langsung ku pasang ke ipod ku dan kuputar lagu yang sangat kusukai. Dengan volume besar aku mencoba menutupi suara pertengkaran ayah dan ibu dengan suara musik dari ipod ku. Ku pejamkan mataku. Dan perlahan, air mataku mengalir.

 

***

Sunhwa POV

Hari ini, aku akan bertemu lagi dengan namja yang bernama Kim Himchan itu. Sepertinya dia orang yang asyik, aku jadi penasaran dengannya.

Tidak kusangka aku datang ke taman sedikit lebih cepat dari jam janjianku dengan Himchan, seperti bukan diriku saja. Aku mencari-cari tempat duduk kosong dan akhirnya ku temukan. Aku pun duduk di kursi itu dan akan mendengarkan musik agar aku tidak terlalu bosan saat menunggu Himchan.

Aku mengambil hanphone-ku dan headset ku dari dalam tas. Tiba-tiba saja tanganku lemas dan bergetar. Aku mengenggam kuat tanganku dan mencoba agar tidak bergetar lagi.

“kumohon berhentilah..” bisikku dengan lirih

Setelah beberapa menit, akhirnya getaran itu hilang. Aku langsung mengambil hanphoneku dan mendapati beberapa pesan masuk.

 

From: Himchan

Kau sudah datang? Mungkin aku akan sedikit terlambat.

 

Saat ku pandangi jam, ternyata sudah jam 3 lewat, aku menghela nafas dan membalas pesan Himchan.

 

To: Himchan

Gwenchana. Aku akan menunggu.

 

Akhirnya, sambil menunggu aku mendengarkan musik lewat hanphone-ku sambil menikmati pemandangan di depanku.

 

***

“mian, aku terlambat. Apakah kau sudah menunggu dari tadi?” Tanya Himchan

Aku merengut kesal lalu berdiri dari kursi dan melihat jam di tanganku.

“ini sudah jam berapa. Kau benar-benar lama. Memangnya apa yang kau lakukan?”

Dia terlihat bersalah, “tadi, bos di tempatku kerja sambilan mendadak sakit, jadi aku harus mengurusnya dulu..”

“arasseo, sebagai gantinya kau traktir aku..”

Dia terkejut lalu tersenyum, “oke..”

 

***

Entah kenapa, pergi ke taman sore-sore seperti sebuah kebiasaan untukku sejak bertemu dengan Himchan. Sudah tiga bulan kami saling mengenal. Dan dia juga yang telah membuatku nyaman selama ini. Yang membuatku melupakan semua rasa kesakitan ini.

“Sunhwa-ah..” panggil ibuku

Aku menoleh dan mendekati ibu, “ne eomma?”

“hari ini mau ke taman lagi?”

“eo..”

Ibu menghela nafas sesaat lalu mengenggam tanganku, “bagaimana kalau hari ini kita periksa kesehatanmu? Besok saja kau kesana lagi, eo?”

Aku terdiam mendengar permintaan ibu. Aku tidak mau diperiksa, jika diperiksa sama saja membuatku sakit hati dengan hasil-hasil yang tak meng-enakkan itu. Tapi, mau bagaimana lagi, aku harus diperiksa kan?

“arasseo..”

Ibu tersenyum lalu menciumi keningku dan meninggalkanku. Aku mengambil handphone dan memberi pesan kepada Himchan.

 

To: Himchan

Mianhae, hari ini aku tidak ke taman.

 

Setelah ku kirim, aku mengganti pakaianku bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ku turuni anak tangga di rumahku, tiba-tiba saja badan ku langsung melemas, pandangan mataku buyar, semuanya menjadi gelap..

‘bruk’ aku terjatuh lemas, sayup-sayup terdengar suara teriakan ibu. Tak lama kemudian, aku tak dapat mendengar apapun, tak dapat melihat apapun.

 

***

Suara hujan? Aku dimana? Kenapa aku hanya bisa mendengar suara hujan? Kenapa semuanya gelap?

Aku berjalan menyusuri ruangan gelap itu. Mencoba mencari sudut di ruangan ini. Secara tiba-tiba, ada bayangan seseorang yang tak berada jauh dari hadapanku, disinari cahaya putih dan hujan membasahinya.

Bayangan tersebut adalah bayangan seorang namja, dia terlihat sedang menunggu seseorang. Semakin ku perhatikan, bayangan tersebut semakin jelas, dan semakin ku percayai, itu adalah Himchan.

Tiba-tiba saja aku teringat Himchan. Aku harus kembali ke duniaku dan pergi menemui Himchan, dan katakan padanya bahwa aku baik-baik saja.

