School Investigate CLUB! (Not a Detective Club): Case 5: Youngyoo’s Problem

School Investigate CLUB! (Not a Detective Club)

Hello. Holla. Hai. Aloha. Annyeong~

I’m back with chap.5~ Sebenernya ni ff pengen diupdate hari jum’at tapi ada yang kepo *lirik* jd minta dicepetin. Iya elu boleh kepo tapi komen dong.. -_-

So, saya bawa Youngyoo ke dalam masalah. Hm, menurut saya pribadi saya enggak ngerti sama chap ini (yg buat aja ga ngerti, khawatir readernya gimana). Saya ngerasa kalo masalah ini ga ribet, ga mudah, ga nyambung, ga seru, ga berasa dan ga yang lain. Dari pada baca curhatan saya, langsung aja baca ceritanya. Check it! Yo~

 

School Investigate Club! (Not a Detective Club): CASE 5: Youngyoo’s Problem

  • Genre                   : School-life, Friendship.
  • Author                  : dk1317 a.k.a  GDhia/GDhia1

P.S : This is just FF and my other imagine, don’t be plagiat and other that god and I don’t like, and please don’t be silent readers, please leave some comment~

 

Happy Reading~

***

-di kelas 2-1

“Youngyoo-ah, ayo..” ajak Shinae begitu bel pulang sekolah berbunyi

“eo? Eo..” jawabnya agak linglung

Ada yang aneh dengan Youngyoo hari ini. Tidak seperti biasanya, hari ini dia terlihat lesu dan kurang bersemangat.

“ada apa denganmu?” tanya Seungkwan “tidak ada apa-apa..” jawabnya

Sejak kemarin dia seperti ini. Setiap kali ditanya mengapa, selalu dijawab tidak ada apa-apa. Padahal jelas sekali dia sangat aneh dan seperti ada sebuah masalah. Di waktu pelajaran bahkan di klub dia selalu bengong dan tak sadar kalau dirinya dipanggil. Bahkan ketika suasana sangat berisik sekali pun dia tidak bereaksi dan hanya mengaduk-aduk tehnya yang sudah dingin.

“ada apa dengannya?” tanya Bambam dijawab gelengan Jingoo “jangan tanya aku, tanya teman sekelasnya..” sambungnya

Bambam yang merasa perkataan Jingoo benar, menghampiri Shinae.

“ada apa dengannya?” tanya Bambam sehingga membuat Shinae sedikit terkejut karena dia sedang asyik menggambar “siapa?” Shinae balik bertanya

“Youngyoo..” jawab Bambam dan melihat Youngyoo yang saat ini sedang menghela nafas, Shinae ikut melihatnya dan menggeleng, “aku juga tidak tahu, oppa. Dia sudah seperti itu sejak kemarin..”

“sejak kemarin?” Jungkook ikut nimbrung dan dibalas anggukan Shinae, “benarkan, Seungkwan-ah?” tanya Shinae kepada Seungkwan yang kebetulan dekat dengan mereka dan mendengar pembicaraan mereka, “eo..” jawabnya

“kemarin malah lebih parah dari hari ini..” ujar Hansol ikut nimbrung juga

“lebih parah?” tanya Jingoo ikutan nimbrung, juga. Hansol, Seungkwan, dan Shinae mengangguk.

“dia nyaris seperti orang gila..” ujar Seungkwan membuat Bambam, Jingoo, dan Jungkook tambah penasaran.

