-FF- First Love: Chapter 2 of 2

first love2

Demi apapun Ya Allah, saya dapet ilham banget hari ini. Baru aja kemarin minta maaf yang sebesar-besarnya karena gak sempet nyelesain ni ff, tiba-tiba aja jam 7 tadi langsung dapet ide lancaaar banget! walau dicegah dikit gara-gara mati listrik. Tapi emang beneran, makasih banget yang ngedoain saya lancar buet ni ff. Makasih~ kalau gitu langsung aja, cekidotcom~

First Love 2

  • Main Cast            : Han Sunhwa (Secret), Kim Himchan (B.A.P)
  • Support Cast      : You can find it yourself, *wink*
  • Genre                   : Love-life, little bit Humor and Sad
  • Author                  : dk1317 a.k.a  GDhia/GDhia1

P.S : This is just FF and my other imagine, don’t be plagiat and other that god and I don’t like, and please don’t be silent readers, please leave some comment~

Happy Reading~

***

Author POV

“Sunhwa-ah, saranghae..”

Himchan menatap Sunhwa dalam. Sunhwa yang terkejut langsung saja melihat Himchan.

Mereka saling bertatapan satu sama lain. Sunhwa tak menjawab dan memasang wajah tak percaya.

“eem, itu.. kalau kau ingin menjawabnya lain kali juga tidak apa-apa..” Himchan akhirnya berbicara dia terlihat bingung akan mengatakan apa lagi.

“kalau begitu aku duluan. Gumawo atas hadiahnya..” lanjut Himchan dengan senyum

Sunhwa melihatnya berjalan dengan masih tidak percaya. Tiba-tiba Sunhwa menarik jaket Himchan.

“wae? Wae?” tanya Himchan dengan terkejut

Sunhwa menarik nafas dan menatap Himchan lalu tersenyum.

“nado, nado saranghae Himchan-ah..” ucap Sunhwa dengan senyum

Himchan terkejut lalu tersenyum dan memeluk Sunhwa. Sunhwa membalas pelukan Himchan.

Di dalam restoran terlihat yang lainnya gembira dan bersorak. Lalu mereka keluar mendekati Himchan dan Sunhwa.

“ehem, karena kalian jadian dan sekaligus ulang tahun Himchan. Kalian traktir kami! Ayoo!” Yongguk diikuti yang lainnya bersorak riang sambil menarik Himchan.

“ka-kalian melihatnya!?” kaget Himchan

Yongguk dan yang lainnya tersenyum sinis. “kau memilih tempat yang salah untuk mengungkapkan perasaanmu..” ucap Yongguk lalu menarik Himchan lagi

“ya!” kesal Himchan

Sunhwa hanya tersenyum melihat kelakuan mereka. Tiba-tiba tangannya dirangkul dengan lembut. Dia melihat siapa yang merangkulnya.

“eonni..”

“chukkahanda, cinta pertamamu berhasil..” ucap Hyosung dengan senyum

“gumawo eonni, tanpa bantuanmu pun mungkin tidak akan berhasil..” ucap Sunhwa

Hyosung tersenyum dengan bangganya kepada sahabatnya tersebut.

“kajja..” ajak Hyosung

Sunhwa mengangguk dan mereka berjalan mendekati Himchan dan yang lainnya.

***

Sunhwa POV

Dongdaemun, 16 Mei 20X2

Hari ini adalah kencan pertama ku dengan Himchan. Walaupun sudah beberapa minggu sejak kami pacaran tapi kami belum sempat kencan. Huft.

“jadi, kau mau kemana?” tanya Himchan

Aku sedikit terkejut lalu menatapnya.

“mwoya? Bukankah seharusnya namja yang merencanakan ingin kemana?” ucapku balik bertanya

Himchan balas menatapku sambil tersenyum lalu memegang tanganku lembut.

“bukankah namja harus mengikuti apa yang diinginkan yeojanya? Kalau aku yang memilih tempat nanti kau tak suka..” jawab Himchan

Aku berfikir sejenak. “tapi kalau begitu jika aku yang memilih tempat nanti kau tak suka..” kataku juga

Dia memasang wajah kaget lalu melepaskan tanganku.

“hm, benar juga..”

Aku tertawa kecil lalu merangkul tangannya. “lebih baik kita katakan saja perasaan masing-masing kita ingin kemana, nanti kita kedua tempat tersebut. Bagaimana?” tanyaku

Dia melihatku lalu berfikir. “boleh juga. Kalau begitu kita ucap sama-sama..” usulnya

Aku mengangguk. “1.. 2.. 3!”

“taman bermain!” “kebun binatang!”

Kami saling melihat satu sama lain lalu tertawa. Kami terlihat seperti anak-anak saja.

“kalau begitu kita ke aquarium lalu ke taman bermain..” ucap Himchan dibalas anggukan ku

***

“Sunhwa-ah, kenapa kau mau ke kebun binatang?” tanya Himchan sambil memakan ice cream yang baru saja kami beli

“geunyang. Aku hanya suka saja melihat binatang..” jawabku sambil melihat bebarapa burung di sangkar

Kami melihat berbagai macam hewan dan berfoto. Aku bahkan memberanikan diri berfoto dengan ular.