Aku berlari menyusuri ruangan tersebut, namun tetap saja tidak dapat ku temukan satu sudut pun. Kenapa? Kenapa aku tidak bisa keluar? Aku ingin keluar, aku ingin melihat Himchan.

Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dan membuat seluruh ruangan tersebut menjadi putih, penghilatan ku pun terganggu. Tapi, cahaya tersebut terus menerang membuat ruangan dan penglihatanku semakin silau.

 

***

“… dok? Jadi, anakku sakit apa?”

Itu, bukankah itu suara ibu?

“kita harus memeriksa lebih lanjut. Jadi, dia harus menjalani beberapa tes. Tesnya akan dimulai ketika dia sudah siuman..”

Suara siapa itu? Aku tidak mengenal suara itu..

Perlahan aku mendengar isak tangis ibu.

Kenapa ibu menangis? Aku ingin melihat ibu, kenapa ibu menangis?

Ku paksakan mataku terbuka namun tetap tak bisa terbuka. Dan setelah aku menyerah, akhirnya mataku dapat kubuka walau dengan perlahan.

Rasanya semua cahaya masuk secara tiba-tiba. Aku memejamkan mataku lalu membukanya lagi, mencoba untuk tidak membiarkan cahayanya masuk secara langsung. Terlihat wajah dongsaeng dan ayahku ketika aku membuka mata.

Aku tidak kenal tempat ini, atap yang sangat tidak ku kenal. Keperhatikan disekitarku. Jendela, sofa, meja, bahkan kasur ini bukan punyaku. Setelah ku sadari sebuah selang infuse tersambung ke tanganku.

Ah, aku berada di rumah sakit ya? Berarti, sakitku sudah parah.

Ibu menghampiriku dan mengenggam tanganku erat.

“gwenchana Sunhwa-ah..”

Aku terpaksa tersenyum dan berharap kalau ini akan benar baik-baik saja.

 

***

Himchan POV

Setelah pesan terakhir dari Sunhwa, aku sama sekali tidak mendapat kabar apapun darinya, sudah seminggu sejak pesan tersebut. Ada apa dengannya? Apakah ini ada hubungannya dengan tangannya yang bergetar itu?

Ku pegangi handphone-ku dan berharap mendapat pesan masuk dari Sunhwa. Namun hasil yang ku harapkan nihil. Tidak ada satu pun pesan dari Sunhwa. Aku memandangi langit sore di taman kota Seoul. Jika melihat langit sore ini, aku teringat kembali dengan Sunhwa.

Akhirnya ku putuskan untuk mengirim pesan untuk Sunhwa.

 

To: Sunhwa

Kau sedang apa? Kenapa akhir-akhir ini kau tidak datang ke taman setelah pesan yang kau kirim itu? Aku ingin bertemu denganmu, tidak bisakah?

 

Namun lagi-lagi, pesan itu tidak terkirim sama sekali. Sudah berulang kali aku mengirimnya tapi tidak pernah terkirim satu pun.

Perasaanku tidak enak. Sepertinya ini ada hubungannya dengan tangannya yang bergetar.

‘trrrt, trrt..’ handphone-ku berdering. Yongguk menelponku.

“yeobosaeyo?”

[“Himchan-ah, kau tidak menjenguk Yoseob. Kau tahukan dia sakit..”]

“aku tahu. Sebentar lagi aku kesana. Tunggu aku.”

Ku akhiri percakapanku dengannya dan pergi menuju parkiran.

 

***

Sesampainya di rumah sakit, aku masuk dan menanyai kamar Yoseob dirawat. Setelah diberitahu aku pun menuju ke kamar 107. Saat di jalan aku mendengar suara erangan entah dari kamar mana. Aku mencari suara erangan itu. Ternyata ada pada kamar 80. Banyak sekali suster dan bahkan ada dua dokter di sana.

“sepertinya reaksinya sudah ada..” panic salah satu dokter

Aku hanya dapat menggeleng kecil. Kasihan pasien itu, pasti dia sangat kesakitan.

Aku pergi meninggalkan kamar itu, dan pergi ke laintai atas dimana kamar 107 berada.

 

***

Semenjak tadi aku berada di kamar Yoseob, namun ada yang mengganggu di pikiranku.

“apa sih yang kau pikirkan Himchan-ah?” Tanya Yongguk

Aku menoleh dan mendapati yang lainnya seperti berfikiran yang sama dengan Yongguk.

“kau tidak sedang memikirkan ‘yeoja’mu yang sudah tidak mengkontakmu seminggu ini kan?” Tanya Yoseob dengan nada menggoda

“aniya..” kataku lemas karena terpikiran Sunhwa

“lalu, kau sedang memikirkan apa?”

“kau tahu tidak siapa yang sekarang ada di kamar 80? Aku tadi tak sengaja lewat, dan belum ada nama terpasang di sana. Dia mengerang kesakitan.”