“kemarin, dia salah bawa buku mata pelajaran, yang seharusnya mata pelajaran hari itu, dia malah membawa mata pelajaran dua hari kemudian, bukankah itu aneh? Dia membawa mata pelajaran untuk dua hari kemudian..” ujar Shinae

“ha? Aku tidak mengerti..” ujar Bambam

“begini maksudnya, hyung. Kemarin kan hari selasa tuh, dia malah membawa buku pelajaran hari kamis dan bukan selasa..” jelas Hansol

Bambam, Jungkook, dan Jingoo saling menoleh. “apa yang aneh dari itu?” tanya Jungkook

“aduh hyungdeul!” kesal Seungkwan, “itu aneh loh, aneh! Hal biasa itu kalau dia membawa buku pelajaran kemarinnya atau besoknya dan bukan dua hari setelahnya. Kalau dia salah bawa seharusnya dia membawa buku pelajaran hari senin atau rabu!” sambungnya dengan nada tinggi sehingga membuat yang lain menoleh kecuali Youngyoo yang masih terus bengong dan mengaduk tehnya.

“kalian membicarakan apa?” tanya Seungmi penasaran dan berjalan cepat menuju mereka

Seungkwan melihat Yugyeom dan menyuruh Yugyeom mendekatinya. Yugyeom terlihat bingung namun mengikutinya saja.

“ada apa?” tanya Yugyeom “hyung, tidakkah Youngyoo aneh?” tanya Seungkwan

Yugyeom melihat ke arah Youngyoo serta anggota yang lainnya ikut melihat Youngyoo. Youngyoo masih saja mengaduk tehnya yang sudah dingin sambil menatap kosong ke depan.

“bahkan dia tidak sadar kita membicarakan dia..” ujar Jungkook sambil menggeleng-geleng kecil

“sangat aneh..” ujar Mingyu lalu melihat Yugyeom, “apa yang harus kita lakukan?” tanyanya

Yugyeom berpikir. “kau tanya saja padanya..” saran Mingming

“benar. Siapa tahu dia akan mengatakannya kepadamu..” ujar Tia menyetujui saran Mingming

Yugyeom mengangguk, “baiklah..” lalu berjalan mendekati Youngyoo yang masih terus menatap kosong ke depan. Seperti yang diduga, dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Yugyeom. Yugyeom memainkan tangannya ke atas ke bawah di depan wajah Youngyoo namun tidak ada reaksi darinya. Yugyeom menoleh ke anggota yang lain dan berkata tanpa suara, “dia seperti dirasuk hantu..”

“Youngyoo-ya..” panggil Yugyeom dan tak ada reaksi dari Youngyoo

“Youngyoo-ya~” panggil Yugyeom lagi “LEE YOUNGYOO!” panggil Yugyeom lagi dan kini dengan suara yang tinggi.

Akhirnya Youngyoo menyadari kalau Yugyeom memanggilnya. Dia sedikit terkejut lalu menoleh ke arah Yugyeom dan membuatnya tambah terkejut.

“w-wa-waeyo, oppa?” tanyanya gugup

Yugyeom memiringkan kepalanya dan melihat Youngyoo penuh pertanyaan. “kau seperti melihat hantu saja..” ujar Yugyeom heran

Youngyoo merasa sedikit lega dan tersenyum. Yugyeom duduk di sampingnya.

“ada apa denganmu? Sejak kemarin kau aneh sekali..” tanya Yugyeom lalu melihat adik kelasnya itu tiba-tiba merasa tegang. Youngyoo menggeleng tapi tak menjawab apa pun. Yugyeom menghela nafas, “kau tak bisa membohongiku Lee Youngyoo..” ujar Yugyeom kemudian. Mendengar hal itu, cairan bening mulai mengalir dari pelupuk mata Youngyoo.

“hei, hei. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis..” panik Yugyeom dan memanggil anggota yang lain. Jimin mendekati Youngyoo dan memeluknya, mencoba menenangkannya.

“ada apa denganmu Youngyoo?” tanya Jimin lembut

“eonni, aku-aku..” ujar Youngyoo sesegukan

“sudah, sudah. Tenangkan dirimu dahulu..” ujar Jimin sambil menepuk pundak Youngyoo pelan

Setelah tenang. Youngyoo mengambil air minum yang diberikan Ji Oh dan meminumnya habis. Dia menghela nafas mencoba mengatur nafasnya dan menatap seluruh anggota yang dia yakini penasaran dengan ceritanya.

