Angel & Devil – 1

Angel&Devil

 

Hello. Holla. Hai. Aloha. Annyeong~

I’m back~ I’m back~ But not with SIC.. Hahahaha!! Hahaha!!

I’m back with Daehyun~~ Haha, tiba-tiba dapet ide dan iseng-iseng nyobain genre baru, huft. Tapi gagal, beneran gagal.. T^T Di sini saya pake Kim Shinyoung a.k.a ulzzang Kim Shinyoung sebagai OC.. Hyaa, Kim Shinyoung eonni ini cuantik buanget #abaikan. Tapi namanya tetep Shinyoung /plak! *apa ini gua kaga ngerti*

Kalo gitu silahkan baca^^ Kalo bingung kaga tahu kenape ye.. Saya yg buat aja bingung-_-

 

Angel & Devil

  • Main Cast            : Kim Shinyoung (Ulzzang, model) as OC, Jung Daehyun (BAP)
  • Support Cast      : You can find it yourself, *wink*
  • Genre                    : Alternate Universe, Out of Character, Slice of Life
  • Author                  : dk1317 a.k.a  GDhia/GDhia1

P.S : This is just FF and my other imagine, don’t be plagiat and other that god and I don’t like, and please don’t be silent readers, please leave some comment~ And typos every where~

 

Happy Reading~

***

Shinyoung POV

‘tap tap’ ‘tap tap’ ‘tap tap’ ‘tap tap’

“Ibu..” panggil ku lirih sambil menutup telingaku

Ibu melihat ku dengan sedih. Sepertinya dia sudah tahu apa yang telah terjadi denganku.

Perih. Telinga ku perih sekali. Hati ku terus berdegup kencang mendengar semuanya.

Di sana ada yang menyatakan cinta. Di sini ada yang putus. Dalam jarak lima meter ke depan ada yang berkelahi. Sebenarnya apa ini?

Ku lihat Ibu yang mulai mendekatiku kemudian memeluk ku erat.

“maafkan Ibu. Seharusnya Ibu tidak merahasiakan ini kepadamu..”

Aku semakin bingung. Ibu mempererat pelukannya padaku lalu mulai meneteskan air mata.

“mulai hari ini, di ulang tahunmu yang ke 17 ini, kau adalah malaikat cinta..”

Sedikit terkejut setelah mendengar pernyataan Ibu. Perlahan aku mulai mengerti.

Cinta.. Itulah mengapa aku bisa mendengar suara hati orang-orang yang sedang pacaran bahkan yang baru pacaran atau baru berencana menembak.

Malaikat? Apakah aku pantas?

 

***

“Shinyoung-ah! Ayo bangun nak!” teriak Ibu dari arah dapur

Ku buka perlahan kedua mataku, mencoba menyeimbangkan cahaya-cahaya yang berlomba masuk ke dalam mataku. Ah, iya. Hari ini hari pertama semester kedua. Oh tuhan kenapa aku bisa lupa.

“Kim Shinyoung!?” teriak Ibu lagi karena aku tak kunjung turun dari tempat tidur ku

“eo..” jawabku lesu lalu berangkat dari tidur ku

Ku lihat seragam SMA ku tergantung rapi di samping rak buku kamarku. Aku tersenyum perlahan lalu mengambil handuk dan segera pergi ke kamar mandi.

 

***

“selamat pagi malaikat ku. kenapa kau telat bangun, huh?” sapa Ibu sambil menaruh sarapan ku.

“entahlah, aku juga tidak mengerti. Mungkin karena aku kerja seharian semalam, mencoba mencegah pasangan itu cerai..” ujarku lemas sambil mengambil susu dan menuangkannya

Ibu tersenyum melihatku dan aku membalas senyumannya.

Yah, benar. Aku dan Ibuku adalah malaikat. Tidak mungkin aku malaikat jika tidak mempunyai darah malaikat. Ibu adalah malaikat kegembiraan, dia memberi kegembiraan kepada orang-orang. Sedangkan aku, yah benar aku adalah malaikat cinta. Semua yang berhubungan dengan cinta aku yang mengatasi, terutama cinta di negeri ginseng ini.

Ibu bilang satu malaikat menguasai satu daerah. Aku dan Ibu sebagai malaikat cinta dan kebahagiaan menguasi daerah Seoul. Dari utara sampai selatan kota Seoul. Sedangkan malaikat cinta dan kebahagian yang lain, berada di daerah mereka masing-masing.

Ibu juga bilang, terkadang ada malaikat yang seperti Ibu, menyamar menjadi manusia. Tapi aku bingung akan satu hal, dari lahir sampai 16 tahun, aku adalah manusia. Hm, mungkin saja Ibu yang ‘menyihir’ ku seperti itu. Haha.

Ah, soal ayah. Ayahku sudah meninggal saat umurku satu tahun. Ibu bilang karena sebuah kecelakaan tapi aku ragu, aku merasa Ibu ingin menutupi sesuatu dariku.

“Ibu, aku pergi dulu..”

“eo.. hati-hati..”

 

***

“Shinyoung-ah! Shinyoung-ah!” panggil sahabat baik ku Minah

“wae?” tanyaku agak jengkel karena masih mengantuk

Minah mengembungkan pipinya lalu duduk di sampingku. Dia menatapku lama, tak membicarakan apa pun. Padahal ku yakin dia ingin mengatakan sesuatu kepadaku.