“yeoja?” Tanya Yongguk

“eo..”

“aku juga tadi mendengarnya, dia terus mengerang setiap 30 menit..” kata Jiyoon juga

“aku juga tidak tahu namanya, tapi dia cantik sekali. Aku pernah melihatnya di ruang tes. Sepertinya penyakitnya belum diketahui makanya dia masih menjalani tes. Kalau tidak salah, dia masuk satu minggu yang lalu.” Jelas Yoseob

“hei, kalau sudah masuk satu minggu yang lalu, kenapa hasil tesnya belum keluar? Dan kenapa namanya belum terpasang?” Tanya Jiyoon

“sepertinya dia baru pindah ruangan, kalau tidak salah ruangan yang sebelumnya itu ruang 56..”

Sementara Yoseob menjelaskan, aku hanya terpikir dengan satu perkataan Yoseob. ‘dia masuk satu minggu yang lalu’ itu tepat di saat terakhir kali Sunhwa mengontakku..

“aku pulang dulu..” kataku pamit

“hee? Cepat sekali..”

“mian, nanti aku datang lagi. aku hanya ingin memastikan satu hal saja di perjalanan ku pulang ini..” kataku dan pergi meninggalkan mereka yang kebingungan

Tidak mungkin kalau itu adalah Sunhwa kan?

Aku berlari menuju kamar nomor 80 tadi. Kamarnya kosong. Aku pun berlari kearah meja informasi yang lumayan jauh dari kamar tersebut.

 

***

“johgiyo, boleh aku tahu siapa yang ada di kamar 56?” tanyaku kepada suster yang menjaga meja informasi.

“jamkanman..” “maaf, saat ini kamar 56 kosong..” sambung susternya

“kalau begitu, siapa pasien sebelumnya?”

“jamkanman. Ah, namanya Han Sunhwa..”

‘deg’ rasanya jantungku langsung berhenti berdetak. Sunhwa, jadi kau selama ini berada di rumah sakit?

“ka-kalau pasien kamar 80?” tanyaku lagi mencoba memastikan

“hm, dia Han Sunhwa. Pagi tadi baru pindah kamar..”

‘deg’ Sunhwa-ah, jadi itu tadi kau? Yang mengerang kesakitan?

Aku langsung berlari menuju kamar 80 dan langsung membuka begitu saja pintunya.

Apa yang ku lihat? Apa yang ku lihat di depan mataku ini?

Badanku melemas, mataku menjadi panas. Benarkah yang ku lihat ini Sunhwa?

Di sekitar, aku melihat ayah dan ibunya yang sedikit terkejut dengan kehadiranku.

“nuguya?” Tanya ibunya

“ah, annyeonghaseyo.. Kim Himchan imnida..” jawabku sambil menunduk

Aku kembali melihat Sunhwa, matanya memerah dan berair, sendok yang sebelumnya dia pegang kini terjatuh. Dia menutup mulutnya dan perlahan air matanya mengalir. Aku mendekatinya, ibu dan ayahnya membiarkan ku mendekatinya. Sepertinya mereka tahu.

“Sunhwa-ah..”

Saat ku panggil, air mata Sunhwa semakin deras mengalir. Tanpa ku sadari air mataku juga ikut jatuh. Semakin aku mendekatinya, suara tangisannya semakin membesar.

“Him.. Himchan-ah..” panggilnya teputus-putus

Aku pun memeluknya dengan erat, tangisannya semakin menjadi sehingganya air mata ku pun ikut mengalir dengan derasnya.

“bo-bogoshipeo. Na-an, jinjja bo-bogoshipeo..” isaknya

Aku semakin memeluknya erat, mencoba menenangkannya..

“nado, Sunhwa-ah..”

Saat ini kami menangis bersama, meluapkan rasa rindu selama seminggu ini.

 

***

“sakit apa?” tanyaku sambil menyuapinya makan

“molla, masih dalam pemeriksaan..”

Aku terdiam sejenak sambil menatapi selang infuse yang terpasang di tangannya..

“mani apho?”

Aku menatapnya, dia terlihat bingung lalu melihat selang infusenya dan tersenyum..

“awalnya sakit, kalau sudah terbiasa tidak terlalu sakit..”

Aku langsung memgang tangannya lembut, dan mengusap-usap pelan tangannya..

“gwenchana..” katanya sambil tersenyum yang kuyakini sedang ia paksakan

Aku melirik kearah jam tepat pukul 6 malam. Aku berangkat dari tempat duduk ku dan mulai membereskan barang-barangku.

