My Vampire Boy (One Shot)

My Vampire Boy copy

 

Hello. Holla. Hai. Aloha. Annyeonng~

I’m back with Hyunwoo oppa again~ Kali ini bukan sama Hyosun eonni tapi sama Shinyoung eonni~~ Untuk ff Our Love-nya saya pengen nangis, enggak punya ide untuk tu ff.. T^T

Jangan ditanya kemana ff SIC sama Angel&Devil sejujurnya, saya udah selesai dari kemaren-kemaren buat tu dua ff.. Huahahahaha!!! Jadi saya selingi dulu sama ff lain, ff ini baru aja selesai tadi, haha.. Mumpung lancar dan enggak ada kerjaan.. Heuheu.. Untuk SIC besok saya update deh~ Oke, check dulu ff selingan ini. My Vampire Boy~ Tapi enggak ada kesan vampir-vampirnya xD. Ff-nya panjang loh, 5rb lebih wordnya.. Haha..

 

My Vampire Boy

  • Main Cast            : Kim Shin Young (Ulzzang Yeoja), Lee Hyun Woo (Actor)
  • Support Cast      : You can find it yourself, *wink*
  • Genre                   : Romance, AU, OOC
  • Author                  : dk1317 a.k.a  GDhia/GDhia1

P.S : This is just FF and my other imagine, don’t be plagiat and other that god and I don’t like, and please don’t be silent readers, please leave some comment~

 

Happy Reading~

***

Shinyoung POV

“Shinyoung-ah, mau menjadi pacarku? Ku pikir kita ini jodoh..” ucap seorang namja sambil memakan es krimnya

“tidak terima kasih!” tolak ku dengan kasar

“hei, kasar sekali ucapanmu..”

“aku tidak sudi dengan penghisap darah spertimu..”

Penghisap darah? Ya benar, vampire. Apakah kau percaya dengan vampire? Aku? Tentu tidak.

Setidaknya itu yang ku pikirkan sebelum aku bertemu dengannya..

 

>>flashback

Dimalam musim dingin. Salju perlahan menghujani kota Seoul. Baru saja ku langkahkan kakiku ini dari tempat kerja sambilanku hingga akhirnya suara teriakan perempuan mengagetkanku.

“kyaaaaa!!”

Ku toleh ke arah suara. “suara siapa itu?” tanyaku entah dengan siapa

“mau mencari tahu?”

Ku toleh kepada seseorang yang menanyaiku. Seorang laki-laki berparas cukup tinggi dan imut. Tidak terlalu memakai pakaian tebal yang menurutku sangat tidak cocok untuk malam ini. Wajahnya agak pucat dan matanya berwarna cokelat muda. Sedikit merasa heran, namun ku yakini mungkin karena mataku yang sudah ngantuk saat ini.

Dia menatapku, menunggu jawabanku. Lalu dia tertawa kecil dan menunduk sebentar lalu kembali melihatku.

“kalau tidak biar aku saja. Apakah kau mau menunggu? Sambil pegangi jaketku..” ucapnya lalu melepas jaketnya dan memasangnya padaku.

Apa ini? Aneh sekali. Apa dia tidak kedinginan?

Dia berjalan perlahan menuju sumber suara yang ku yakini berada di samping toko tidak jauh dari sini.  Dia menatap tempat itu lalu tersenyum dan membicarakan sesuatu. Suaranya tak dapat ku dengar sehingga membuatku penasaran dan mulai mendekatinya. Dia masuk ke tempat itu dan entah apa yang terjadi. Ku putuskan untuk berlari ke sana.

Saat ku lihat, kuku-kuku dan tangannya berlumuran darah. Dan ada seorang namja dan yeoja. Seorang yeoja terkapar dengan lehernya yang penuh darah dan namja, aku tidak tahu harus mengatakannya bagaimana, aku merasa mual, ingin muntah.

Ku tatap namja tadi, dia menjilati darah ditangannya lalu berbalik melihatku.

“ah, harusnya ku katakan kau jangan ke sini..” ujarnya santai tak memperdulikan diriku yang sedang terkejut

Aku terduduk lemas tak percaya dengan apa yang ku lihat. Salju-salju ditempat itu yang tadinya berwarna putih kini berwarna merah darah. Ku tatap kembali namja itu sambil sedikit menahan rasa mualku.

“si-siapa kau?” tanyaku

“aku? Lee Hyunwoo..”

“buk-bukan. Mak-maksudku..” “ah! Maksudmu, makhluk apa aku ini? Aku vampire. Salam kenal, Kim Shinyoung..”

Kembali terkejut aku dibuatnya. Ba-bagaimana dia tahu namaku? Padahal aku tidak mengatakan namaku..

<<flashback end

 

Begitu pertemuan pertama kami yang aneh namun nyata. Sejak saat itu, dia sering berkunjung ke cafe tempat ku bekerja dan tentunya aku sering menghindarinya karena takut. Sudah satu bulan berlalu dan sekarang aku sudah terbiasa dan tidak takut lagi dengan kehadirannya. Dia aneh, tiba-tiba datang tanpa ku duga. Yang lebih anehnya, dia selalu datang disaat aku butuh pertolongan. Seperti saat itu, seperti seminggu setelah kami bertemu.

>>flashback

“awh!”

Tak sengaja aku terjatuh karena jalanan yang licin. Kakiku terasa sangat perih. Sepertinya keseleo.

Aku berdecak kesal sambil berusaha berdiri. Walau sakit, harus ku tahan karena saat ini aku tak bisa meminta tolong kepada siapa pun karena sudah malam dan jarang sekali orang lewat.

Perlahan aku mencoba berjalan. Tiba-tiba aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang. Aku mulai takut dan mencoba berlari, namun apa daya kakiku sakit sekali.

Langkah orang yang mengikutiku semakin mendekat dan mendekat. Tiba-tiba dia memegang pundakku, aku berhenti dan menutup mataku.

“kau mau kemana dengan kaki seperti itu? Kenapa tidak menginap saja di suatu tempat?” ucap orang itu

Aku tetap menutup mataku dan mencoba kembali berjalan, namun orang tersebut menghentikan ku dan menarikku kearah sebaliknya. Aku tak bergerak sama sekali sementara orang tersebut terus memaksaku berjalan.

“biar aku antar ke tempat yang nyaman..” ujarnya dan terus menarikku, memaksaku untuk mengikutinya.