Memberi makan monyet, gajah dan jerapah. Sangat menyenangkan. Tanpa disadari hari sudah siang dan kami memutuskan untuk lanjut ke taman bermain.

***

Himchan POV

“Yahoo!!” teriakku kegirangan

Saat ini kami sedang naik rollercoaster. Haha.

***

Ku suguhkan segelas teh kepada Sunhwa. Dia melihatku dan sedikit jengkel.

“Ice Americano lagi?” tanyanya sambil melihat segelas Ice Americano yang ku pegang

“ah, mian. Kau tahu kan kalau aku sangat menyukainya..” jawabku

“kau bukan lagi menyukainya kau sudah kecanduan parah..” kesalnya

Aku pun duduk disampingnya. “kenapa kau harus marah?” tanyaku sambil memegang tangannya

“aku tidak marah, aku hanya jengkel..”

“apakah itu berbeda?”

Dia menatapku dengan kesal. “beda! Sangat beda!”

Aku hanya tertawa kecil. Sebenarnya Sunhwa sudah beberapa kali melarangku meminum kopi khususnya Americano. Tapi, mau bagaimana lagi kan? Haha… Dia bilang kafein dalam Americano itu lebih banyak dari pada kopi yang lainnya dan menyuruhku meminum teh atau kopi biasa yang kadar kafeinnya lebih rendah. Tapi tetap saja aku tak bisa. Mian Sunhwa-ah~

***

Author POV

Dongdaemun, 28 Mei 20X2

“menu Brunch untuk yeoja ku~” Himchan berjalan keluar dari dapur dan menuju meja dimana berada Sunhwa sekarang.

“mwoya..” Sunhwa tertawa kecil

Himchan menyungguhkan satu persatu menu brunch ke meja Sunhwa lalu duduk di depannya.

Sunhwa melirik lalu melihat Himchan.

“kau tidak akan dimarahi Hyosung eonni?” tanya Sunhwa

“hm? Dimarahi kenapa?” Himchan tanya balik

Sunhwa menghela nafas kecil lalu tersenyum, “karna kau tak bekerja..”

“hm? Aku sedang bekerja..”

“bagaimana kau terlihat seperti sedang bekerja? Kau sedang duduk di depan ku Kim Himchan..”

Himchan tersenyum, “ini adalah bagian dari pekerjaanku. Melihatmu bekerja..”

Sunhwa terkekeh kecil sambil sesekali melihat ke belakang Himchan.

‘plak!’ “apa yang kau lakukan Kim Himchan! Kau tidak bekerja, eo!?”

Dari arah belakang Hyosung memukul kepala Himchan dengan koran. Himchan meringis kesakitan dan buru-buru menuju dapur. Sunhwa hanya tertawa kecil melihatnya.

“ckckck, ku potong gajimu baru kau tahu..” kesal Hyosung dan duduk di depan Sunhwa.

“hahahaha, padahal tadi sudah ku peringatkan..” ucap Sunhwa masih tertawa kecil.

Hyosung tersenyum melihat Sunhwa tertawa.

“kenapa kau suka padanya?” tanya Hyosung

Sunhwa terdiam lalu tersenyum, “hm.. Molla, aku hanya menyukai Himchan apa adanya..” jawab Sunhwa pelan

Hyosung tersenyum dan mengacak-acak rambut Sunhwa gemas, “eiguu..”

***

Dongdaemun, 14 Juni 20X2

[Sunhwa-ah? Kau tidak datang ke restoran?] tanya Hyosung lewat telepon

“eo, mianhae eonni. Bos mendadak menyuruhku ke Busan..” jawab Sunhwa sambil buru-buru mengepak barangnya

[geurae? Arasseo. Kau sudah bilang Himchan?]

“belum. Setelah eonni selesai menelpon akan ku bilang..”

[eo geurae. Jangan sampai sakit eo?]

“ne, gumawo eonni..”

[eo, sugohae..]

“eo..”

Telepon terputus dan Sunhwa masih belum selesai mengepak barangnya. Terdengar ringtone handphone Sunhwa berbunyi, dilihatnya siapa yang menelpon.

“eo, Hana-ah..”

[ya! Neo eodiga? Palli, bos sudah marah..]

“haish, katakan padanya sebentar lagi! Haish, siapa suruh dia mendadak menyuruh ke Busan..”

[arasseo, arasseo.. kau cepatlah datang..]

“eo, gumawo..”

Telepon pun terputus dan Sunhwa hampir selesai mengepak barang.

Setelah selesai dia langsung menuju ke kantornya.

***

Sunhwa POV

“kau lambat sekali, padahal sudah ku katakan hanya satu jam saja, bukan kah itu cukup? Satu jam itu pun sudah ku pikirkan dengan masalah rumahmu yang jauh itu..” kesal bosku – Lee Yoonji

“jwiesonghamnida. Saya tidak akan mengulanginya lagi..”

“baguslah kalau kau tahu..”