“sudah mau pulang?” Tanya Sunhwa

“eo, mianhae, besok aku datang lagi..” jawabku sambil merapikan bajuku dan mengusap lembut rambut Sunhwa

“eo, arasseo..”

“eommonim, abeonim.. aku pulang dulu..” pamitku dambit membungkuk kepada orang tua Sunhwa

“eo, hati-hati..”

 

***

Sunhwa POV

Sudah ketahuan ya sudah jalani saja. Aku juga senang kalau Himchan terus berada di sampingku.

Sebenarnya penyakitku sudah diketahui, aku mengidap penyakit leukemia. Padahal selama ini dokter bilang aku hanya sedikit anemia, tapi kenapa bisa jadi leukemia. Aku curiga kalau dokter tempat ku memeriksa itu tidak lulus.

Hari ini begitu saja, Himchan langsung datang dan tanpa ku sadari saat melihatnya air mataku langsung menetes begitu saja. Hanya satu minggu aku tidak bertemu dengannya, aku sudah sangat merindukannya.

“annyeong~”

Ku lihat kearah pintu, terlihat sosok Himchan menggunakan kaus berwarna hijau tua dengan jaket berwarna abu-abu hitam dan jeans hitam dengan sneakers abu-abu hijau lumut. Rambutnya di tata seperti biasa, dengan poninya yang sudah mulai memangjang, dia tersenyum sambil memegang kantong plastic yang kuyakini berisi buah.

Eomma dan appa tersenyum melihat wajah ceria Himchan begitu ia masuk.

“ah, abeonim eommonim, annyeonghaseyo..”

“ne, kau bawa apa Himchan-ah?” Tanya eomma

“ah, igeo, apel dan pir. Hehe, aku tidak tahu kesukaan abeonim dan eommonim jadi aku hanya beli kesukaan Sunhwa saja. Hehe..”

“aigoo, gwenchana. Kami juga suka kok buah apel dan pir..”

“ne. ah matta, Sunhwa-ah..”

Dia langsung berlari kecil kearah ku dengan semangat. Aku tersenyum pelan melihatnya.

“wae?” tanyaku

“ada yang ingin ku berikan, sebenarnya dari dulu ingin ku berikan tapi tidak sempat..”

Dia mencari barang yang ingin dia berikan kepadaku. Dia mencari di saku jaketnya tak ada, di saku jeansnya juga tak ada. Dia memasang wajah yang bingung dan itu membuatnya sangat imut.

“eodiji? Padahal tadi aku mengantonginya. Mm, ah matta! Ku simpan di dalam jok motorku. Ahaha, jamkanman aku ke parkiran dulu..”

Aku tertawa kecil melihat tingkahnya, “eo..”

 

***

Himchan POV

Aai jinjja, kenapa aku bisa lupa kalau aku memasukkan kotak tersebut ke dalam jok motor..

Aku berjalan melewati suster yang sedang mengobrol. Tanpa sengaja aku mendengar percakapan mereka..

“kau sudah dengar pasien kamar 80?”

Kamar 80? Bukannya itu kamar Sunhwa?

“ah, pasien leukemia? Wae?”

Mwo!? Leukemia, bukankah Sunhwa bilang kalau sakitnya belum diketahui? Jangan-jangan tes yang selama ini dilakukan itu sebenarnya pengobatan untuknya?

“katanya dia akan dibawa ke amerika untuk pemeriksaan lebih lanjut..”

“jeongmal? Kenapa harus dibawa ke amerika? Memangnya peralatan disini kurang?”

“loh? Bukannya memang kurang?”

 

“ah matta..”

A-aku, aku tidak salah dengar kan? Ke amerika? Memangnya tidak ada rumah sakit yang peralatannya cukup? Kenapa harus ke amerika?

Aku berjalan lemas kearah parkiran, dari kejauhan motorku sudah kelihatan. Aku berjalan menuju motorku dan membuka jok motorku. Ku temukan sebuah kotak panjang dengan di bungkus kertas kado berwarna pink susu.

Ku tatapi kotak tersebut dengan perlahan air mataku menetes.

“ah, aku ini kenapa sih? gwenchana, hanya ke amerika saja..”

Aku mengambil kotak tersebut, lalu kembali ke rumah sakit.

 

***

Tanpa ku sadari aku sudah sampai di depan kamar Sunhwa. Ku lihat papan nama di samping pintu, terpajang nama Han Sunhwa di sana. Tiba-tiba jantungku sesak mengingat kalau Sunhwa akan pergi ke amerika.

Aku menarik nafas panjang dan tersenyum lalu membuka pintu kamar Sunhwa. Ku lihat Sunhwa tersenyum akan kedatanganku. Senyum itu mungkin untuk sementara nanti tidak dapat kulihat lagi.