Aku tetap dalam posisiku walau terkadang sedikit bergerak karena tarikan orang tersebut. Aku menggelengkan kepalaku menolak tawaran orang tersebut tapi tetap saja dia memaksaku.

Air mataku mulai menetes. Orang tersebut menghentikan aksinya.

“inilah akibatnya kau tidak mau mengikutiku. Ikuti saja aku!” ujarnya dengan nada tinggi yang membuatku semakin takut

Dia kembali menarikku dan aku pasrah saja mengikutinya sambil terisak. Masih tak ku buka mataku, aku berdoa dalam hati.

‘tuhan tolong aku, ku mohon..’ batinku

Tiba-tiba.. ‘bruk!’

Aku terkejut. Lepasan tangan orang tadi terlepas. Begitu ku buka mataku. Seorang namja berdiri di depanku sambil memegang lengan orang yang hendak membawaku tadi.

“dia kekasihku. Jangan macam-macam..” ujar namja itu sedetik kemudian orang tersebut berlari ketakutan seperti melihat hantu

“te-terima kasih..” ujarku sambil memegang lenganku yang ditarik dan menunduk kepadanya

Namja itu membalikkan badannya, aku pun mengangkat kepala ku.

“Lee.. Hyun.. Woo..” ujarku gugup

Dia tersenyum dan mengusap rambutku pelan. “kau masih ingat namaku rupanya..” ujarnya

<<flashback end

 

Dan saat ini, bisa dikatakan kalau aku sedang membalas budi. Karena dia terus menolongku, hari ini aku mentraktirnya es krim.

“tapi, tidak biasa kau mau mentraktirku..” ujarnya

Aku terdiam mendengar perkataannya. Aku manatapnya dan dia balas menatapku dengan bingung. Kemudian aku menghela nafas.

“harus ku akui hal ini..” ujarku

Hyunwoo memicingkan matanya, “apa? Kalau kau menyukaiku? Aku tahu itu, kau saja yang tidak mau mengakuinya..” ujarnya sambil senyam senyum tidak jelas

“MWO!? YA! Ku katakan kepadamu hal ini, oke? Kau itu aneh! Sok keren! Sok oke! Terlalu percaya diri! Dan aku tidak akan pernah menyukaimu!” kesalku

Semua tatapan tertuju kepada kami. Dia mengerjabkan matanya kaget dengan ucapanku. Aku langsung menutup wajahku dengan kedua tanganku dan mengecak rambutku kesal.

“heish!” ku ambil tasku dan berangkat dari tempat dudukku.

“sudah mau pulang?” tanyanya ikut berangkat dan menyusulku

 

***

“kenapa buru-buru seperti itu?” tanyanya

Aku tak menjawab pertanyaannya dan hanya diam berjalan dengan kesal. Aku pun berhenti dan berbalik menghadapnya.

“kau! Aku benci padamu! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!” kesalku dan berjalan meninggalkannya yang hanya diam

 

***

Author POV

Shinyoung memakan dengan lesu sarapannya pagi ini. Dia tidak semangat seperti biasa, itulah yang dipikirkan kakaknya-Kim Himchan-saat ini.

“ada apa denganmu? Apakah kemarin terjadi sesuatu?”

Shinyoung tersadar dari lamunannya begitu kakak satu-satunya mengajukan pertanyaan.

Shinyoung hanya tinggal berdua dengan kakaknya karena kedua orangtuanya sudah meninggal dunia saat Shinyoung berumur 12 tahun dan kakaknya berumur 15 tahun. Awalnya mereka tinggal bersama nenek mereka, setelah kakak Shinyoung lulus SMA mereka tinggal berdua saja.

“ani, tidak terjadi apa-apa..” bohong Shinyoung

“kalau begitu cepatlah sarapan, nanti kau akan terlambat. Aku pergi dulu..”

“eo, hati-hati oppa..”

 

***

“ah! Akhirnya kau datang juga, Shinyoung-ah!” teriak salah satu teman Shinyoung-Bang Minah-sambil menariknya menuju bangku

“ada apa?” bingung Shinyoung sambil melihat ketiga sahabatnya-Minah, Bomi, dan Luna-menatapnya dengan serius

“akan ada murid baru di kelas kita!” ucap mereka serempak

Shinyoung mengerjabkan matanya, belum memasukkan ucapan ketiga sahabatnya ini sepenuhnya ke dalam otak. Ketiga sahabatnya mulai tak sabar menunggu reaksi Shinyoung.

“lalu?” pertanyaan Shinyoung membuat ketiga sahabatnya geram dan kesal.

“berita heboh, Kim Shinyoung! Heboh! Dan katanya lagi, dia tampaaan~~” ujar Bomi semangat dibarengi anggukan semangat juga oleh Minah dan Luna

“ya, Yoon Bomi, Bang Minah, Park Luna! Mau seperti apa pun rupanya, kalau aku tidak tertarik ya tidak tertarik..” ujar Shinyoung santai lalu menaruh tasnya

“Kim Shinyoung, kau tidak asyik..” rengek Luna sambil memukul Shinyoung pelan

Shinyoung terkekeh pelan dan sesaat kemudian bel masuk berbunyi.

Park seonsaeng memasuki ruang kelas sambil tersenyum seperti biasa.

“kalian sudah tahu kan desas-desusnya. Kalau begitu langsung kita persilahkan saja..” ujar Park seonsaeng sambil mempersilahkan murid baru itu untuk masuk.

Semuanya langsung ricuh terutama perempuan dan Shinyoung? Kaget setengah mati. Tanpa dia sadari, Shinyoung berangkat dari duduknya dan menunjuk murid pindahan itu. Semua pandangan tertuju pada Shinyoung.

“ka-kau! Bagaimana bisa!?” pekik Shinyoung

Yang ditunjuk hanya tersenyum. “annyeong Shinyoung-ah..” sapanya sambil melambai ramah kepada Shinyoung

 

***

Hyunwoo POV

“aku kembali..”

Aku melesat cepat menuju ruangan kakakku-Lee Minhyuk-begitu pulang dari traktiran Shinyoung.

“hyung..” panggilku, “eo?” tanya Minhyuk hyung tanpa menoleh ke arahku

“besok aku sudah bisa masuk sekolah itu kan?” tanyaku

Minhyuk menoleh lalu tersenyum, “kau benar-benar jatuh cinta padanya, eo?” tanya Minhyuk hyung sambil terkekeh

Aku hanya menggaruk tengkukku dan duduk di sampingnya, “salahmu sendiri kenapa menunjukkan potonya padaku..” jawabku pelan

Minhyuk hyuk mengacak rambutku pelan, “eo. Kau sudah bisa bersekolah mulai besok..”