Bos langsung menuju ke mobilnya. Saat mobilnya sudah berjalan, kami para karyawan pun menuju bus.

“auh, bos kejam-gila itu, auuh..” kesalku sambil sesekali memukul pelan dadaku

“yang sabar saja Sunhwa, bos memang selalu seperti itu..” teman sekantorku – Choi Sooyoung mencoba menenangkan ku.

“padahal sama sekali bukan satu jam. 45 menit saja yang ku pakai, sisa 15 menit itu masih ada..” kesalku

“sudahlah Sunhwa..” Hana mencoba menenangkanku juga

“haah..”

Aku memandang keluar jendela. Melihat pepohonan tersusun sangat rapi membuat hati ku terasa lebih tenang. Tiba-tiba saja sepertinya aku melupakan sesuatu.

Setelah beberapa lama akhirnya aku ingat, “ah, aku belum menelpon Himchan..”

Ku ambil Hanphoneku dan mulai menelpon Himchan.

[eo Sunhwa-ah?]

“Himchan-ah!” panggilku

[eo? Wae?] tanya Himchan seperti sedang sangat sibuk

“mianhae sepertinya selama satu minggu aku tidak ke restoran..” jawabku

[wae?] tanya Himchan sedikit kaget

“bos ku mendadak menyuruh ke Busan..”

[geurae? Jahat sekali bos mu..]

“bos ku memang jahat dan gila..”

[hahaha, arasseo. Kau jangan sakit disana, dan juga kalau sempat kau temui orang tua mu..]

“ah matta! Ahahaha, arasseo..”

[geurae, jalke..]

“eo..”

Aku menutup telpon dan tersenyum. Ku pandangi Hana yang sedang menatapku dengan tatapan iri..

“wae? Wae? Wae?” tanyaku agak jengkel

“senangnya punya pacar. Ada yang mengkhawatirkan..” jawab Hana pelan lalu menghela nafas pelan

“kau pikir aku tidak pernah berpikir seperti itu saat kalian bertiga punya pacar sedangkan aku tidak, eo? Lebih menyakitkan melihat kalian bertiga atau kau melihatku sendiri?” kesalku

“mian, hehe..”

Aku hanya dapat menatap Hana jengkel. Tiba-tiba aku teringat kalau aku juga harus menelpon orangtua ku. Buru-buru ku tekan nomor telpon ibuku.

[eo Sunhwa-ah?]

“eomma, aku akan ke busan..”

[geurae? Wae? Kau ada pekerjaan di sini?]

“eo. Kalau ada kesempatan aku akan mengunjungimu..”

[eo, arasseo uri ddal..]

“eomma dan appa sehat kan?”

[geureom. Anak ibu sehat juga kan?]

“tentu saja..”

[geurae, kalau begitu ibu dan ayah akan menunggu kedatanganmu..]

“ne. Saranghae eomma..”

[eo. Nado saranghae..]

Aku tersenyum setelah dapat mendengar suara eomma-ku

***

Himchan POV

Dongdaemun, 16 Juni 20X2

Sudah dua hari sejak terakhir kali Sunhwa menelpon ku. Apakah kerjaan-nya begitu ketat sehingga dia tidak sempat menelponku. Ketika ku tanya kepada Hyosung nuna, ternyata sama.

Ku lihat meja di mana Sunhwa biasa berada. Kosong. Tempat itu memang di khususkan untuk teman-teman Hyosung nuna. Ternyata seminggu itu lebih lama dari yang ku bayangkan.

“..chan hyung? hyung? HIMCHAN HYUNG!!?” teriak Youngjae menyadarkan lamunanku

“eo? Wae? Wae?” tanyaku sambil membenarkan topi koki ku

Youngjae menatapku kesal sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.

“hyung, aku tahu kau kesepian. Tapi di restoran kau memiliki sebuah kewajiban hyung.. ingat kau itu seorang koki.. dan seorang koki tidak boleh membuat tamunya menunggu hyung!” jawab Youngjae kesal sambil mengambil kertas pesanan dan frying pan.

“mian..” ucapku penuh penyesalan

Yang dikatakan Youngjae benar, aku punya kewajiban di sini. Huft. Ku harap Sunhwa baik-baik saja.

***

Author POV

Dongdaemun, 20 Juni 20X2

“kenapa kau tak menelponku? Bahkan ketika aku menelponmu, kau tidak menjawab..” tanya Himchan kepada Sunhwa

“mianhae Himchan-ah, aku tidak pernah sempat menelponmu. Bahkan aku juga tidak sempat ke rumah orangtuaku. Tapi bukannya aku sudah mengirimu pesan?” jawab Sunhwa dengan wajah bersalah

“ha? Tidak ada pesan darimu..”

“masa’ tidak terkirim?”

Sunhwa mengecek handphone-nya dan menatap Himchan, lalu tersenyum.

“mian, tidak terkirim..” ucap Sunhwa dengan penuh penyesalan

Himchan terlihat sedikit jengkel, “kau bahkan tidak tahu kalau pesannya tidak terkirim..”

“jinjja mianhae Himchan-ah.. waktu mengirimimu pesan aku langsung tidur karena capek.. jinjja mian..”