“kau lama..” katanya pelan

“mian, aku tadi ke toilet dulu..” bohongku

Aku mendekatinya, kotak tadi ku sembunyikan dibelakangku..

“kau ingin memberikanku apa?” tanyanya penasaran

Aku tersenyum sejenak, “tutup matamu..”

Ketika dia menutup matanya, aku menaruh kotak tersebut tepat di depannya..

“bukalah matamu..”

Ketika dia membuka matanya, dia sedikit terkejut melihat kotak tersebut dan melihatku tak percaya..

“ige mwonde?” tanyanya

“seonmul, kau ingat hari ulang tahunmu kemarin aku tidak memberikan mu apa-apa karena tak tahu. Ini hadiah dari ku untuk itu..”

Dia tertawa kecil, “gwenchana..” katanya pelan

“eei, mana bisa begitu. Maka dari itu, ini untukmu..”

Dia melihatku sesaat lalu mengambil kotak tersebut dan membukanya..

“ya! Ini kalung. Apa tidak kemahalan? Kau dapat uang dari mana, eo?” kagetnya ketika membuka kotak tersebut ternyata berisi kalung

“hehe, gwenchana. Aku menabung dari uang hasil kerja sambilanku, kau tenang saja, aku tidak mencuri..”

Air matanya mengalir, “wae? Kau tidak senang?” tanyaku

“tentu saja aku senang, tapi apakah ini tidak terlalu mahal?”

“ya! Gwenchana..”

“eotteokke..”

Aku mengambil kalung tersebut dan melihat kearahnya..

“mau ku pasangkan?” tanyaku

Dia mengangguk sambil masih menangis. Aku melihat disekelilingku, di sini hanya ada aku dan Sunhwa, aku baru sadar kalau orang tua Sunhwa sudah pergi.

Aku melingkarkan kalung tersebut ke leher Sunhwa. Dia menatapku masih dalam keadaan menangis, aku tersenyum..

“Sunhwa-ah, saranghae. Maka dari itu, cepatlah sembuh agar kita bisa bersama lagi..”

“na-nado saranghae Himchan-ah..”

Saat ini adalah saat yang paling indah untukku. Aku mengungkapkan perasaanku yang selama 3 bulan ini ku pendam.

 

***

Author POV

Sunhwa terkejut mendengar pernyataan dari dokter saat ini, ibu dan ayahnya hanya dapat membungkuk kecil mencoba menahan tangis. Mata Sunhwa mulai memerah dan berkaca-kaca, ia tak sanggup mengatakan apa pun saat ini. Kenyataan begitu pahit diterimanya, dia harus pergi ke amerika? Entah sampai kapan dia harus disana. Dokter meminta kedua orang tua Sunhwa untuk mengikutinya, Sunhwa hanya terdiam sambil terisak. Dia melihat selang infuse di tangannya dan sesekali melihat kearah pintu.

Tiba-tiba ia langsung menarik paksa selang infuse tersebut hingga lepas dari tangannya lalu mengganti bajunya dan keluar dari kamarnya.

 

***

Himchan berlari kencang masuk kedalam rumah sakit. Orang-orang yang berada disana memperhatikannya, dia sudah tak peduli lagi dengan orang-orang yang melihatnya.

Dia membuka pintu kamar Sunhwa dirawat, disana hanya ada ibu Sunhwa yang sedang menangis dan ayahnya yang duduk disamping ranjang sambil melihat baju rawat Sunhwa. Himchan terlihat panik dan bingung. Dia mengambil handphonenya dan berlari keluar.

“Yongguk-ah, kau mau menolongku..”

[“wae? Sepertinya kau sedang panik?”]

“kau bisa bantu aku mencari seseorang, nanti ku kirimkan fotonya, tolong bilang juga ke yang lain, aku mohon padamu, eo?”

[“yeojamu? Kenapa dia?”]

“nanti saja menjelaskannya, ku mohon tolong aku..”

[“eo, serahkan saja pada kami..”]

“gumawo, aku kirim fotonya segera..”

Himchan berlari kearah motornya sambil mengirim foto Sunhwa kepada Yongguk. Setelah sudah terkirim, dia langsung melajukan motornya.

 

***

Sunhwa POV

Ku hirup udara segar di depan jembatan sungai Han. Deru angin dan aliran sungai membuatku mengingat kejadian yang telah ku lalui. Pertama kali aku ke sini, pertama kali aku bertemu dengan teman-teman, pertama kali bertemu dengan Himchan, tiba-tiba saja aku langsung mengingat semuanya. Air mataku mengalir perlahan, aku tersenyum pahit sambil terisak.