“gumawo, hyung!”

 

***

“kalian sudah tahu kan desas-desusnya. Kalau begitu langsung kita persilahkan saja..” ujar Park seonsaeng di dalam kelas. Aku hanya dapat tersenyum dari luar.

Park seonsaeng kemudian menyuruhku masuk. Begitu aku masuk entah mengapa menjadi ricuh. Ku arahkan pandanganku ke depan sambil tersenyum.

‘grak’ seseorang berangkat dari duduknya. Aku menoleh dan ternyata orang tersebut menunjuk kearahku. Dia, Kim Shinyoung.

“ka-kau! Bagaimana bisa!?” pekik Shinyoung

Aku tersenyum, sudah ku duga dia akan bereaksi seperti ini, “annyeong Shinyoung-ah..” sapaku sambil melambai ke arahnya.

Dia langsung terduduk tak percaya, aku tetap tersenyum. sementara semua menoleh padanya dan memeberikannya banyak pertanyaan tentang ku.

‘brak brak brak’ “diam semuanya, biarkan siswa baru memperkenalkan dirinya terlebih dahulu..”

“ne, kamsahamnida seonsaengnim. Namaku, Lee Hyunwoo. Mulai hari ini menjadi salah satu murid di sini. Salam kenal..”

“memang perpindahannya bisa dibilang telat, aku harap kalian dapat berteman akrab dengannya. Baiklah, apakah ada pertanyaan untuknya..”

Semuanya mengangkat tangan kecuali Shinyoung. “hei-hei, ku beri lima orang saja. Yoon Bomi, Min Suga, Kim Ravi, Bang Minah, dan Park Luna..”

“assa! Kita bertiga dapat!” ujar tiga perempuan yang duduk di depan dan di samping depan Shinyoung.

“aku Bomi, aku mau bertanya apa hubunganmu dengan Shinyoung?”

“ya!” panggil Shinyoung begitu mendengar pertanyaan Bomi. Bomi hanya menjulurkan lidahnya.

“aku Minah, sejak kapan kau kenal Shinyoung?” “ya!” Shinyoung kembali kesal dengan pertanyaan Minah, kini dia menatap satu lagi temannya dengan tajam.

“aku Luna, apa kau punya pacar?”

“aku Suga, kau pindahan dari mana?” “aku Ravi, kau jago apa?”

Aku mengangguk-angguk, aku senang dengan pertanyaan mereka.

“aku dari Inggris, kemarin aku libur musim dingin dan akhirnya hyungku menyuruhku untuk pindah ke sini dan tinggal bersamanya. Aku jago berkelahi dan sepak bola, hehe. aku kenal Shinyoung sudah cukup lama. Hubunganku dengan Shinyoung? Lebih dari teman, mungkin? Aku tidak punya pacar, tapi aku punya orang yang ku suka. Sekian..” jawabku lalu tersenyum

Saat beberapa orang hendak kembali bertanya, bel pelajaran pertama berbunyi.

“cukup sampai di sini. Lee Hyunwoo haksaeng, kau duduk di belakang Kim Shinyoung..”

“ne, kamsahamnida seonsaengnim..”

Park seonsaeng keluar dari kelas dan aku langsung ditarik oleh beberapa orang.

“aku Daehyun. Kau beneran dari Inggris?” aku menatap Daehyun lama lalu tersenyum dan mengangguk

“aku Hongbin. Sebenarnya apa sih hubunganmu dengan Shinyoung?” “kan sudah ku jawab tadi..”

“tapi aku tidak puas dengan jawabanmu!” kesalnya. Aku hanya terkekeh.

“walaupun begitu, salam kenal dan selamat datang di kelas kami..”

Aku mengangguk dan segera berjalan menuju bangku ku. Aku terus melihat Shinyoung sambil berjalan menuju bangku dan dia juga seperti menungguku. Saat aku sudah duduk di bangku ku dia berbalik menghadapku.

“kenapa bisa?” tanyanya. Aku hanya mengangkat kedua bahuku pura-pura tidak tahu.

“hyungku yang meminta..” jawabku. Dia memasang wajah kesal lalu tertunduk kemudian kembali menatapku. “kau dari Inggris? Kenapa tak cerita kepadaku?” tanyanya lagi

“sejak kapan kau tertarik dengan ceritaku?” aku tanya balik sambil tersenyum jahil.

Knock out sepertinya, karena dia tidak menjawab dan hanya terdiam mematung mendengar pertanyaan.

“aku, em.. er.. yah, hanya saja.. mm, haish! Pokoknya kau jelaskan padaku istirahat nanti!” kesalnya dan kembali pada posisinya semula. Tak berapa lama, Kim seonsaengnim memasuki ruang kelas.

 

***

-istirahat- Author POV

Shinyoung yang langsung menarik Hyunwoo begitu bel istirahat berbunyi malah langsung dikelilingi teman sekelas.

“kau bilang kau jago berkelahi? Kenapa kau bilang seperti itu?” tanya Ravi

Hyunwoo melihat Ravi dan memakan rotinya. “di Inggris aku sering diganggu, tapi mereka semua kalah denganku, makanya ku pikir kalau aku jago berkelahi..” jawab Hyunwoo dan langsung ditatap yang lainnya

“kau jago sepak bola, kapan-kapan ayo main bareng..” ujar Ravi lagi dan langsung disetujui oleh Suga, Daehyun, dan Hongbin. Hyunwoo mengangguk mengiyakan ajakan mereka.

Daehyun memperhatikan Shinyoung yang berbisik-bisik dengan Hyunwoo.

“kalian cocok loh, kenapa tidak pacaran?” tanya Daehyun sambil memakan ramennya sehingga membuat Hyunwoo dan Shinyoung menatapnya kaget

“aku setuju!” ujar Minah dan Suga

Hyunwoo menatap Shinyoung kemudian tersenyum jahil, “benarkan? Sudah ku bilang kita cocok, kenapa kau menolakku, eo?” tanya Hyunwoo kepada Shinyoung yang sedang memijit pelipisnya.