“apa yang ingin kau katakan?” tanyaku kemudian

Dia tetap diam sesekali kembali mengembungkan pipinya.

“ada apa sih?” tanyaku lagi

Kali ini dia tersenyum, “kau tahu? Katanya akan ada murid baru di kelas kita!” jawabnya penuh semangat

“oh ya? Lalu kenapa?”

“hei-hei Kim Shinyoung..” ucapnya sambil mengayunkan jari telunjuknya di depanku

“dan katanya murid pindahan itu super ganteng!” lanjutnya penuh semangat

Aku menatapnya lalu menghela nafas, “Ya!!” kesal Minah karena melihat tingkahku

Aku terkekeh dan dia langsung kembali mengembungkan pipinya. Tak berapa lama, bel masuk berbunyi.

Yoon seonsaeng masuk dan seperti yang dikatakan Minah, bersama murid baru.

Teman sekelas-terutama perempuan- terlihat sangat heboh. Kabarnya murid baru itu tampan dan mereka setuju dengan itu, tapi entah kenapa aku hanya melihatnya biasa saja, dan.. Dia terlihat berbeda.

“perkenalkan dirimu..” ujar Yoon seonsaeng kepada murid baru tersebut

Dia menundukkan kepalanya dan melihat ke arah teman-teman, melihat satu persatu. Saat dia melihatku, entah mengapa dia sedikit terkejut lalu tersenyum kecil. Dia kembali memandang ke depan.

“namaku Jung Daehyun. Salam kenal..” ujarnya. Kelas langsung berisik setelah dia memperkenalkan diri-terutama perempuan-

“baiklah, Daehyun ini merupakan pindahan dari Inggris, jadi ku harap kalian dapat berteman baik dengannya. Daehyun, kau duduk di sebelah sana..” ujar Yoon seonsaeng menunjukkan bangku kosong di sampingku

Daehyun menunduk dan berjalan ke arah bangkunya, dia berhenti lalu melihatku dan melihat tag name ku.

“Kim Shinyoung?” tanyanya. Aku bingung dan menatapnya heran, dia hanya tersenyum lalu duduk di bangkunya. Sudah ku duga dia berbeda.

“Shinyoung-ah, dia memanggil namamu, loh! Asyiknya..” ujar Minah

Aku hanya tersenyum kecil tak mengerti kenapa Minah berkelakuan seperti itu. Ketika ku lirik Daehyun,dia sedang menatapku sambil tersenyum dan menopang dagu pada satu tangannya.

‘deg’ ada apa ini?

 

***

Author POV

“hei-hei Jung Daehyun..” panggil beberapa teman sekelas

“namaku Do Kyungsoo..” “aku Gong Chanshik..” “aku Lee Byunghun..”

“kau tahu..” ujar mereka bertiga serempak sehingga membuat Daehyun sedikit tersentak kemudian menggeleng

“kau sering memperhatikan Shinyoung..” ujar mereka serentak lagi

Daehyun memasang wajah ‘innocent’-nya lalu tersenyum. “ah ketahuan ya..” ujarnya pelan

Kyungsoo dkk. tersenyum penuh kemenangan lalu duduk di sekitar Daehyun.

“kau tertarik dengannya?” tanya Kyungsoo dan dibalas anggukan Daehyun, “sepertinya iya..”

“lebih baik jangan!” ujar mereka bertiga lagi-lagi serempak dan membuat Daehyun kembali tersentak

“kenapa?”

“dia..” Chanshik menoleh kiri kanan depan belakang memastikan tidak ada Shinyoung maupun teman Shinyoung di sekitar. Setelah yakin dia kembali berfokus kepada orang di depannya, Daehyun.

“dia penuh misteri..” ujar Chanshik dibalas anggukan Byunghun dan Kyungsoo.

“maksudmu?”

“dia itu cantik, sangat cantik bahkan banyak yang bilang dia itu seperti malaikat..” ujar Byunghun, Kyungsoo dan Chanshik mengangguk setuju

“tapi herannya..” sambung Byunghun, “dia tidak pernah pacaran..” sambung Kyungsoo “bahkan merasakan cinta..” sambung Chanshik

Daehyun terdiam. “itu gossipnya..” ujar mereka bertiga kembali serempak

Daehyun hanya dapat memasang wajah datar, kali ini dia tidak terkejut.

“tapi sepertinya benar..” ujar Kyungsoo kemudian. Byunghun, Chanshik dan Daehyun menatap Kyungsoo. “kata beberapa namja yang di tolaknya, dia seperti mengetahui perasaan mereka yang sebenarnya..” sambung Kyungsoo

Byunghun dan Chanshik mengangguk mengerti. Daehyun hanya terdiam dan melihat Shinyoung yang sudah kembali ke kelas. Tak berapa lama bel masuk berbunyi.

“ah, nanti kau mau pulang bareng?” tanya Kyungsoo kepada Daehyun dan dijawab anggukan

 

***

Daehyun POV

Ternyata seperti itu. Lumayan susah kalau begini, lagi pula aku tidak yakin kalau dia benar-benar malaikat yang di bicarakan kakak. Dia memang menampakkan aura malaikat, tapi.. Dia berbeda.

“Daehyun-ah, kau benar-benar tertarik dengan Shinyoung?” tanya Kyungsoo sambil memakan es krim yang tadi kami beli.