Aku akan pergi ke amerika, dan tidak tahu kapan akan pulang. Selama itu, aku tidak dapat lagi melihat Himchan, kenapa aku harus sakit? Kenapa harus leukemia? Kenapa tidak demam biasa saja? Kenapa tidak flu saja? Yang hanya meminum obat dan beristirahat cukup akan sembuh? Kenapa?

Aku tidak ingin berpisah dengan Himchan, aku ingin setiap hari terus melihat senyumnya, melihat candanya. Apakah aku harus pergi ke amerika? Tidak adakah cara yang lain?

Aku menunduk pasrah. Ku tatapi aliran sungai yang mengalir lembut tanpa halangan. Andai saja kehidupanku seperti itu, mengalir lembut tanpa halangan.

“HAN SUNHWA!!”

Aku terkejut dengan suara orang yang meneriaki namaku. Aku menoleh kearah suara, ku dapati Himchan dengan wajah khawatirnya berlari mendekatiku.

“kau kemana saja? Tidakkah kau tahu kami mengkhawatirkanmu!?” kesal Himchan

Air mataku semakin deras mengalir.

“a-aku, aku tidak mau ke amerika..” isakku sambil menunduk kecil

“mwo!?”

Himchan memegang wajahku, “lihat aku!” katanya

Aku melihatnya, melihat kedua matanya yang saat ini terlihat seperti marah kepadaku..

“neo micheonya? Kau pikir aku mau kau ke amerika? Han Sunhwa! Itu demi kesehatanmu! Neon Ara!” kesal Himchan

Aku semakin menangis karenanya. Kali ini dia memelukku erat.

“gwenchana. Jangan khawatirkan aku, kau pergi saja ke amerika, dan sembuhlah agar kita dapat bertemu lagi, eo?” kata Himchan namun kali ini dengan suara lembut

Tangisanku semakin menjadi. Aku membalas pelukannya erat. Aku ingin waktu berhenti sekarang. Aku ingin terus memeluknya, aku tidak ingin melepaskan pelukan ini.

 

***

Himchan POV

“jadi, siapa yeoja cantik ini?” Tanya Yongguk sambil menunjukkan foto Sunhwa

Aku tidak menjawabnya. Dia terlihat kesal dan duduk disampingku.

“yeojamu? Dia kenapa?” Tanya Yongguk lagi

Kali ini aku melihatnya dan melihat disekelilingku. Yoseob dan Jiyoon juga sangat penasaran.

Aku menghela nafas kecil. Karena aku sudah berjanji, mau apa lagi..

“eo, nae yeoja..” jawabku

“jinjja? Wuah daebak, ini kan pasien yang ku ceritakan saat itu, jinjjaro dia yeoja mu?” Tanya Yoseob tak percaya

“eo..”

“daebak..”

Semua terdiam memandangi foto Sunhwa yang ada pada handphone-ku..

“lalu, kenapa saat itu kau meminta kami mencarinya?” Tanya Jiyoon

Aku menghela nafas, “dia kabur karena tidak mau ke amerika..” jawabku

Semua terdiam, sepertinya mereka mengerti kenapa. Aku merasa suasananya menjadi aneh. Ku lihat Yongguk dan yang lainnya kini menatapku dengan tatapan iba.

“wae!?” tanyaku kesal

“auh, uri Himchani..” kata Yoseob pelan sambil mengusap-usap kepalaku

“aigeu..” Jiyoon ikut mengikuti Yoseob

“himnaeyo Chan-ah..” kali ini Yongguk

“ai mwoya!!!?” kesalku dan pergi menjauhi mereka

 

***

“berapa hari lagi kau akan pergi?” tanyaku sambil mengupas kulit apel

“mm,, kira-kira 20 hari lagi..” jawab Sunhwa

Kami hanya diam dan tidak mengeluarkan satu kata pun. Setelah selesai mengupas kulit apel, aku memotongnya dan memberikannya kepada Sunhwa.

Aku melihatnya mengambil potongan apel dengan sedikit bergetar. Hanya melihat itu saja membuat hati ku miris.

 

***

-Hari kepergian SunHwa ke Amerika- (Author POV)

“tak ada yang ketinggalan kan?” Tanya ibu Sunhwa

“sepertinya tidak..” jawab Sunhwa agak lemas sambil melihat kearah pintu, “ini sudah jam berapa eomma?” Tanya Sunhwa

“hm, hampir jam 4 sore..”

“kita berangkat jam berapa?”

“jam 5..”

Sekali lagi Sunhwa melihat kearah pintu menunggu kedatangan Himchan. Ketika pintu terbuka, senyumnya langsung mekar.

“annyeong tuan putri..” sapa Himchan sambil tersenyum

Sunhwa membalas senyum Himchan, “annyeong pangeran..” jawab Sunhwa sambil terkekeh kecil

“siap untuk ke bandara?” Tanya Himchan

“eo..”