Himchan memandang Sunhwa yang sedang memasang wajah memelas. Himchan tersenyum dan mengacak-acak rambut Sunhwa gemas.

“baiklah, karna aku sangat menyayangimu kau ku maafkan..” ucap Himchan dibalas dengan senyum sumringah dari Sunhwa

***

Dongdaemun, 28 Juni 20X2

Daehyun meniup lilin yang berdiri di sebuah cake sederhana di depannya..

‘prok prok prok’

“saengil chukkahae Jung Daehyun~” teriak seluruh pegawai beserta Hyosung, Sunhwa, Jieun, dan Hana.

Mereka berkumpul di dalam dapur dan waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi, jadi belum waktunya untuk buka restoran.

“gumawoyo nuna..” Daehyun berterima kasih kepada Hyosung karena ingin merayakan hari ulang tahunnya tersebut.

“gwenchana, bukankah ini patut dirayakan?” ucap Hyosung sambil tersenyum dengan diikuti oleh yang lainnya.

“ah, igo Daehyun-ah. Kau bilang kalau kau ingin Headphone karena Headphone mu rusak..” Youngjae memberikan sebuah bingkisan sedang dan dilapisi dengan kertas berwarna cokelat.

“haha, ternyata kau benar-benar membelinya, eo? Gumawo chingu-ya..”

“ini dari ku dan Himchan..” ucap Sunhwa sambil menyerahkan sebuah kotak kado kecil

“gumawo nuna, gumawo hyung..”

Sunhwa dan Himchan tersenyum. Sunhwa melihat Himchan sebentar lalu melihat Daehyun kembali..

“sebenarnya itu kado dari ku, tapi Himchan lupa membeli jadi dia menyuruhku untuk berbagi..” ucap Sunhwa dengan cepat disambut tatapan terkejut dari Himchan

“wae? Mwo!?” kesal Sunhwa

Himchan melihat Daehyun yang kaget lalu kembali melihat Sunhwa dan melihat Daehyun lagi..

“eoo,, Daehyun-ah, kau tahu pekerjaan menjadi koki itu sangat melelahkan jadi-“

“aku akan membelikanmu tahun depan..” sambung Daehyun lalu menatap Himchan

“eh?”

“benarkan? Sudahlah hyung, aku tahu apa yang akan kau katakan..” ucap Daehyun pelan lalu berjalan menuju ruang ganti

Himchan melihat Daehyun dengan rasa bersalah..

“kau membuatnya sedih hyung..” ucap Jongup

“kekanak-kanakan..” sambung Youngjae

“apa maksudnya hyung?” tanya Junhong kepada Youngjae

Youngjae melihat Junhong dan yang lainnya melihat kearah Youngjae..

“apa yang kau maksud?” Youngjae menanya balik

Yang lain terlihat menghela nafas..

“maksudku, siapa yang kau maksud kekanak-kanakan?” tanya Junhong lagi

Youngjae mengangguk mengerti lalu menunjuk kearah Himchan

“na?” tanya Himchan tak terima

“ani, neo rang, Daehyuni rang..” jawab Youngjae lalu pergi menuju ruang ganti

“ya! Jangan pakai kata informal kepadaku!” kesal Himchan

Yang lainnya melihat Youngjae dari kejauhan..

“kau membuatnya marah hyung..” ucap Jongup

Himchan menatap Jongup sebal. “auh! Kau diam saja!” Himchan pun pergi keruang ganti

“kau membuatnya marah hyung..” ucap Junhong

Jongup melihat Junhong diam. Lalu mereka berdua pergi ke restoran dengan membawa pel dan lap

“hahahaha, mereka semua aneh..” ucap Yongguk sambil tertawa kecil lalu kerestoran dengan membawa sapu

“mereka benar-benar aneh..” ucap Hyosung juga

Sunhwa hanya dapat melihat dengan bingung keanehan-keanehan yang terjadi tanpa berbicara satu kata pun.

***

Dongdaemun, 15 Agustus 20X2

Sunhwa POV

“yup! Sudah waktunya buka restoran!” ucap Hyosung eonni sambil menepuk meja kasir dengan semangat

Terlihat Yongguk membalikkan plat di depan pintu menandakan bahwa restoran sudah terbuka..

Tiba-tiba secangkir kopi disungguhkan kepadaku “cappuccino hangat untuk anda nona..”

Suara ini.. Himchan. Baiklah, akan ku layani permainanmu..

“maaf, tapi saya tidak pesan cappuccino..” ucapku pelan

“ah, benarkah kalau begitu Barley Tea hangat untuk anda nona..” ucap Himchan sambil menyungguhkan secangkir teh barley

“oh, terima kasih banyak..”

Himchan tersenyum dan aku balas tersenyum. Perlahan dia duduk di kursi di depanku.

“masih mau duduk di sini? Nanti kau dimarahi Hyosung eonni lagi..” ucapku mengingatkan

Himchan menoleh ke kiri dan ke kanan, “tenang saja, dia tidak ada..”