Aku mengangguk. “walaupun dia seperti itu?” tanya Chanshik. Aku kembali mengangguk.

“keren..” ujar ketiga sahabat itu kembali serempak

Aku terkekeh kecil mendengar respon mereka, “apakah salah jika aku tertarik dengannya?” tanyaku kemudian

“hm, bukan seperti itu sih. Maksudku tidak ada orang lain kah? Banyak loh di sekolah kita yeoja-yeoja cantik..” ujar Byunghun dibalas anggukan Kyungsoo dan Chanshik

“siapa saja?” tanya Kyungsoo kemudian. Pandangan tertuju pada Byunghun.

“mm, Minah misalnya..” jawab Byunghun sambil mengangkat kedua pundaknya

“eii, kau bercanda. Bang Minah? Penggila namja keren itu?” ujar Chanshik kemudian

“kenapa? Dia cantik..” ujar Byunghun lalu ditatap kedua sahabatnya dengan tatapan tidak percaya. Aku hanya terkekeh melihat tingkah ketiga teman baru ku ini.

“Suji ya! Suji! Adik kelas kita, Bae Suji!” ujar Chanshik, kesal dengan tingkah Byunghun. “Jieun juga, Lee Jieun!” ujar Kyungsoo kemudian “suaranya juga bagus!” tambah Kyungsoo

Byunghun merasa terciut dengan komentar kedua sahabatnya tersebut lalu memandang ku. aku hanya dapat terkekeh kecil melihat tingkah mereka bertiga.

“kalian membuat ku malu di hadapan murid baru..” ujar Byunghun kesal

“kalian lucu sekali, hahahaha..” kekeh ku dan dibalas senyuman mereka bertiga

 

***

Author POV

“Ibu aku pulang..” ujar Shinyoung pelan begitu masuk ke dalam rumah, namun dia tak menemukan Ibunya di sekitar.

“Ibu?”

Dia mencari di dapur tidak ada, dia ruang keluarga tidak ada, di kamar pun tidak ada. Pandangannya tertuju pada sebuah peta, peta itu biasa dipakai Ibunya untuk mengawasi manusia-manusia di Seoul, pandangannya tertuju pada satu titik berwarna merah berkedip, akhirnya dia tahu di mana keberadaan Ibunya.

Dia menghela nafas kemudian berjalan ke kamarnya.

‘bruuk’ dihempaskan tubuhnya ke kasur. Begitu melelahkan, padahal tak ada pekerjaan apapun hari ini, biasanya sepulang sekolah akan ada beberapa pasangan yang berkelahi, tumben benar hari ini tidak ada.

Dia kembali teringat dengan murid pindahan di kelasnya.

“Jung Daehyun. Siapa? Sangat aneh..” ujar Shinyoung pelan lalu perlahan terlelap dalam tidur

 

***

“Ibu pulang..” ujar Ibu Shinyoung

“welcome back, mom. Apakah melelahkan?” tanya Shinyoung yang baru keluar dari kamar mandi

Ibunya mengangguk dan mengambil air minum lalu meneguknya cepat.

“baru saja Ibu pulang dari kantor sudah didapati pekerjaan lain..” ujar Ibunya tersebut

Shinyoung hanya dapat tersenyum. Ibu Shinyoung memang bekerja di kantoran untuk memenuhi kebutuhan mereka di dunia ini. Dan juga harus membiayai sekolah Shinyoung. Ibunya memang memiliki saudara dan orang tua layaknya manusia, namun orang tua Ibunya berada di Australia, sedangkan saudara-saudaranya berada di tempat masing-masing.

“Ibu..” panggil Shinyoung sambil menonton acara televisi kesukaannya

“eo?” “tadi, di kelasku ada murid pindahan. Tapi, aku merasa ada yang aneh dengannya..”

“aneh?” “iya, seperti ada aura-aura aneh dengannya. Aku juga merasa dia berbeda..”

Ibu Shinyoung tertegun mendengar cerita anaknya itu. Shinyoung yang bingung karena perkataannya tak di respon melihat Ibunya. Ibunya terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“wae, Ibu?” tanya Shinyoung

“hm? Ah, tidak ada apa-apa. Tidakkah kau harus mencari tahu?” ujar Ibunya kemudian.

“hm, ku pikir Ibu benar. Lagi pula aku juga kurang yakin akan satu hal..”

“hm? Apa itu..” “entahlah, aku merasa kalau dia itu ‘iblis’ mungkin?” ujar Shinyoung dan membuat Ibunya langsung kaget dan menjatuhkan cangkir yang di pegangnya

“eo-Ibu! Kau tidak apa-apa?” “eo? Eo..”

Shinyoung segera mendekati Ibunya dan membantu Ibunya memberesi pecahan cangkir.

“ada apa Ibu? Sepertinya Ibu kaget sekali..” ujar Shinyoung setelah semuanya beres

“Ibu hanya kaget saja, setahu Ibu tidak ada iblis yang seumuran denganmu, tapi..”

“tapi apa Ibu?” tanya Shinyoung penasaran karena Ibunya tidak melanjutkan perkataannya

“entahlah, Ibu juga tidak yakin..”

Sedikit ada rasa kecewa dalam diri Shinyoung, namun mau bagaimana lagi, dia dan Ibunya sama-sama tidak yakin kalau Daehyun itu adalah salah satu dari sekian banyak iblis di dunia.