“baiklah, mari kita ke bandara~”

 

***

“kenapa jantung ku berdetak kencang sekali ya?” Tanya Sunhwa kepada Himchan

“entahlah, aku juga..” jawab Himchan ketika merasakan hal yang sama

“Sunhwa-ah, kita akan segera berangkat, infuse mu jangan dijalankan dulu untuk sementara..”

“ne eomma..”

Sunhwa melihat Himchan sesaat sebelum masuk ke bandara. Himchan tersenyum dan melambai..

“jaga dirimu Sunhwa..” ucap Himchan agak berteriak

“nado Himchan-ah..”

Sosok Sunhwa telah masuk ke dalam bandara. Himchan berbalik, matanya sedikit memerah karena menahan tangis, namun tiba-tiba jantungnya berdetak kencang..

“ada apa ini? Aku merasakan firasat buruk..” kata Himchan pelan dan berbalik melihat kearah pintu masuk dimana Sunhwa masuk tadi

“hm, tenangkan dirimu Himchan, huft..”

 

***

Himchan membuka pintu rumahnya, terdengar suara ayah dan ibunya yang sedang bertengkar..

“KALAU KAU MAU MINTA CERAI DENGANKU SILAKAN!”

“KENAPA KAU BICARA SEPERTI ITU! SUDAH KU BILANG ITU SALAH PAHAM!

“AKU SUDAH MUAK DENGAN MU! SUDAH JELAS BUKAN!”

Hati Himchan mulai panas, sepertinya perasaan buruk yang dia rasakan adalah karena ayah dan ibunya akan bertengkar lagi..

“HENTIKAN!” teriak Himchan. Ayah dan ibunya terkejut dan melihatnya.

“tidakkah kalian bosan? Selalu bertengkar seperti ini! Kalau pada akhirnya kalian akan bercerai kenapa dari awal kalian tidak usah menikah saja!”

“apa kau bilang!”

‘PLAK!’ tamparan dahsyat melucur di pipi kanan Himchan..

“lihatlah anak mu ini! Sudah mulai kurang ajar!” kesal ayah Himchan

“apa!? Dia juga anakmu tahu!”

Himchan membuka matanya perlahan, di seberang sana dia melihat wajah terkejut nuna-nya..

“nuna..”

Nuna Himchan mendekatinya, “gwenchana? Manhi apho?”

“aniya, gwenchana..”

“eomma, appa.. geumanhae.. geumanharago!”

Ayah dan ibu Himchan menoleh..

“kalian hanya memikirkan perasaan kalian saja, kalian tidak memikirkan perasaan anak kalian, eo? Kalian pikir hanya kalian yang sakit hati? Kalian pikir selama ini aku dan Himchan tidak sakit hati?”

‘plak!’ “nuna!!” teriak Himchan

“jaga bicaramu, kau juga sudah mulai kurang ajar!”

“kenapa kau menampar nuna!” teriak Himchan

“kau.. aish!” ‘plak!’

Sekali lagi ayah Himchan menamparnya

“Himchan-ah! Appa, ku mohon jangan tampar Himchan, tampar saja aku!”

“apa-apaan kau nuna! Aku baik-baik saja! Biarkan aku saja yang ditampar!”

“aniya Himchan-ah!”

Himchan terdiam, dia menarik nunanya dan keluar. Dia menyalakan motornya dan menyuruh nunanya naik. Dia melajukan motornya menuju rumah Jiyoon.

“mianhae Jiyoon-ah, aku titip nunaku..”

Setelah mengantar nunanya ke rumah Jiyoon, dia melajukan motornya dengan kencang sambil menahan tangis. Tiba-tiba saja hujan turun namun Himchan tetap melajukan motornya, tangisnya pecah. Dia menangis sambil kehujanan, tanpa menggunakan helm, dia tetap melajukan motornya. Pandangan matanya menjadi samar dan..

‘tiin, tiiin, tiiiin’ ‘brak!’

Himchan dan motornya terpental cukup jauh dan segera dibawa kerumah sakit. Himchan sedikit sadar, namun penglihatannya tidak terlalu jelas karena matanya tertutupi darah dari dahinya. Ketika melewati ruang tunggu di rumah sakit, sekilas Himchan melihat berita pesawat keberangkatan dari Korea ke Amerika jatuh, yang ternyata adalah pesawat dimana Sunhwa berada.

Ternyata, di saat yang bersamaan, kecelakaan Himchan dengan jatuhnya pesawat yang ditumpangi Sunhwa terjadi.