Aku tertawa kecil lalu meminum teh ku. Dia menatapku dengan lembut lalu tersenyum kecil.

“kau memang cantik..”

Aku hanya dapat tersenyum dan kembali meminum kopi ku.

***

“ini brunch mu..” Himchan menyengguh menu brunch kepadaku.

“gumawo..”

Himchan melihatku. “wae?” tanyaku

“kau tidak ke kantor?”

Aku menggeleng, “hari ini diliburkan sementara..”

“wae?”

“aku juga tidak tahu..”

Himchan menatapku bingung lalu tersenyum sejenak.

“kalau begitu, kau menungguku selesai bekerja?” tanya Himchan

Aku berfikir, “apakah menurutmu begitu?” aku balik bertanya

Dia terlihat kesal dan duduk di depanku. Aku tertawa kecil. Tiba-tiba saja pandanganku teralihkan pada seorang yeoja yang baru saja masuk ke restoran. Wanita tersebut berjalan mendekati Jongup yang kebetulan dekat dengannya. Jongup terlihat terkejut dan mereka mengobrol sebentar. Jongup melihat kearah ku dan menjadi salah tingkah.

“kau melihat apa?” pertanyaan Himchan mengagetkanku

“a-aniya..” jawabku masih terkejut

Himchan yang penasaran lalu menoleh kearah yang ku lihat disaat yang bersamaan pula wanita yang mengobrol dengan Jongup tadi menoleh kearah kami.

Wanita itu terlihat sedikit terkejut, dia seperti melihatku dan melihat Himchan bergantian.

“Hyuna-ya. Apa yang kau lakukan disini?”

Aku terkejut dengan pertanyaan Himchan. Ku lihat Jongup agak sedikit panik begitu juga Junhong.

“nuguya Himchan-ah?” tanyaku

Himchan melihatku, “Hoobae-ku..” jawabnya

“Himchan oppa?” tanya yeoja yang bernama Hyuna tersebut

Himchan dan Hyuna memulai percakapan mereka. Aku hanya dapat melihat sambil sesekali melahap brunch ku. Entah kenapa nafsu makanku tiba-tiba saja menghilang. Jantungku juga berdetak tak karuan. Melihat Himchan mengobrol akrab dengan yeoja yang tak ku kenali membuatku menjadi lemas. Apakah ini yang dikatakan cemburu?

“Hi-Himchan-ah..” panggilku

Himchan menoleh dan tersenyum, “eo?”

“aku baru ingat kalau ada beberapa pekerjaan yang belum selesai, jadi aku pulang dulu.. eo?”

“benarkah? Baiklah.. kirim pesan kalau kau sudah sampai..”

“eo..”

Ku ambil tasku dan berjalan menuju kasir. Junhong terlihat khawatir kepadaku.

“gwaenchana nuna?” tanya Junhong

Aku hanya mengangguk dan membayar pesanan ku lalu keluar dari restoran. Di luar dapat ku lihat Himchan masih mengobrol dengan yeoja tersebut. Himchan menyadari keberadaanku dan melambai kecil. Aku membalas lambaiannya sambil tersenyum kecil, atau lebih tepatnya senyum yang dipaksakan.

Aku berjalan menjauhi restoran Lovierra sambil menahan tangis. Kenapa? Kenapa aku menangis? Padahal mereka hanya sebatas Sunbae-Hoobae kan? Kenapa aku menangis? Ah, apa mungkin karena aku melihat ada sebuah perasaan pada Himchan dari yeoja itu? Lagi pula, yeoja itu lebih manis.. dariku..

***

Himchan POV

Setelah mengobrol dengan Hyuna, aku kembali bekerja di dapur. Youngjae melihatku dengan kesal, dia mendekatiku sambil melipat kedua tangannya.

“baiklah, baiklah. Aku tahu aku salah karena meninggalkan pekerjaan..” ucapku lalu mengambil kertas menu

“bukan itu hyung..”

Aku melihat Youngjae bingung, “jadi maksudmu apa?” tanyaku

Dia menghela nafas, “ternyata Sunhwa nuna memang cinta pertama mu, eo?”

Aku semakin bingung..

Dia kembali menghela nafas, “apa kau pikir yang kau lakukan ini benar?”

“maksudmu?”

“hyung, kau tahu bagaimana perasaan perempuan?”

Aku semakin semakin semakin bingung dibuatnya, “apa maksudmu sih, kalau kau ingin mengatakan sesuatu langsung saja ke intinya..”

“apa kau pikir Sunhwa nuna pulang karena ada pekerjaan yang belum diselesaikan?”

“bukankah dia yang mengatakannya begitu?”

“kau memang tak mengerti perasaan perempuan. Perempuan tidak suka pacarnya berbicara dengan perempuan lain yang tidak dia kenal, camkan itu hyung. Ku harap kau lebih hati-hati..”

Youngjae mengambil kertas menu yang ada di tanganku lalu menjauhiku.

Apa maksud dari perkataan Youngjae itu?

***

Dongdaemun, 15 September 20X2

“Sunhwa-ah! Biarkan aku menjelaskannya, ini kesalah pahaman!” ucapku sambil sedikit berteriak karena suara hujan.