 

***

Daehyun POV

-esok harinya

“Kyungsoo-ya, Byunghun-ah, Chanshik-ah..” panggil ku

Kyungsoo, Byunghun, dan Chanshik menoleh dengan serempak. Aku terkekeh pelan lalu menatap mereka yang melihatku penuh tanya.

“kenapa?” tanya mereka serempak, aku kembali terkekeh. Bagaimana mereka bisa seserempak ini?

“kalian ini benar-benar serempak..” ujarku. Mereka saling menoleh lalu melihatku bersamaan.

“tidak!” ujar mereka kembali serempak, kali ini aku tertawa. Mereka kembali saling bertatap.

“jangan menurutiku!” ujar mereka kembali serempak membuat tawaku semakin meledak.

“aduh kalian lucu sekali..” ujarku sambil memegang perutku yang sakit karena tertawa

“kami tidak lucu!” mereka kembali serempak, mereka saling bertatap kesal sedangkan aku kembali tertawa melihat tingkah mereka. Akhirnya mereka kembali melihatku lalu tersenyum.

“aduh, perutku..” ujarku pelan karena perut ku sakit saat ini

“jadi, ada apa?” tanya Chanshik akhirnya tak serempak lagi dengan kedua sahabatnya itu

Aku menghapus pelan air mata yang sempat keluar dari mataku lalu melihat ketiga temanku itu.

“tentang kemarin, Shinyoung..” ujarku memulai percakapan

“ah, malaikat Shinyoung..” ujar mereka kembali serempak

“hei, jangan buat aku tertawa lagi..” ujarku dengan tatapan datar dan membuat mereka terdiam.

“kalian serius dia seperti itu?” tanyaku kepada mereka. Mereka mengangguk, “kau benar-benar tertarik dengannya?” tanya Kyungsoo

Aku mengangguk, “aku benar-benar tertarik dengan ‘malaikat’..” ujar ku lalu melihat Shinyoung yang tidak terlalu jauh dari sana

 

***

Shinyoung POV

“tolong kembalikan ini di perpustakaan ya Shinyoung..” ujar Han seonsaeng guru geografi

“ne, kebetulan saya juga ingin mengembalikan beberapa buku..” ujarku dibalas senyuman Han seonsaeng, lalu ia pergi meninggalkanku

“kau mau ikut?” tanyaku kepada Minah “ke perpus? Shinyoung, kau tahu kan aku anti-perpus..” ujar Minah agak menjengkelkan bagiku

“yes, Miss Bang. I know it..” ujarku jengkel lalu dibalas senyuman khas Minah

“mian, ku tunggu kau di kantin..” ujarnya lalu melambaikan tangannya manis kemudian pergi meninggalkanku

Aku merapikan buku-buku yang akan ku kembalikan lalu mengangkatnya, agak berat sih. Untung saja aku kuat, haha.

Di perjalanan ke perpustakaan, aku kembali teringat dengan ucapan Daehyun yang tak sengaja ku dengar sangat dia sedang mengobrol dengan Kyungsoo, Byunghun, dan Chanshik tadi.

‘aku benar-benar tertarik dengan malaikat’ kata-kata itu terus terngiang di kepalaku. Apakah dia benar adalah iblis, tapi Ibu bilang tidak ada iblis yang seumuran denganku.

Aku menghela nafas pelan. “apa berat?” tanya seseorang

Aku menoleh dan ku dapati Daehyun di sampingku. Sedikit terkejut, untung saja buku-bukunya tidak jatuh.

“lumayan, tapi masih bisa diangkat..” ujarku

“mau ku bantu?” tawarnya “ah, tidak apa-apa..” tolakku

Dia tersenyum lalu mengambil beberapa buku yang ku bawa. “hei, hei. aku bilang tidak apa-apa..” ujarku mencegahnya mengambil beberapa buku lagi

“aku tidak akan membiarkan seorang perempuan membawa barang berat..” ujarnya pelan lalu mengambil hampir semua buku di tanganku

Aku terdiam sebentar, “terima kasih..” ujarku kemudian

Dia tersenyum dan berjalan berbarengan denganku. Tak ada percakapan di antara kami, hanya beberapa suara langkah dan beberapa suara murid-murid kelas lain.

“kau suka ke perpustakaan?” tanya Daehyun kemudian

Aku terdiam sebentar, “tidak juga, aku hanya suka meminjam bukunya..” jawabku

Daehyun menatapku bingung. “kenapa?” aku tersenyum, “karena membaca di rumah lebih menyenangkan..” ujarku “tak penting dengan posisi mana pun, kau lebih nyaman membaca jika itu di rumahmu..” lanjutku

Daehyun mengangguk mengerti, “berarti kau orang yang suka kebebasan, dong?” tanyanya

Aku terkekeh pelan, “sepertinya iya..”

Kami pun mengobrol banyak hingga tak sadar kalau kami sudah sampai perpustakaan.

Daehyun menaruh buku-buku yang di pinjam pada tempatnya, sedangkan aku menandatangani catatan peminjaman. Baik sekali Daehyun, apakah dia benar iblis?

Aku berjalan menuju salah satu rak dan menaruh kembali buku yang sebelumnya ku pinjam. Lalu berjalan ke rak lain.