“ayahku, ayahku menyuruhku keluar dari klub..” cerita Youngyoo kemudian

“ke-kenapa!?” tanya Seungmi. “dia bilang aku tidak pantas berada di klub ini, dia lebih memilihku untuk bermain musik. Malahan dia bilang klub ini tidak bermutu..” jawab Youngyoo dan kembali menangis. Jimin kembali menenangkannya.

“lalu, apa yang kau katakan?” tanya Jaemoo

“aku bilang..”

 

>>Youngyoo’s flashback

“ayah tidak tahu apa-apa! Ayah tidak tahu perasaanku! Aku senang berada di klub itu! Aku nyaman di klub itu! Ayah tidak berhak mengambil kesenanganku!” kesal Youngyoo inilah pertama kalinya dia marah dengan ayahnya, padahal biasanya dia hanya diam dan menuruti apa yang dikatakan ayahnya. Kali ini benar-benar berbeda, dia benar-benar marah dengan ayahnya.

“lihatlah apa yang mereka perbuat kepadamu! Mereka membuatmu melawanku!” ujar ayah Youngyoo

“ani! Ini adalah perasaanku! Dan mereka tidak membuatku seperti ini! Aku selalu menuruti kemauan ayah, aku bermain piano dan biola karena ayah yang meminta, aku selalu tampil tegar karena ayah yang meminta. Tapi apakah ayah tahu? Aku tidak mempunyai teman karena ayah! Kekayaan kita dimanfaatkan oleh orang-orang yang selalu memandang tinggi kita! Mereka memanfaatkan kita ayah!”

“kita memang tinggi dan bukan hanya dipandang tinggi Lee Youngyoo! Derajat kita berbeda dengan orang-orang itu! Kau itu mempunyai teman, lihat teman satu les piano dan biola mu, mereka temanmu!”

“uang tak bisa membeli TEMAN ayah! Uang tak bisa membeli CINTA! Uang tak bisa membeli KASIH SAYANG! Ayah tahu akan hal itukan!”

“TENTU AYAH TAHU!”

“LALU KENAPA AYAH BIARKAN IBU MENINGGAL DUNIA SAAT ITU! AYAH LEBIH MEMILIH RAPAT BODOH ITU DARI PADA NYAWA IBU!!”

Ayah Youngyoo terdiam mendengar ucapan Youngyoo. Kini air mata Youngyoo tak bisa ditahan. Dia menangis tersedu-sedu. Ayahnya terdiam tak merespon perkataan Youngyoo dan berjalan menjauhi Youngyoo.

“kenapa ayah tidak menjawabku!?” tanya Youngyoo ketika ayahnya semakin menjauhinya “JAWAB AKU AYAH!”

‘PLAK!’ sebuah tamparan mendarat di pipi Youngyoo. Kini pipi Youngyoo memerah. Dia melihat ayahnya yang menahan amarah lalu berbalik membelakanginya.

“jaga bicaramu Lee Youngyoo. Jika kau berani melawan ku lagi, aku tidak akan segan-segan memukulmu walaupun kau itu putriku. Ayah harap kau mengerti Youngyoo, ini demi kebaikanmu. Keluar dari klub itu sesegera mungkin, atau ayah akan membubarkannya secara paksa..” ujar ayah Youngyoo dan berjalan menjauhi Youngyoo pergi ke kamarnya

“ayah! Ayah!” teriak Youngyoo memanggil ayahnya, namun beliau tidak menghiraukannya. Youngyoo menangis tersedu-sedu dalam pelukan pelayannya yang mencoba menenangkannya. Kakak laki-lakinya yang saat itu baru pulang, melihat Youngyoo menangis dan langsung memeluknya menenangkannya.

“sudahlah, tenanglah Youngyoo-ya. Sabar saja, kau tahu sendirikan sifat ayah..” ujar oppa yang lebih tua lima tahun darinya itu.