“sudahlah Himchan-ah. Aku sudah muak. Lebih baik kau pacaran saja dengan Hyuna..”

“Sunhwa-ah, sudah ku bilang kau salah paham..”

“tapi kenapa kau selalu membelanya!? Kau juga bilang kalau Hyuna lebih manis dari pada aku! Kau juga bilang dia adalah yeoja yang baik, tidak cerewet seperti aku! Kau bahkan memberinya sesuatu yang diinginkannya! Apakah kau pikir itu tidak berlebihan! Bahkan hari ini pun kau selalu menerima telepon darinya padahal kita sedang kencan! Aku muak Himchan-ah..” air mata Sunhwa mengalir dengan cepat

Apa yang ku lakukan sehingga membuatnya menangis seperti ini, apa yang telah ku lakukan?

“Sunhwa-ah, mianhae. Aku, aku sama sekali tidak tahu kalau itu akan mempengaruhimu seperti ini..”

“hentikan. Aku tidak ingin mendengarnya..”

“Sunhwa-ah..”

“KU BILANG HENTIKAN! KAU TIDAK DENGAR, EO!?”

Aku terdiam namun tangisan Sunhwa tak mereda. Oh tuhan, apa yang telah ku lakukan.

“aku ingin kita putus..”

“Sunhwa-ah! Apa yang kau-“

“AKU INGIN KITA PUTUS! SUDAH JELAS KAN!”

Aku terdiam. Saat ini aku hanya dapat melihat Sunhwa menangis. Akhirnya aku mengerti apa yang dimaksud Youngjae waktu ini. Aku ini benar-benar payah.

Sunhwa berbalik dan berjalan menjauhiku. Ingin ku kejar tapi tak bisa, hati ini mengatakan kalau aku harus membiarkannya sendirian.

***

Sunhwa POV

Dongdaemun, 1 November 20X2

Sejak saat itu, aku tidak pernah bertatap muka dengan Himchan lagi. Kami benar-benar putus. Dan aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya. Hyosung eonni orang pertama yang ku ceritakan sangat terkejut, tentu saja karna dia pikir hubungan kami akan berjalan dengan lancar. Tapi yang kutahu, cinta pertama itu bukan sesuatu yang mudah. Begitulah, ku pikir ini adalah salah satu cobaan. Entah kenapa, kami seperti orang asing.

“tidak coba untuk mencari yang baru, eo?” tanya Hana

Saat ini tentu saja kami sedang berada di kantor. Mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak habisnya.

“tidak. Aku ingin fokus pada pekerjaan..” jawabku sambil terus mengetik dokumen

“hah.. Han Sunhwa, Han Sunhwa. Padahal dia adalah cinta pertamamu..”

Aku hanya terdiam dan terus mengetik dokumen.

“tapi, kau masih menyukainya kan?”

Tanganku berhenti mengetik, aku hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan Hana.

“melihat reaksimu sepertinya aku benar..” ucap Hana lalu kembali ke tempat duduknya

Ku akui kalau aku masih menyukai Himchan, karna yang ku tahu cinta pertama sangat sulit untuk dilupakan..

Aku mencoba untuk kembali fokus mengetik namun tak bisa.

“mian Hana-ah, tolong katakan pada bos kalau hari ini aku pulang cepat, gumawo..” ucapku sambil membereskan barang-barangku.

“eo-eo.. wae?” tanyanya

“aku lelah..” jawabku tegas lalu pergi meninggalkan ruangan.

***

Harus kemana aku? Aku tidak ingin ke restoran, aku tidak ingin bertemu dengan Himchan. Aku juga tidak mau pulang ke rumah. Akh!

Ku tatapi layar handphone-ku, tertera wajah Himchan dan wajahku sedang tersenyum bahagia.

“ah, benar juga. Belum ku ganti..”

Tiba-tiba air mataku mengalir dengan perlahan. Aku langsung menggenggam handphone-ku erat dan terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Ku biarkan orang melihatku dengan heran.

***

Author POV

Dongdaemun, 1 Januari 20X3

“Selamat Tahun Baru~~” teriak Hyosung diikuti beberapa tamunya saat jam tepat pukul 00.

Yah benar, Restoran Lovierra sedang merayakan tahun baru bersama. Seperti biasa didatangi oleh teman dekat Hyosung dan beberapa pelanggan setia restorannya. Himchan terlihat duduk sambil memegang segelas wine dan sesekali mengaduknya. Hyuna yang melihat itu langsung menghampirinya.

“waeyo oppa?” tanya Hyuna

Himchan hanya menggeleng. Sebenarnya dia sedang memikirkan Sunhwa. Sejak mereka putus, Himchan sama sekali tidak dapat berhubungan lagi dengan Sunhwa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hyosung menolak menjawab ketika ditanya, begitu pula dengan Hana dan Jieun. Sedangkan yang lainnya sama sekali tidak tahu apapun. Namun, hanya satu yang dia tahu, Sunhwa menghindarinya.