“mau kemana?” tanya Daehyun begitu melihatku

“ah, meminjam buku. Kalau kau mau kembali, kembali lah..” ujarku

Bukannya kembali, Daehyun mendekatiku dan melihat beberapa buku yang ku ambil.

“semuanya tentang alam dan dunia..” ujar Daehyun. Aku mengangguk, “di dunia ini, banyak sekali hal-hal yang belum kita ketahui, dari yang terkecil maupun yang terbesar sekali pun..” ujarku sambil melihat buku-buku yang ku ambil.

“kalau begitu..” ujar Daehyun pelan lalu menatapku, aku ikut menatapnya lama sekali.

“apakah kau percaya malaikat itu ada?” tanya Daehyun akhirnya. Aku tersentak kaget dengan pertanyaannya, ku coba mengatur ekspresi wajahku.

“malaikat, ya?” ujarku pelan lalu tersenyum

“aku tidak percaya malaikat itu ada. Jika aku adalah malaikat pun, aku tidak percaya jika malaikat itu ada..” jawabku sambil menatap Daehyun dengan senyum

Dia terdiam lalu tersenyum, “begitukah?” tanyanya kemudian

Aku mengangguk dan mengambil buku-buku ku dan membawanya ke penjaga perpustakaan. Daehyun mengikutiku dari belakang.

Itu benar. Aku tak percaya malaikat itu ada, walaupun saat ini aku adalah salah satu dari mereka. Aku tak percaya.

 

***

Daehyun POV

‘aku tidak percaya malaikat itu ada. Jika aku adalah malaikat pun, aku tidak percaya jika malaikat itu ada..’

Siapa dia? Apakah dia benar malakaikat? Atau dia tahu diriku yang ‘sebenarnya’ dan mencoba menutup identitasnya?

“..hyun? JUNG DAEHYUN!”

Aku tersentak karena suara Park seonsaeng yang memanggil ku. Aduh, Jung Daehyun! Apa yang kau lakukan? Bisa-bisanya kau malamun.

“ne, seonsaengnim..” jawabku pelan

“apa kau tahu kita sedang belajar? Apa yang kau lamunkan, HUH!?”

“jwiesonghamnida..” ujarku pelan

“kau itu masih murid baru di sini, jangan cari masalah!”

“ne seonsaengnim..”

Haish!

Aku mulai mengutuk diriku pelan.

 

***

-istirahat

“seharusnya kami bilang padamu kalau Park seonsaeng itu killer..” ujar Chanshik agak menyesal dibalas anggukan Kyungsoo dan Byunghun

“ah, tidak apa-apa. Tadi juga salahku aku melamun..” ujarku

“kau melamun apa?” tanya Byunghun penuh penasaran sehingga membuatku terkejut.

“hoo? Melihat dari ekspresimu..” ujar Kyungsoo tak melanjutkan pembicaraannya namun melihat Byunghun dan Chanshik bersamaan

“yeoja!” ujar mereka serempak

Aku kembali terkejut dan sedikit memuncratkan jus yang ku minum. Untung saja tak mengenai mereka.

“benar?” tanya Chanshik “siapa?” tanya Byunghun “jangan bilang kalau..” Kyungsoo kembali tak melanjutkan pembicaraannya dan kembali lagi menatap Byunghun dan Chanshik

“KIM SHINYOUNG!!?” ujar mereka serempak lagi namun kali ini agak berteriak

Aku kembali terkejut dan mencoba membuat mereka tenang, saat ini semua mata tertuju pada kami.

“sst, kalian ini berisik sekali..” ujarku agak kesal

“jadi benar kau melamunkan Shinyoung?” tanya Chanshik tak percaya. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya

“kenapa? Memangnya ada apa sehingga kau melamunkan Shinyoung?” tanya Byunghun kemudian

Aku terdiam. Ku lihat ketiga temanku itu yang saat ini sedang serius menatapku, menunggu jawabanku. Mereka benar-benar penasaran saat ini.

“mm, tadi aku hanya membantunya membawa buku ke perpustakaan..” ujarku

“kau membantunya?” tanya Kyungsoo, “dia tidak menolak?” tanya Byunghun, “apa kalian mengobrol?” tanya Chanshik

Aku memandang ketiga temanku itu. Mereka masih memasang wajah serius dan penasaran. Aku mengangguk menjawab pertanyaan mereka bertiga, benar kan?

“benar?” tanya mereka serempak tak percaya dengan jawabanku

“mm, walau awalnya dia menolak untuk ku bantu, tapi dia terima saja ketika sudah ku ambil beberapa buku darinya. Kenapa? Kalian aneh sekali..” ujarku setelah melihat mereka melongo mendengar jawabanku

“sepertinya kau berhasil..” ujar Byunghun “he? Berhasil apa?” tanyaku

“mendekatinya. Dia tidak pernah seperti itu kepada namja!” jawab Chanshik

“he?” aku semakin bingung. Mereka saling menoleh dan mengangguk-angguk.

“sepertinya kau punya harapan..” ujar mereka bertiga serempak

“harapan apa?” tanyaku lagi. Mereka bertiga menatapku kesal.

“kau bilang kau tertarik padanya kan!? Tentu saja kau punya harapan untuk mendekatinya!!” ujar mereka kembali dengan nada tinggi

“iya, iya. Maaf..” ujarku lalu tertawa kecil

 

***

Shinyoung POV

“KIM SHINYOUNG!!?”