“eh? Jangan-jangan orang yang kau sukai itu, Shinyoung?” tanya Luna

Hyunwoo mengangguk mantap. “Ya, Kim Shinyoung kenapa kau menolaknya?” tanya Bomi

Shinyoung terus memijit pelipisnya yang berdenyut-denyut. Saat ini dia pusing, sangat pusing.

“kalian tidak mengerti, aku punya alasan sendiri untuk menolaknya, ani! Untuk tidak menyukainya..” ujar Shinyoung sehingga membuat semuanya menghentikan kegiatan mereka.

“ke-kenapa menatap ku seperti itu?” tanya Shinyoung gugup karena mereka semua memandangi Shinyoung

“begitu benci kah kau dengan laki-laki, Kim Shinyoung? Kau membuatku terluka..” ujar Suga pelan sambil menunduk dan pura-pura mengusap air mata yang seharusnya memang tidak ada.

“aku mengerti perasaanmu, Hyunwoo-ya..” ujar Ravi sambil menggenggam erat tangan Hyunwoo

“lebih baik kau bersama ku, Hyunwoo-ya. Wanita ini tidak pantas untukmu..” ujar Daehyun dan ikut menggenggam tangan Hyunwoo bersama Ravi

“uhuk-uhuk..” Kyungsoo tersedak makanannya begitu mendengar penuturan Daehyun

“Jung Daehyun, kau selingkuh dari ku? Padahal, aku sudah membelikanmu es krim..” ujar seseorang yang baru datang membawa dua buah es krim

“Hongbin-ah!? Oh, maafkan aku!” ujar Daehyun lalu berangkat dan memegang tangan Hongbin lalu mengambil salah satu es krim dan memakannya, “ini enak sekali, terima kasih..”

Bomi, Minah, Luna, Eunji, dan Dasom yang sedari tadi menahan tawa akhirnya tertawa lepas begitu melihat adegan Daehyun-Hongbin.

“bisa kalian hentikan? Kalian membuatku merinding!” ujar Minah sambil menggosok-gosok kedua lengannya.

Shinyoung dan Hyunwoo yang sedari tadi terpaku melihat drama di depan mereka akhirnya ikut tertawa.

“akhirnya kalian tertawa juga. Aku tidak tahu apa alasanmu itu Shinyoung-ah, tapi kalau itu pribadi, kami tidak akan memaksamu..” ujar Suga

Shinyoung mengusap pelan air matanya yang jatuh karena tertawa. “gumawo..” ucapnya

 

***

-pulang sekolah-

Shinyoung pulang sedikit terlambat hari ini karena diminta tolong oleh Yoo seonsaeng menyalin sesuatu. Shinyoung menghela nafas lega begitu diizinkan pulang.

“capeknya..” ujar Shinyoung lalu begitu masuk ke dalam kelas

“oh? Sudah selesai?” tanya seseorang

Shinyoung menoleh, ternyata dia adalah Hyunwoo. Shinyoung hanya mengangguk dan berjalan menuju bangkunya untuk mengambil tas dan berjalan kembali keluar kelas. Hyunwoo mengikutinya.

“karena anak-anak yang lain, aku jadi tidak dapat mendengar penjelasanmu. Nanti malam saja saat aku pulang dari kerja sambilan. Kau akan datang kan? Biasanya juga kau datang..” ujar Shinyoung lemas

Hyunwoo hanya mengangguk dan mengirinya berjalan. “jadi, kau tidak membenciku lagi?” tanya Hyunwoo

Shinyoung menoleh kepada Hyunwoo, “maksudmu?”

“kemarin. Kau bilang kau membenciku dan tak ingin melihatku lagi..” jawab Hyunwoo

“ah..” Shinyoung menghentikan langkahnya, “masalah itu, maaf. Aku terlalu emosi saat itu..” sambungnya dan kembali melanjutkan langkahnya

“hm, jadi kau tidak membenci ku lagi kan? Kau masih ingin melihatku kan? Apakah itu pernyataan cinta?”

Shinyoung melihat Hyunwoo tajam lalu mencubit lengannya. “enak saja! Walau bagaimana pun, aku tidak akan pernah menyukai makhluk penghisap darah sepertimu!?” kesal Shinyoung dan meninggalkan Hyunwoo yang merintih kesakitan walaupun sebenarnya tidak sakit karena dia kebal.

“oh ya? Aku tidak yakin, Kim Shinyoung..” ujar Hyunwoo lalu menyusul Shinyoung

 

 

***

Hyunwoo POV

“jadi, keluargaku pindah ke Inggris sedangkan hyungku tetap di korea, kemarin aku liburan musim dingin terus hyungku mengajakku tinggal bersama, jadi aku dipindahkan ke sekolah itu..” jelasku setelah Shinyoung habis-habisan meyeramahiku karena aku tetap tidak mengatakan alasanku pindah sekolah.

“benar begitu?” tanyanya lagi, “iya, benar..” jawabku

Shinyoung menatapku tak percaya kemudian tersenyum. “baiklah, aku percaya..” ujarnya

“lalu, keluargamu yang di Inggris, apa semuanya..” Shinyoung tak menyambungkan perkataannya dan menatapku, aku mengangguk mengerti apa yang akan ditanyakan olehnya, “bisa dikatakan semuanya..” jawabku

Dia mengangguk-angguk mengerti. “kira-kira ada berapa keluarga seperti mu di korea ini?” tanyanya kemudian

Aku berpikir, “berapa ya? Terakhir kali, hyung bilang ada sepuluh keluarga kalau tidak salah..” jawabku

Dia menatapku kaget, “sepuluh? Itu hanya keluarganya kan? Dan belum sampai ke keturunannya?”

Aku mengangguk, “aku adalah keturunan ke-502. Keturunan terakhir kami adalah Lee Chan, keturunan ke-901..”

Dia kembali menatapku kaget. Sepertinya matanya akan keluar. Haha.

Dia tak berbicara hanya memegang pelipisnya, berpikir. Aku terkekeh melihatnya begitu serius. Kemudian dia menatapku lalu menunjukku.

“berapa umurmu?” tanyanya. Aku mengangkat kedua alisku lalu berpikir, “mm, 321 atau 322, ya?”

Dia kembali terkejut dan mengepal jarinya yang tadi menunjukku, “keturunan terakhir di keluargamu, umurnya berapa?” tanyanya lagi. Aku kembali berpikir, “hm, 98 atau 99..”

“heol daebak..” ujarnya melemas, “aku hanya bercanda, haha.. kami keturunan 500 sampai 901 masih baru, maksudnya baru lahir. Aku seumuran denganmu kok. Hyungku juga lahir tahun 1990, dan keturunan terakhir Lee Chan lahir tahun 1999..” ujarku.