Himchan meneguk wine-nya dan melihat handphone-nya. Tertera foto dia dan Sunhwa. Dia mencengkram handphone-nya dan pergi ke atap tempat di mana dia dan Sunhwa berbicara untuk pertama kalinya.

Ketika dia membuka pintu perlahan angin musim dingin menerpa wajahnya.

“dingin..”

Dilihatnya pemandangan kota Dongdaemun di malam tahun baru yang menyenangkan, namun hatinya sama sekali tidak menyenangkan. Dia kembali menatap layar handphone-nya dan menekan nomor telpon Sunhwa dan menelponnya.

[maaf nomor yang anda masukan tidak terdaftar..]

Dia menelpon lagi..

[maaf nomor yang anda masukan tidak terdaftar..]

Lagi, lagi, dan lagi. Tapi, yang hanya dapat didengarnya hanyalah ‘maaf nomor yang anda masukan tidak terdaftar..’.

“wae!!? Wae!? Wae!?” Himchan memukul dengan keras pagar teras atap.

“begitu marahnya kau padaku Han Sunhwa!?”

Himchan terduduk lemas dan menangis.

***

Dongdaemun, 10 Maret 20X3

Perasaan kaget menyelimuti Restoran Lovierra pagi ini. Han Sunhwa, yeoja yang sudah setengah tahun tidak pernah datang tiba-tiba saja datang. Dia berjalan mendekati Jongup yang kebetulan di dekatnya.

“johgi, bisakah kau panggil Hyosung eonni?” pinta Sunhwa dengan nada sopan

Hal ini semakin membuat Yongguk dan yang lainnya kaget. Jongup mengangguk dan pergi ke ruangan Hyosung. Hyosung pun segera keluar dan mendekati Sunhwa lalu menyuruhnya duduk.

“kenapa kau tidak menelponku?” tanya Hyosung agak berbisik

“mian..”

“kau tidak tersesat? Kau tahu jalan ini?” tanya Hyosung dengan berbisik lagi

“eo, sepertinya aku mengingat dengan baik tempat ini..”

***

Himchan POV

“hyung! Sunhwa nuna datang!” teriak Jongup ketika memasuki dapur

Aku langsung tersentak kaget dan menatap Jongup.

“jinjja!?” tanyaku tak percaya

“jinjjaro! Kalau kau tak percaya lihat saja di restoran!”

Aku berlari kearah restoran diikuti oleh Jongup dan Youngjae. Ternyata benar apa yang dikatakan Jongup, Han Sunhwa sedang duduk dan berbicara dengan Hyosung nuna.

“Sunhwa-ah!” aku memanggil Sunhwa

Dia menoleh dan menatapku lalu menunduk pelan. Aku mendekatinya, tapi Hyosung nuna mencegahku.

“waeyo nuna! Biarkan aku berbicara dengan Sunhwa!” kesalku

“Kim Himchan lebih baik kau dengarkan dulu penjelasanku..” jelas Hyosung nuna

Aku menepis tangan Hyosung nuna yang menghalangiku, lalu aku pun duduk di depan Sunhwa.

“Sun-Sunhwa-ah, mianhae.. aku..”

“ah, jwiesonghamnida. Geundae, nuguseyo?”

‘deg’ aku terdiam, jantungku berdetak kencang. Dia tidak tahu siapa aku?

“ya! Ini aku Himchan..” jawabku

“ah, Himchan-ssi. Senang bertemu denganmu..”

Jantungku semakin berdetak dengan kencang.

“ya! Ini aku Kim Himchan!” teriakku seakan tak percaya

“ne.. senang bertemu denganmu..” balas Sunhwa agak ketakutan

Aku menatap Sunhwa tak percaya. Jantungku semakin berdetak dengan kencang. Ku pegangi tangannya dia terlihat bingung.

“Han Sunhwa! Ini aku Kim Himchan! Kau tidak kenal aku?” tanyaku

“ah, jwiseongiyo, kau mengenalku? Maaf aku tidak dapat mengingatnya..”

‘deg’ jantungku seperti berhenti berdetak. Aku tak dapat mengatakan apapun lagi. Benarkah yang ku dengar barusan? Benarkah apa yang ku dengar dari mulut Sunhwa barusan?

Dia, dia tak dapat mengingatnya? Bukankah, bukankah itu yang dikatakan amnesia?

Aku melihat Hyosung nuna yang sedang memegangi kepalanya.

“makanya tadi ku katakan, dengarkan dulu penjelasanku!” kesal Hyosung nuna

“waeyo eonni?” tanya Sunhwa

“aniya. Kau Kim Himchan! Ikut aku!”

***

“nuna! Sejak kapan Sunhwa seperti itu? Apakah dia amnesia? Kenapa dia seperti itu?” tanyaku bertubi-tubi

“lebih baik kau tenangkan dirimu dan dengar aku!” jawab Hyosung nuna dengan nada dingin

“hal ini terjadi saat bulan Februari kemarin. Aku mengkhawatirkannya karena dia tidak mengangkat telponku sama sekali, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kepada Hana. Hana bilang dia sudah hampir seminggu tidak bekerja, dan itu tambah membuatku khawatir. Jadi, aku dan Hana memutuskan untuk pergi ke apartemennya. Karena dia tidak juga membuka pintu jadi kami memanggil pemilik apartemen dan meminta kunci cadangan..” Hyosung nuna mengambil nafas

Aku terdiam dan terus menunggu Hyosung nuna melanjutkan ceritanya..