Ku toleh ke arah suara yang menyebut namaku. Terlihat Kyungsoo, Byunghun, dan Chanshik memasang wajah terkejut menatap orang di depannya, Jung Daehyun.

Kenapa mereka meneriaki namaku?

“kenapa mereka? Apa mereka membicarakanmu?” tanya Minah. Aku mengangkat bahu tak mengerti

Sebenarnya aku penasaran. Bisa saja aku mendekati mereka dan menanyai mereka kenapa menyebut namaku. Tapi saat ini aku sedang makan, berani-beraninya mereka menganggu ku.

“nanti ku tanyakan..” ujarku kepada Minah. Minah mengangguk senang.

 

***

“Kyungsoo-ya..” panggilku

Kyungsoo sedikit terkejut dan menoleh padaku begitu pula kedua sahabatnya dan Daehyun.

“i-iya?” tanya Kyungsoo gugup

Ku ambil tempat dudukku yang memang dekat dengan Daehyun. Ku tatapi keempat orang yang sedang menatapi ku dengan sedikit khawatir.

“boleh ku tanya satu hal?” tanyaku. Byunghun, Chanshik, dan Kyungsoo terlihat menelan ludah mereka, sedangkan Daehyun menutup wajahnya dengan satu tangan.

“kalian membicarakanku tadi?” sambungku. Mereka tersenyum kaku lalu menggaruk kepala mereka yang ku yakini itu tidak gatal. Hei, aku tahu kalian sedang gugup.

“hm, begini Shinyoung-ah..” Chanshik membuka pembicaran

“apa kau mendengarnya?” tanya Kyungsoo kemudian

Aku terkekeh kecil, “hei, siapa yang tak mendengar jika suara kalian sekencang itu..” ujarku kemudian. Terkesan dingin memang, tapi aku sengaja agar mereka mengatakan yang sebenarnya padaku.

“Shi-Shinyoung-ah, kau tahukan teman kita Daehyun ini..” ujar Byunghun kemudian sambil menunjuk Daehyun. Daehyun terbelalak kaget dan memandang temannya itu tak percaya. Kemudian dia menatapku dan tersenyum kaku.

“kenapa Daehyun?” tanyaku kali ini aku tak menampakkan kesan dingin, tapi bingung. Yeah, aku bingung.

“kau tahu, Daehyun-ump!” sebelum Byunghun melanjutkan pembicarannya, Daehyun buru-buru menutupnya dan menatapku sambil tersenyum.

“kau tahu, kemarin aku membantumu di perpustakaan, mereka melihatnya dan memintaku membicarakan hal itu, jadi yah.. ku katakan saja hal yang kemarin..” ujar Daehyun cepat sekali

Aku hanya dapat memasang wajah bingung. Keempat orang di depanku hanya dapat tersenyum dan mengangguk setuju dengan perkataan Daehyun. Aku hanya mengangkat bahuku pelan lalu pergi meninggalkan mereka.

 

***

Author POV

“kalian berhutang ddeokbokki denganku..” kesal Daehyun sambil memandang ketiga teman-yang sekarang menjadi sahabatnya- tersebut

“ini kan gara-gara babo Byunghun ini, harusnya dia yang membelikan ddeokbokki untuk kita..” ujar Chanshik tak terima dibarengi anggukan Kyungsoo

Mereka bertiga menatap Byunghun kesal. Byunghun tertunduk lemas mengakui kesalahannya.

“maaf, aku hanya takut..” ujar Byunghun lemas

“kenapa kau musti takut dengannya! Dia juga manusia!” kesal Kyungsoo dibarengi anggukan Chanshik. Daehyun melihat Kyungsoo dan Chanshik.

“bukannya kalian juga takut tadi?” ujar Daehyun jengkel dengan tingkah kedua sahabatnya itu

Kyungsoo dan Chanshik menoleh lalu tersenyum, “setidaknya kami tidak seperti Byunghun kan..” ujar mereka serempak

Daehyun merasa pikiran sehatnya sedang di uji. Dia memijat pelipisnya pelan sambil beberapa kali menghela nafas. “pokoknya belikan aku ddeokbokki..” ujar Daehyun kemudian

“baiklah-baiklah..”

 

***

“hyung..” panggil Daehyun pelan kepada hyungnya Jung Jinwoon

“ada apa?” tanya Jinwoon tak menoleh kepada Daehyun terfokus pada peta di depannya.

“soal malaikat bernama Kim Shinyoung itu, apa hyung yakin?” tanya Daehyun sama sekali tak berniat mendekati hyungnya itu.

Daehyun hanya berdiri mematung di depan pintu. Sesekali dia melirik hyungnya atau barang-barang di sekitar kamar hyungnya tersebut.

“aku yakin. Aku sudah melihatnya beberapa kali bersama Ibunya Kwon Boa..” jawab hyungnya itu dan masih terfokus pada peta di depannya

“tapi hyung..” ucapan Daehyun terpotong begitu suara alarm yang berarti pekerjaan mereka berbunyi dengan nyaring lewat peta yang mereka pegang masing-masing.

“pekerjaan. Ayo..” ujar Jinwoon dan menghilang begitu saja. Daehyun terdiam, pikirannya kalut. Dia antara yakin dan tidak yakin dengan kehadiran Kim Shinyoung sebagai malaikat. Tapi yang harus dia pikirkan saat ini adalah pekerjaannya sebagai iblis. Tak lama dari itu, Daehyun ikut menghilang.