 

***

-1 tahun kemudian- (Himchan POV)

Satu tahun berlalu semenjak kecelakaan ku. Satu tahun berlalu sejak kecelakaan pesawat yang di tumpangi Sunhwa. Satu tahun berlalu, aku tidak bertemu Sunhwa. Tidak tahu dimana dia sekarang, apakah dia selamat dari kecelakaan itu, dan bagaimana kabarnya sekarang.

Saat ini aku sedang duduk termenung memandangi pemandangan kota seoul di sore hari. Karena bosan, ku langkahkan kaki ku meninggalkan taman kota seoul. Ku lihat tempat dimana pertama kali aku bertemu Sunhwa, ingin rasanya aku menangis tapi tidak dapat menangis. Ku kelilingi tempat-tempat dimana biasanya aku dan Sunhwa jalan-jalan. Taman kota seoul memang indah. Ku rasa air mataku mulai menumpuk, tapi tidak keluar-keluar aku sangat bingung dibuatnya.

Aku berbalik dan mununduk melihat jalan, lalu berjalan pelan. Saat ku angkat kepalaku. Ku dapati seorang yeoja berambut pendek sebahu dan bergelombang mengenakan kaus agak longgar berwarna cream dengan celana jeans biru, dengan tas bahu berwarna senada dengan baju-nya dan sneaker berwarna putih sedang memandangi langit kota seoul. Jantungku berdetak kencang, dia sangat mengingatkan ku disaat pertama kali aku bertemu Sunhwa, saat dia berbalik, ternyata dia bukan Sunhwa. Agak sedikit kecewa, aku berjalan pelan sambal menunduk lagi. yeoja tadi sudah melawati ku. Saat ku angkatkan lagi kepalaku, kali ini aku melihat yeoja memakai kaus berwana putih dengan jaket jeans berwarna hitam, celana jeans berwarna hitam, dan sneaker putih. Dia menyadari aku memandanginya. Dia terdiam dan aku ikut terdiam, mataku terus menatap matanya, sorotan matanya yang lembut membuatku benar-benar ingin menangis. Aku berjalan pelan mendekatinya, dia tetap berada di posisinya dan tidak bergerak satu inci pun.

Setelah mendekatinya, ku tatap matanya dan ku pegangi wajahnya. Dia menatapku dengan lembut. Tidak berubah, sama sekali tidak berubah. Matanya mulai memerah, dan air matanya mulai menumpuk, perlahan air matanya jatuh dan dia mulai memelukku. Aku membalas pelukannya dengan erat.

Ya benar, dia Han Sunhwa. Dia Han Sunhwa, yeojaku, yeoja yang sangat ku rindukan.

“bogoshipeo..” kataku lembut dibalas anggukannya.

 

-Tamat-

Gimana? Sedih gak? Atau kurang sedih? atau malahan gak sedih sedikit pun? Yah, namanya juga baru percobaan, hehe. Mian kalau banyak typo bertebaran, saya juga manusia yang punya banyak kesalahan. Gumawo buat yang baca~ Comment loh jangan lupa, awas!

10 thoughts on “-FF- Rain Sound (One Shot)

  1. KYulKai,GiHyunSeung,MyungMi,JunHara berkata:

    Sedih kok ceritanya TT . TT
    Kapan2 klu blh buat ff sunhwa ama daehyun dong hehehe mereka sama2 bias utama q di secret dan bap dan sejujurnya di secret aku cuma suka ama sunhwa doang hehehe

    • sengaja dibuat sedih,,
      mmm.. kalo sempat ya^^ hehe, soalnya aku rencana bkl buat Sunhwa-Himchan lagi, *ahaha*

      hehe, gumawo udah komen dan baca^^

  2. _yuki94 berkata:

    Щ(º̩̩́Дº̩̩̀Щ) udah sedih kok. Udah sempet nangis di akhir cerita.
    Cuma aku agak bingung sama bagian akhir yang himchan ketemu sunhwa lagi kkk. Jadi sunhwa udh sembuh, terus udh balik ke seoul. Trus ketemu himchan lagi?:/

    Oh iya, mau kasih tau aja, kalo naik pesawat, minimal 2 jam sebelum keberangkatan kalo bisa udh di airport kkk. Jadi kalo brgkt jam 5, setidaknya jam 3 udh di bandara😀 mehehe cuma kasih kritik itu aja sih. Sisanya udah bagus🙂

    • huwaaa~ gumawo udah mau komen dan baca^^

      heehee,, ding dong deng~ benar sekali, tapi yah agak maksa sih,, hehe

      aaah iya, aku lupa soal itu,, hehe^^

  3. Jinjja Daebak ..
    Thor kalau bisa bikin ff sedih lagi arraseo hehe :D(y)
    \(´▽`)/ \(´▽`)/ \(´▽`)/
    °\(^▼^)/°

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s