Shinyoung langsung memberikan tatapan tajam kepadaku.

Shinyoung kembali berpikir. Selama perjalanan pulang ini dia terus berpikir. Sesekali dia menatapku dan kembali akan bertanya namun tidak jadi. Dia terus berpikir dan berpikir.

“oh iya, apa kalian tidak memiliki keturunan lagi?” tanya Shinyoung akhirnya

Aku tersentak mendengar pertanyaan Shinyoung lalu tersenyum. “dari keturunan ke 500 sampai keturunan ke-901 ini, kami sedang mencari takdir kami. Mencari takdir itu tidak mudah. Kalau dia juga seorang vampir kami akan lihat latar belakang dan keluarganya, jika seorang manusia..” aku menggantungkan ucapanku dan melihat Shinyoung.

Shinyoung yang merasa aku melihatnya menoleh dan bingung. Aku tersenyum, “jika seorang manusia, kami mencari keluarga yang mau menerima dan setia dengan kami..” sambungku

Shinyoung kemudian mengangguk-angguk, “repot sekali ya..” ujar Shinyoung

Aku hanya dapat tersenyum miris. Hatiku sedikit sesak menceritakannya.

Tanpa disadari, kami sudah sampai di rumah Shinyoung. Shinyoung melambaikan tangannya.

“sampai jumpa besok. Ah, Hyunwoo-ya!” panggilnya

Aku menoleh, “wae?”

“boleh ku tanya nama dan pekerjaan hyungmu?” tanyanya

Aku mengangkat kedua alisku, “tentu. Nama hyungku Lee Minhyuk. Dia memiliki dua toko di Dongdaemun dan Gangnam. Wae?” tanyaku

Dia berpikir, “sepertinya aku pernah dengar. Ya sudah, sampai jumpa..”

Dia melambaikan tangannya dan masuk kedalam rumah.

Aku tersenyum. “kau bukan pernah dengar, kau kenal dengannya..” gumamku lalu menghilang dari rumah Shinyoung

 

***

Shinyoung POV

Sudah ku duga!

“aaah, eottokke! Dia adik Minhyuk oppa! Pantas saja aku merasa wajahnya mirip dengan seseorang, aah eottokke!!”

Aku terus berguling-guling di tempat tidurku sambil sesekali menggigit gulingku. Haish! Sial, lagi-lagi aku harus terjebak dalam situasi aneh ini! Kalau saja Minhyuk oppa bukan teman sekaligus rekan bisnis Himchan oppa sudah ku kutuk keluarga Lee Minhyuk dan Lee Hyunwoo itu! Aaish!

Kalau saja waktu itu aku tidak berbuat hal memalukan di depan Minhyuk oppa! Kalau saja waktu itu aku tidak menoleh ke arah teriakan dan tahu kalau Hyunwoo seorang vampir dan kalau saja waktu itu Minhyuk oppa tak menolongku dan kalau saja waktu itu Hyunwoo juga tak menolongku!

Aaaaaaaaah!! Pantas saja aku sering melihat mereka berdua! Tunggu, kalau begitu Minhyuk oppa juga vampir. Apakah Himchan oppa tahu hal ini?

‘tok tok tok’ ketukan dari pintu kamarku membuat ku tersadar

“Shinyoung-ah, kau sudah pulang?” tanya Himchan oppa dari luar kamarku

“eo..” jawabku. Aku berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamarku begitu Himchan oppa hendak memasuki kamarnya.

“oppa..” panggilku. Himchan oppa menoleh, “boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku

 

***

Himchan oppa memberikanku secangkir cokelat hangat.

“ada apa?” tanyanya. Aku meminum cokelat hangatku dan menatap Himchan oppa.

“oppa, boleh aku kutuk keluarga Minhyuk oppa?” tanyaku

Himchan oppa menatapku dengan tatapan datar-_- “lagi-lagi kau berkata seperti itu. Kali ini apa yang dilakukan Minhyuk? Apakah Minhyuk melamarmu lagi?” tanya Himchan oppa seraya terkekeh

Aku menggeleng, “ani. Adiknya menembakku..”

“buuuph!” Himchan oppa menyemburkan teh yang diminumnya begitu mendengar perkataanku.

“lima kali..” sambungku sehingga membuatnya makin terkejut dan nyaris menumpahkan tehnya

“ka-kau bertemu adiknya? Bagaimana bisa?” tanya Himchan oppa

“aku bertemu dengannya satu bulan yang lalu di depan cafe tempatku bekerja. Setelah saat itu dia sering mengunjungiku, dan hari ini dia pindah ke sekolah ku dan satu kelas denganku..” jawabku membuat mata sipit Himchan oppa terbuka lebar

“tak ku sangka, sepertinya mereka benar-benar akan membuatmu menjadi anggota keluarga mereka, haha..” ujar Himchan oppa sambil terkekeh pelan

Aku terdiam melihat Himchan oppa yang terkekeh lalu meminum kembali tehnya.

“oppa tahukan kalau mereka keluarga vampir..” ujarku

Himchan oppa menghentikan kegiatan meminum tehnya. Dia menaruh kembali tehnya ke atas meja. Dia kemudian melihatku.

“ternyata kau sudah tahu..” ujar Himchan oppa pelan dan tenang

Aku sedikit terkejut, “apakah oppa dapat merelakan ku menjadi salah satu bagian dari mereka?”

Himchan oppa melihatku lalu tersenyum kecil.

“Shinyoung, dengarkan aku. Aku berteman dengan baik dan sangat kenal dengan baik Minhyuk. Aku tahu Minhyuk dan keluarganya orang yang seperti apa. Dan..” Himchan oppa melihatku. Aku menunggunya melanjutkan pembicaraannya

“dan, aku katakan padamu hal ini. Aku juga menyukai salah satu dari mereka, aku menyukai keturunan mereka yang ke-501, Han Sunhwa..” sambung Himchan oppa

Aku begitu terkejut mendengar perkataan Himchan oppa, jadi.. Himchan oppa menyukai salah satu dari mereka..

“se-sejak kapan?” tanyaku. Himchan oppa menatapku, “setengah tahun yang lalu..” jawabnya

Aku berpikir sebentar. Setengah tahun bukannya saat itu..