 

***

Pekerjaan iblis tidak mudah, mereka harus mengusik beberapa manusia di sekitar mereka yang hatinya sedang gundah, galau, sedih, hancur, dsb. Daehyun dan kakaknya merupakan iblis pengusik marah, mereka sering mengusik beberapa anak gang. Iblis berbeda dengan malaikat yang punya tempat kekuasaannya tersendiri. Iblis ada di mana-mana dan kapan saja. Ketika mereka kesusahan mengusik satu manusia, mereka akan datang bergerombolan.

Daehyun menatap sedih manusia di depannya itu yang sedang terusik oleh kakaknya dan teman kakaknya. Sepertinya dia salah tempat hari ini.

Walaupun dia seorang iblis, tapi hatinya lumayan lembut seperti manusia, kadang kalau dia marah dia akan benar-benar menampakkan aura iblisnya. Mungkin hatinya selembut itu karena terlalu lama bersama dengan manusia, terkadang dia merasa manusia itu tidak salah. Manusia itu benar dan mereka para iblis salah.

Dia ingin mengatakan hal itu kepada kakaknya. Tapi dia tahu, kakaknya bukan sembarang orang, kakaknya adalah iblis dari segala iblis mungkin. Paling jahat dan menakutkan.

Tak berapa lama setelah perkerjaan mereka mengusik manusia itu, manusia itu terkekeh dan melihat ke samping, melihat ke arah seseorang dan kebetulan di depannya ada sebuah botol kaca kosong. Di pecahkannya kaca tersebut sehingga banyak kaca yang tajam dihasilkan. Dia berjalan menuju orang yang dia benci itu dan…

Daehyun mengalihkan pandangannya dari pemandangan tersebut, sementara iblis-iblis lainnya tertawa terbahak-bahak.

…yah, dia menusuk orang itu dengan pecahan kaca tersebut. Sungguh menyedihkan.

 

***

Daehyun POV

Dadaku sesak. Aku tak sanggup lagi dengan kehidupan ini. Menjadi salah satu bagian dari iblis terlalu menyesakkan untukku.

Tanpa ku pinta air mataku mulai berjatuhan. Ku eratkan kedua jaketku karena malam ini sangat dingin. Yeah, aku berada di luar. Aku berbohong dengan hyung kalau aku pergi menemui seseorang dan akan bermain sebentar, nyatanya aku malah menangis karena kebodohanku. Betapa menyedihkannya hidupku dilahirkan menjadi salah satu iblis yang kejam ini.

“Daehyun?” sebuah suara menyadarkan lamunanku.

Suara ini, aku tahu pemilik suara lembut dan hangat ini. Cocok sekali untuk menghangatkan hatiku yang dingin ini.

“Jung Daehyun!” panggilnya lagi karena aku tak meresponnya. Ku dongakkan kepalaku, ku lihat orang yang memanggil namaku, sudah ku duga dia Kim Shinyoung.

“hei, sedang apa kau di sini? Rumahmu di sekitar sini? Tunggu! Kau menangis!?” tanyanya bertubi-tubi. Aku terkekeh pelan mendengarnya. Yeoja ini memang menarik.

“kenapa kau tertawa? Apa aku lucu?” tanyanya lagi

Aku terus tertawa. Dia duduk di sampingku lalu memandangku dengan lembut membuat jantungku menjadi tidak beraturan. Ada apa denganku?

“kalau kau mau cerita, aku siap mendengarkan..” ujarnya dengan senyuman manis khasnya

Sepertinya yeoja ini benar-benar seorang malaikat. Terlalu cantik dan menawan untuk seorang manusia biasa.

Aku membalas senyumnya. “tidak ada apa-apa..” ujarku. “aku hanya sedikit merindukan ayahku di Inggris..” sambungku

“ah, benar. Kau dari Inggris..” ujarnya kemudian. Dia kembali memandangku. “tapi wajahmu jelas sekali wajah orang Korea..” sambungnya

Aku kembali tertawa sehingga membuatnya agak jengkel dengan tingkahku. “aku ini memang orang Korea, Ibu dan ayahku menikah lalu pindah ke Inggris. Aku di sini bersama kakakku..” jelasku

Dia hanya mengangguk-angguk mengerti. “pantas saja..” ujarnya kemudian

“kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku menyadari kalau dia keluar malam sendirian

“aku juga sama sepertimu, aku selalu ke sini ketika merindukan ayahku..” ujarnya pelan sambil melihat ke langit. “oh ya? Ayahmu di mana?” tanyaku

Dia menatapku kemudian tersenyum dan melihat langit. “ayahku sudah meninggal satu tahun setelah aku lahir, aku tak mengingat wajah ayahku. Namun berkat foto, aku jadi tahu wajah ayahku..” ujarnya kemudian

“ah, maafkan aku..” sesalku setelah mendengar ceritanya

“tidak apa-apa..” ujarnya dan masih melihat langit. Aku ikut melihat langit. Langit malam hari ini terlihat tak terlalu terang, mungkin karena beberapa bintang yang sedang bersembunyi dari pandangan ini.

Ku lihat Shinyoung, dia tersenyum saat ini. Aku ikut tersenyum. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benakku.

“Shinyoung-ah..” panggilku, “eo?”

“kau mau menemaniku jalan-jalan besok?” “kenapa?”