“saat kami masuk, kami melihatnya pingsan diantara barang plastik yang berserakan. Jadi kami langsung membawanya kerumah sakit. Dan dokter bilang..” Hyosung nuna mulai tak dapat mengontrol emosinya dia terus mengambil nafas dan mengeluarkannya.

Aku hanya dapat terdiam dan terus menunggu.

“dokter bilang kalau dia sudah pingsan mungkin lebih dari dua hari. Dokter juga memeriksa kalau ada memar di kepalanya, dan kami beranggapan mungkin akibat barang-barang plastik, tapi dokter bilang itu benturan terhadap barang berat atau keras..”

“saat itu aku teringat kalau disana juga ada sebuah bangku yang tergeletak, dan aku berpikir kalau dia jatuh dan kepalanya membentur lantai..”

Hyosung nuna melihatku lalu menghela nafas..

“dokter mengatakan kalau dia mendapat amnesia karena itu, tapi.. dokter juga mengatakan sesuatu..”

Hyosung nuna melihatku dengan tajam..

“kau tahu apa..”

Aku menggeleng. Ku lihat Hyosung nuna mengenggam tangannya erat seperti ingin memukulku.

‘plak!’

Sebuah tamparan diberikannya padaku. Ku lihat Hyosung nuna berlinang air mata. Melihatnya aku pun menunduk.

Aku hanya pasrah menerima tamparan tersebut. Dan aku merasa kalau aku sangat pantas untuk di tampar. Aku tahu apa yang lebih menyakitkan dari ini.

“kau tahu! Ketika dokter bertanya kepada Sunhwa apakah dia mengingat sesuatu. Dia mengatakan tidak dan kau tahu apa yang dikatakan dokter? Dia mengatakan hal itu karena dia terlihat seperti bukan tidak bisa mengingatnya tapi terlihat seperti dia tidak ingin mengingatnya! Kau, kau tahu itu!” isak Hyosung nuna

Aku hanya dapat diam dan tak menjawab apapun. Benarkah? Dia tidak ingin mengingat apapun?

“ketika ku tanya hal yang sama dia menjawab dengan jawaban yang sama, dia bukannya tidak bisa mengingat tapi tidak ingin mengingat, karena.. dia merasa kalau kehidupannya dulu menyakitkan sehingga dia menolak untuk mengingatnya..”

“jadi, ku harap kau tahu apa yang harus kau lakukan..”

Hyosung nuna mengambil sapu tangannya dan pergi menjauhiku. Apa yang harus ku lakukan sekarang?

Aku duduk lemas dan memikirkan apa yang dapat ku lakukan.

***

Dongdaemun, 15 Maret 20X3

Seperti biasa, hari ini di restoran banyak sekali tamu yang datang. Salah satunya tentu saja Sunhwa. Hyosung nuna sudah tidak lagi marah denganku karena aku sudah mengatakan padanya kalau aku tahu apa yang harus ku lakukan.

“tugasmu memang membuat Sunhwa mengingat semuanya, tapi ku harap kau tidak membuatnya seperti ini lagi, kalau kau sampai membuatnya seperti ini lagi, kau akan ku pecat dan tidak akan ku izinkan melewati jalan ini!” ucap Hyosung nuna

Ancaman Hyosung nuna memang kejam tapi sekaligus memberikan kekuatan. Kekuatan agar aku tidak melakukan kesalahan, kekuatan aku terus bekerja keras, dan.. kekuatan agar aku mempertahankan cinta pertamaku..

“menu Brunch untuk Han Sunhwa~”

Sunhwa tersenyum melihatku membawakan menu Brunch miliknya.

“rasanya aku mulai mengingat beberapa tingkah kekonyolanmu ketika membawakan Brunch untukku..” ucap Sunhwa sambil tertawa kecil

“benarkah?” tanyaku sambil menyungguhkan menu brunch padanya

“eung..” jawabnya sambil tersenyum

Aku tersenyum senang karena dapat melihatnya terseyum kembali.

“kalau begitu kau juga dapat mengingat ini dong?” tanyaku

“apa?” dia terlihat kebingungan

Aku memainkan tanganku dengan cepat dan langsung memegang pipinya lalu menciumnya..

Aku melihatnya, dia terdiam mematung dan tak mengatakan apa-apa. Aku hanya dapat tersenyum jahil.

“sekarang kau tahu kan, kalau aku mencintaimu dan kau cinta pertamaku..”

-selesai-

Gimana? Cukup memuaskan? Kurang memuaskan?

Kalau kurang maaf ya, hehe.. Endingnya maksa gak? Maksa ya? Saya emang kagak bisa nge-end.. Hehe..

Pengennya tadi Sunhwa-nya meninggal tapi enggak ah,, Hehe..

Jangan lupa komen~ Gumawo~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s