“saat kecelakaan yang membuat jantungku nyaris tak berfungsi dan membuatku tidak bersemangat untuk kembali hidup. Kau dan dia meyakinkanku, Shinyoung-ah.. Kalian berdua membuat hidupku berarti, kemudian dia memperkenalkanku kepada keluarganya dan aku bertemu dengan Minhyuk untuk berbisnis bersama dan akhirnya, aku.. ani. Kita seperti sekarang ini..”

Aku terdiam mendengar cerita Himchan oppa. Apakah Himchan oppa menyimpan semua ini karena takut aku akan kecewa dengannya?

“aku akan senang jika ‘kita’ dapat menjadi bagian dari mereka..”

Aku memikirkan perkataan oppa. Sangat malah. Himchan oppa terus melihatku dan menunggu dengan setia jawabanku.

“oppa aku.. aku tidak apa-apa jika kau menyukai salah satu dari mereka, dan jangan kau sembunyikan hal itu.. untuk masalahku.. aku tidak tahu apa perasaanku untuk mereka, ani! Untuk Lee Hyunwoo..” ujarku pelan

“Hyunwoo? Jadi kau terus memikirkannya dari tadi, eo?” tanya Himchan oppa dengan nada menggoda

“m-mwo!? Ani! Tidak sama sekali, u-untuk apa aku memikirkan si bodoh itu!” ujarku gugup lalu kembali ke kamarku

“selamat malam oppa!” ujarku lalu menutup pintu kamarku rapat

Aku terduduk lemas di balik pintu kamarku. Apa? Aku memikirkan Hyunwoo? Benarkah? Bagaimana bisa? Tidak mungkin!

‘tok tok’ Himchan oppa mengetuk pintu kamarku

“Shinyoung-ah, pikirkanlah masalahmu dengan Hyunwoo. Ingat, kau sendiri yang mengatakan hal ini, Hyunwoo sudah menembakmu lima kali..” ujar Himchan oppa seraya terkekeh di balik pintu kamarku

“oppa, kau berisik!” kesalku dan membuat Himchan oppa kembali terkekeh

Aku berlari menuju tempat tidurku dan menenggelamkan tubuhku dibawah selimut. Aku meraih ponselku, terdapat satu pesan.

From: Hyunwoo

Kau sudah tidur? Mimpikan aku ya~

Aku menaruh ponselku kasar setelah membaca pesannya.

Heish! Kau membuat mood ku tidak baik Lee Hyunwoo!!

 

***

Author POV

“Kim Shinyoung! Ayo bangun! Nanti kau telat!” teriak Himchan dari arah dapur memanggil adik kesayangannya untuk bangun dari tidur lelapnya

Shinyoung membuka matanya pelan sambil meraba-raba ponselnya. Ditatapinya jam pada ponselnya yang menunjukkan pukul tujuh. Dia berangkat dari tidurnya dan keluar menuju Himchan.

“oppa, sekarang masih jam tujuh dan kau bilang aku akan terlambat..” ujar Shinyoung agak kesal dibangunkan secara paksa

“haha, itu adalah cara yang tepat untuk membangunkanmu. Kenapa? Kau memimpikan Hyunwoo?” tanya Himchan dengan nada menggoda

“oppa!” kesal Shinyoung kembali menjadi

“mian. Ayo makan, lalu cuci muka mu, sikat gigimu dan berangkat ke sekolah..” ujar Himchan

“arasseo..”

 

***

Shinyoung POV

“hoaaam..” aku mengantuk sekali karena dibangunkan cepat oleh Himchan oppa. Ah, Himchan oppa mengganggu mimpi indahku.

Sepertinya aku datang cepat hari ini, lihat saja teman sekelas belum satu pun yang datang.

‘greek’ “eo? Shinyoung? Kau sudah datang? Tumben sekali..” ujar Kyungsoo

Aku mengusap mataku pelan, “Himchan oppa membangunkan ku cepat sekali..”

“eo? Kim Shinyoung, cepat sekali kau hari ini..” ujar Suga begitu memasuki kelas

Aku sedikit jengkel, “tidak boleh?”

“he? Shinyoung sudah datang?” tanya Minah juga begitu dia masuk ke dalam kelas

Aku kembali jengkel dan tak menjawab pertanyaan Minah.

“eo!? Shinyoung-ah! Tumben sekali kau datang cepat!” ujar Bomi

Oke, aku jengkel. “kenapa pertanyaan kalian sama?” kesalku

Semua saling menoleh lalu melihatku, “karna kau selalu datang lima menit sebelum bel masuk..” ujar mereka serempak

Demi apa pun, aku ingin meninju mereka satu persatu.

“selamat pagi!” sapa seseorang begitu masuk ke dalam kelas, dia adalah Hyunwoo.

“pagi, Hyunwoo-ya!” Suga balas menyapa

Hyunwoo berjalan menuju bangkunya dan mataku terus melihatnya. Sesampainya dia di bangkunya, aku langsung membalikkan badanku ke arahnya.

“aku sudah tahu semuanya..” ujarku

Dia menatapku bingung lalu menaruh tasnya, “tentang apa?” tanyanya

“oppa ku..”

Dia terdiam lalu tersenyum, “akhirnya dia mau mengungkapkannya kepadamu..”

“aku tidak menyangka benar-benar tidak menyangka. Lalu, kau tahu aku dari Minhyuk oppa dan Himchan oppa, kan? Makanya saat pertama bertemu kau tahu namaku! Dan kau pasti tahu tempat ku bekerja dari Himchan oppa kan!?” tanyaku panjang dan lebar. Saat ini semua yang ingin ku tanyakan kepadanya, bergabung menjadi satu.

Hyunwoo terdiam dan hanya mengangguk sambil mengerjabkan matanya.

“ah, Himchan oppa! Tak ku sangka kau.. haish!” aku mengacak rambutku frustasi lalu menenggelamkan kepalaku ke lipatan tanganku yang berada di atas meja.

Aku kembali mendongakkan kepalaku dan meraih ponselku lalu mengetik pesan untuk Minhyuk oppa dan Himchan oppa.

To: Minhyuk oppa, Himchan oppa

Jahat!

Lalu mengirimnya sebanyak mungkin.

 

***

Hyunwoo POV

Ku lirik ponsel Shinyoung. Dia mengirim pesan untuk Minhyuk hyung dan Himchan hyung. Aku langsung tersenyum melihat pesannya dan melihatnya mengirim berkali-kali. Dia pasti sangat kesal.