“karena aku sudah lama tak berkeliling Seoul, kau tahukan aku dari Inggris..”

Shinyoung melihatku, dan aku ikut melihatnya. “kau akan memberikanku apa sebagai gantinya?” tanya Shinyoung penuh harap

Aku berpikir, “mentraktirmu sesuatu, mungkin? Aku bisa mengurusi soal dana, kau hanya perlu menemaniku dan menjadi guide ku..” ujarku

Shinyoung memicingkan matanya melihatku, “kau yakin?” tanyanya dengan senyum licik

“hei-hei, jangan macam-macam kau..” ujarku

Dia terkekeh pelan, “aku tidak akan berpikiran seperti itu, begini-begini aku tahu malu, Jung Daehyun..” ujarnya kemudian

Aku hanya mengangguk-angguk. “mana ponsel mu?” tanyanya

Sedikit bingung, lalu ku serahkan ponselku kepadanya. Dia menekan beberapa nomor dan menelpon, ponselnya berdering dan menandakan bahwa dia menelpon dirinya sendiri.

“itu nomor ku, katakan padaku di mana dan jam berapa kita bertemu..” ujarnya lalu menyerahkan ponselku

“aku pulang dulu..” pamitnya. Aku mengangguk dan dia pergi meninggalkanku

 

***

Shinyoung POV

“aku pulang..” ujarku ketika memasuki rumah kesayanganku ini. Ibu menyambutku dengan senyumannya. Aku suka sekali senyum Ibu.

“kau sudah pulang? Lama sekali. Apa tidak dingin di luar?” khawatir Ibu

Aku menggeleng, “tidak tenang saja, kulitku ini sangat tebal..” jawabku sambil menunjukkan kulitku

Ibu terkekeh pelan, “ahaha, Ibu percaya. Kulitmu itu sangat-sangat tebal, bahkan kau tidak tahu malu jadinya..”

“Ibu! Aku tidak seperti itu!” “iya-iya..”

Aku pergi meninggalkan Ibu yang masih tertawa menuju kamarku. Aku langsung berbaring di kasur dan mengambil ponselku. Tertera beberapa nomor, dan itu adalah nomor Daehyun.

Aku tersenyum sesaat dan memasukkannya ke dalam kontak ku: Daehyunie~

‘trrrt’ betapa terkejutnya aku. Tiba-tiba saja ada pesan masuk. Ku buka pesan itu. Ternyata Daehyun.

 

From: Daehyunie~

Mm, Shinyoung-ah. Besok jam 9 di Cafe ‘M’ di Hongdae, oke?

 

“jam sembilan!?” pekikku

Aku mematung. Gawat, kalau hari libur biasanya aku akan bangun siang, apakah aku bisa bangun jam sembilan? Memangnya dia mau kemana saja? Tunggu! Bukankah aku yang jadi guide-nya! Berarti aku yang harus merencanakannya! Aish! Kurang ajar kau Jung Daehyun!

Aku membalas pesannya dengan penuh rasa yang bercampur aduk.

 

To: Daehyunie~

Baiklah. Kalau sedikit terlambat tidak apa kan?

 

Aku menghela nafas sebentar setelah mengirimnya kepada Daehyun. Ku buka laptopku kemudian mencari tempat-tempat yang enak dikunjungi di Seoul ini.

Tak berapa lama, ada balasan dari Daehyun

 

From: Daehyunie~

Tidak apa-apa, aku bisa mengerti karena kau akan mencari tempat yang bagus untuk dikunjungi besok kan?

 

Daehyun, kau perhatian sekali. Ku maafkan kau.

 

To: Daehyunie~

Tepat sekali! Aku nyaris lupa kalau aku adalah guide mu!

Oh iya, apakah ada suatu tempat yang ingin kau kunjungi?

 

Benar, agar tidak terlalu repot, aku juga harus tanya apakah ada tempat yang ingin dia kunjungi. Jangan berharap aku saja yang merencanakan semuanya. Huh, tak jadi aku memaafkanmu Jung Daehyun.

Lama sekali dia membalas pesan dariku. Mungkin dia sedang berpikir. Kalau begitu aku mencari tempat untuk kami kunjungi saja.

Hm..

“Namsan Tower?” ujarku lalu mengetik Namsan Tower di mesin pencarian online. Tak lama setelah itu pun Daehyun membalas pesanku.

 

From: Daehyunie~

Namsan Tower?

 

Sedikit terkejut setelahnya aku tersenyum. kenapa pemikiran kita sama?

Aku terkekeh kecil dan membalas pesannya.

 

To: Daehyunie~

Kau tak melihat ke dalam otakku kan? Bagaimana bisa kita berpikiran yang sama..

 

From: Daehyunie~

Oh ya? Tak ku sangka kita cocok^^

 

Aku terdiam melihat balasan pesan dari Daehyun. ‘tak ku sangka kita cocok’?

‘deg’ jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Tunggu, apa maksudnya ini?

Jari-jari tanganku tak sanggup mengetik kata di ponselku. Atau lebih baik tak usah ku balas? Anggap saja aku sedang sibuk mencari tempat.

Ugh, ada apa denganku?

Ku letakkan ponselku di tempat tidur, tak memperdulikan pesan dari Daehyun lagi. Kali ini aku mencoba fokus mencari tempat untuk besok.

 

-TBC- kekekekekekeke…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s