Aku juga mengambil ponselku dan mengirim pesan kepada Minhyuk hyung dan Himchan hyung

To: Minhyuk hyung, Himchan hyung

Gumawo hyung~

Tak lama setelahnya, Minhyuk hyung membalas pesanku

From: Minhyuk hyung

Shinyoung meneror kami, seram..

Aku terkekeh..

To: Minhyuk hyung

Itu urusan kalian dengannya.. kkk..

Aku mematikan ponselku begitu menyadari Shinyoung memperhatikanku. Aku menatapnya yang hanya menatapku. Dia berganti posisi menjadi menopang dagunya pada satu tangannya yang berada di mejaku dan tetap menatapku.

Aku bingung, entah kenapa saat ini aku menginginkan kekuatan pembaca pikiran agar aku dapat membaca pikiran Shinyoung saat ini. Sialnya, aku hanya punya kekuatan memukul dan menendang, apa itu? Aku tidak mengerti..

Terbesit ide gila dari kepalaku. Aku ikut menopang dagu pada tanganku yang ikut berada di mejaku. Saat ini jarak kami menjadi cukup dekat. Shinyoung masih tetap menatapku, perlahan.. Perlahan.. Aku mendekatkan wajahku dan alhasil, jarak kami kira-kira 20 cm saat ini.

“apa aku tampan?” tanyaku kemudian

Dia menggeleng. “lalu kenapa kau menatapku seperti itu? Kau membuatku ingin menciummu..”

Dia terkejut dan langsung menegakkan badannya. Dan berbalik ke depan. Aku terkekeh, tak berapa lama bel masuk berbunyi.

 

***

Author POV

Shinyoung menarik ketiga sahabatnya, Bomi, Minah, dan Luna menuju rooftop. Dia sudah membeli roti tadi, dia sengaja tidak makan di kantin karena menghindari Hyunwoo.

Dia bingung dengan perlakuannya tadi pagi terhadap Hyunwoo. Dia terus melihat dan memperhatikan Hyunwoo.

“ada apa denganmu? Tumben sekali tidak mau ke kantin dan memilih ke rooftop?” tanya Luna

Tak ada jawaban dari Shinyoung. “menghindari Hyunwoo?” tanya Minah

Shinyoung menatap Minah dan memakan rotinya. “sepertinya benar. Ada apa dengan Hyunwoo? Dia menembakmu lagi? Dan kau menolaknya lagi?” tanya Minah lagi

Kali ini Shinyoung menggeleng. “lalu? Kalian berkelahi? Tapi rasanya kalian masih akrab tadi pagi. Saling tatapan pula..” ujar Bomi

“uhuk!” Shinyoung tersedak rotinya. Langsung saja Bomi memberinya minum.

“sepertinya karena itu, deh. Kenapa? Kau bertanya kenapa kau terus menatapnya?” tebak Minah

Shinyoung menatap ketiga sahabatnya yang menunggu jawaban itu. Perlahan, Shinyoung menangguk. Membuat ketiga sahabatnya itu heboh.

“oho~ apakah musim semi sebentar lagi tiba?” tanya Luna

“kau benar~ Tiga minggu lagi..” ujar Minah semangat

Semuanya menatap Minah kecuali Shinyoung, “apa?” tanya Minah bingung, “bukankah memang tiga minggu lagi?” ujar Minah lagi

“bukan yang sesungguhnya tapi musim semi di hati Shinyoung~” ujar Bomi

“aaah~” akhirnya Minahe mengerti

Ketiga sahabat Shinyoung itu menatap Shinyoung dengan semangat dan menepuk pundaknya pelan.

“pikirkanlah matang-matang, kalau kau bingung tanyakan saja kepada kami..” ujar mereka bertiga serempak dan memakan roti mereka dengan serempak pula

“jadi, apa yang kau bingungkan sekarang?” tanya Luna

Shinyoung menatap Luna kemudian menatap kedua sahabatnya yang lain, “kenapa aku selalu mengatakan kalau aku tidak akan menyukainya?” ujar Shinyoung lirih

Ketiga sahabatnya itu menatapnya miris. Tiba-tiba suasana diantara mereka menjadi sedih.

“ada sesuatu pada dirinya yang membuatku selalu mengatakan kalau aku tidak boleh dan tidak akan pernah menyukainya..” ujar Shinyoung lagi kini menahan tangis

“tapi dia selalu baik kepadaku, selalu menolongku disaat aku butuh pertolongan. Dia.. hiks, dia selalu menghiburku disaat ku sedih, selalu menemaniku setiap saat, hiks, menemani ku pulang dari bekerja setiap malam, bahkan kemarin dia menungguku untuk pulang bersama. Dia..” kini Shinyoung terisak. Ketiga sahabatnya menepuk-nepuk pelan pundaknya

“hiks, dia terlalu baik dan tak ada alasan untuk tidak menyukainya. Tapi.. hiks, kenapa aku selalu berkata tidak akan pernah menyukainya? Aku..”

Ketiga sahabatnya itu tetap menepuk-nepuk pundaknya Shinyoung pelan berusaha menenangkan tangisannya.

“jadi, apa kau menyukainya sekarang?” tanya Bomi lembut

“aku.. aku takut..” jawab Shinyoung terisak, “aku takut untuk menyukainya..” sambung Shinyoung masih terisak. Ketiga sahabatnya terus menepuk pundak Shinyoung dan sesekali mengenggam tangannya mencoba menenangkannya.

“sudah, jangan menangis..” ujar Minah lembut

Tanpa mereka sadari dua orang pria mendengar percakapan mereka. Mereka adalah Hyunwoo dan Daehyun.

“kau tidak apa-apa, Hyunwoo-ya?” tanya Daehyun karena melihat raut wajah Hyunwoo terlihat begitu sedih

“apakah akau terlihat baik-baik saja?” tanya Hyunwoo kemudian sambil menoleh kepada Daehyun

Daehyun menepuk pundak Hyunwoo, “tidak. Kau berantakan..” ujar Daehyun

Hyunwoo menghela nafas dan berjalan menjauhi pintu rooftop, “apakah aku ditolak lagi?” tanyanya sembari menuruni anak tangga

“kau bilang kau sudah terbiasa ditolak Shinyoung..” ujar Daehyun agak bingung dengan pertanyaan Hyunwoo

“tapi kali ini berbeda, secara tidak langsung dan aku tahu alasan dia menolakku..” ujar Hyunwoo juga

Daehyun terkekeh, “tapi wajar sih dia takut untuk menyukaimu. Kaum kita manusia mana pun pasti akan merasa takut..”

Hyunwoo mengangkat kedua alisnya dan menatap Daehyun, “apa itu? Jangan-jangan kau juga ditolak seperti itu?”

Daehyun menatap Hyunwoo dengan kesal, “setidaknya aku bisa move on..” ujar Daehyun membuat Hyunwoo jengkel

“hei! kau mengejekku!” kesal Hyunwoo dan merangkul pundak Daehyun sambil memukul kepalanya gemas

“ahahaha, oh iya. Aku kaget sekali kau pindah ke sini. Kau tahu, pura-pura tidak mengetahuimu itu sulit sekali. Aku bahkan harus pura-pura tertarik denganmu padahal aku tahu semua tentangmu!” ujar Daehyun mengalihkan pembicaraan

Hyunwoo terkekeh dan melepas rangkulannya, “aku suka kau berpura-pura seperti itu..” ujarnya lalu kembali merangkul Daehyun dan kembali ke kelas

 

***

Hyunwoo terus melihat Shinyoung yang berjalan lesu ke bangkunya. Dia melihat mata Shinyoung terlihat lembab.

“kau kenapa?” tanya Hyunwoo pura-pura tidak tahu. Shinyoung menoleh sesaat kemudian kembali menoleh ke depan, “tidak ada apa-apa..” bohong Shinyoung

Hyunwoo menghela nafas pelan dan menyenderkan bahunya ke bangku dan hanya menatap punggung Shinyoung.

 

***

Hyunwoo POV

Terus ku perhatikan gerak-gerik Shinyoung selama bekerja malam ini, dia terlihat lesu namun tetap memberikan senyuman kepada pelanggan.

Dan saat ini pun, Shinyoung terus diam selama perjalan pulang, aku sendiri juga bingung harus mengatakan apa.

“Shinyoung-ah, kau tahu? Daehyun itu sebenarnya sahabatku, aku awalnya bingung kenapa dia pura-pura tidak tahu denganku, tapi akhirnya dia menjelaskannya padaku..” ku coba untuk mencari bahan pembicaraan

“benarkah?” tanyanya pelan, aku mengangguk.

Kami kembali terdiam. Kenapa? Ada apa dengannya? Kenapa seperti ini? Aku sudah tak tahan lagi!

Ku pegang lengannya untuk menghentikan langkahnya.

“Kim Shinyoung! Ada apa denganmu, eo!?” tanyaku sedikit meninggikan nada suaraku

Dia melihatku lama dalam diam. “tidak bisakah kau katakan kepadaku?” tanyaku lagi, dia tetap diam sambil terus memandangku. Perlahan aku melepas genggaman tanganku yang memegang lengannya.

“tidak apa-apa kalau kau tidak mau cerita..” ujarku pelan lalu berjalan mendahuluinya

“bodoh..”

Aku membalikkan badanku dan melihat Shinyoung tertunduk, “aku memang bodoh..” ujarnya lagi dan kini terisak

Aku mendekatinya dan memegang pundaknya, mengkhawatirkannya.

“kenapa kau menangis? Ya, jangan menangis..” ujarku pelan

“hiks.. hiks..” dia terus menangis dan langsung saja aku memeluknya.

“uljima..” ujar ku sambil menepuk pelan punggungnya, “apa yang membuatmu menangis, eo?” tanyaku pelan

“kau..”

Aku tersentak lalu menatapnya yang masih menangis, dia menatapku lalu tertawa pelan. “babo..” ujarnya lalu memelukku

Tunggu, apa ini? Keadaan seperti apa ini? Aku tidak mengerti, tolong jelaskan!!?

 

***

Shinyoung POV

Hyunwoo memegang lenganku dan menatapku tajam. Ku coba menahan tangisku.

“Kim Shinyoung! Ada apa denganmu, eo!?” tanyanya

Aku melihatnya lama. Apakah aku menyukainya? Menyukai Lee Hyunwoo seorang vampir? Bolehkah aku menyukainya?

“tidak bisakah kau katakan kepadaku?” tanyanya lagi. Aku tetap diam dan terus melihat matanya, matanya indah. Aku suka itu. Eh? Tunggu.. aku suka? Yah, sepertinya aku memang menyukainya. Aku memang bodoh yang tak menyadari hal itu.

Perlahan dia melepas tangannya yang menggenggam lenganku, “tidak apa-apa kalau kau tidak mau cerita..”

Dia berjalan mendahuluiku. Air mataku yang sedari tadi tertahan tumpah begitu saja. “bodoh..”

Aku tertunduk, “aku memang bodoh..” tidak menyadari hal itu

Hyunwoo mendekatiku dan memegang pundakku, “kenapa kau menangis? Ya, jangan menangis..” ujarnya pelan

Aku tersenyum sambil terisak. Apakah dia tidak dapat melihat wajahku? Kau tidak tahu kalau aku bukan menangis sedih, eo?

“hiks.. hiks..”

Dia kemudian memelukku. Aku sedikit  terkejut lalu tersenyum, “uljima..” ujarnya sambil menepuk pelan punggungku, “apa yang membuatmu menangis, eo?” tanyanya

Aku kembali tersenyum, “kau..” jawabku

Dia menatapku dengan ekspresi terkejutnya, aku tertawa pelan melihat ekspresi lucunya itu, “babo..” ujarku pelan lalu memeluknya

Dapat ku rasakan kalau dia bingung lalu kemudian seakan sudah mengerti, dia membalas pelukanku

“Lee Hyunwoo..” panggilku masih dalam pelukannya

“hm?” tanyanya sambil mengusap pelan rambutku

Aku tersenyum dan melepas pelukanku. Dia menatapku bingung namun ikut tersenyum.

“maaf lama untuk menyadari hal ini, aku..” ujarku agak gugup

Aku melihat kedua mata Hyunwoo yang berwarna cokelat itu, indah sekali seperti saat pertama bertemu. Aku tersenyum melihatnya, saat hendak melanjutkan pembicaraanku, wajahnya mendekati wajahku.

“aku tahu..” ujarnya pelan lalu mencium bibirku lembut dan aku membalasnya lembut juga

Saranghae, Lee Hyunwoo. Vampir-ku yang bodoh dan jahil.

-end-

2 thoughts on “My Vampire Boy (One Shot)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s