<<Youngyoo’s flashback end

 

Anggota yang lain hanya terdiam mendengar cerita Youngyoo. Tak pernah menyangka kehidupan Youngyoo seperti itu. Dia yang selalu ceria ternyata memiliki kehidupan yang sangat mengiris hati. Youngyoo kembali menangis di pelukan Jimin yang terus mencoba menenangkannya.

“aku lelah dengan semua yang ayah katakan, aku tak sanggup lagi dengan semuanya. Aku ingin bebas..” isak Youngyoo

Jimin terus menepuk punggungnya, terus mencoba menenangkan hati Youngyoo. Mereka tahu persis apa yang dirasakan Youngyoo saat ini.

“apa yang harus kita lakukan, hyung?” tanya Chan

Yugyeom berpikir lalu menatap seluruh anggota. “bagaimana kalau kita jelaskan saja?” sarannya

Youngyoo menggeleng, “percuma, aku sudah berkali-kali menjelaskannya..”

Semuanya menghela nafas. Mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan.

“sepertinya aku memang harus keluar..” semua anggota menoleh, “itu yang terbaik..” sambungnya

“tapi eonni, tidak adakah cara lain?” tanya Yujeong tak terima

Youngyoo menggeleng, “tidak ada. Inilah cara terakhir..”

“tapi eonni..” ucapan Sohyun terputus

Tiba-tiba handphone Youngyoo berdering. Yang menelponnya adalah ayahnya.

“aku sudah dijemput. Aku pulang dulu..” pamitnya lalu mengambil tas dan pergi meninggalkan anggota yang lain

“Youngyoo-ya..” panggil Yerin namun tak didengarkan oleh Youngyoo

Seluruh anggota saling menatap. “apa yang harus kita lakukan?” tanya Jihee

“apa yang harus kita lakukan? Tentu saja kita harus membelanya!” ujar Jaemoo

“tapi kau dengar sendiri kan? Ayahnya itu walau sudah dijelaskan berapa kali pun masih tidak setuju..” sela Yerin

“tapi apa salahnya mencoba lagi?” tanya Chan

“hei, kau tahu pepatah jangan mengulangi hal yang sama?” kesal Seungmi

“aku tahu, tapi kita belum mencobanyakan? Baru dia yang menjelaskan..” ujar Jungkook setuju dengan Chan

“jangan salahkan kami kalau kalian dimarahi juga..” ujar Tia

“lalu?” tanya Yugyeom sambil memijat keningnya pelan

“tentu saja kita jelaskan!” ujar Jingoo “pikir dahulu sebelum bertindak Yeo Jingoo!” kesal Jimin

Mereka pun ricuh satu sama lain tentang apa yang harus diperbuat. Kecuali Mingyu dan Seokmin yang menyadari sesuatu ketika melirik Yugyeom. Mereka berjalan pelan kebelakang Yugyeom menghindari hal yang tidak ingin terjadi.

“lalu KENAPA KALIAN BERKELAHI, HAH!?” kesal Yugyeom akhirnya

Seluruh anggota terdiam dan melihat Yugyeom yang sedang kesal. Menyadari mereka salah, otomatis mereka langsung berbaris dan menggenggam tangan mereka erat. Hal yang paling mereka takuti dari Yugyeom, ketika dia marah. Pernah satu kali Yugyeom marah besar karena Seungmi dan Jaemoo terus berkelahi, pernah dia hampir meledak saat Jihee dan Jungkook terus beradu mulut. Benar-benar mengerikan.

Di belakangnya, Mingyu dan Seokmin hanya mengangguk menyetujui perkataan Yugyeom. Anggota yang lain menyadarinya dan mencibir kesal kepada mereka.

“dari pada berkelahi seperti ini, lebih baik kalian pikirkan bersama. Ini menentukan masa depan Youngyoo juga..” ujar Yugyeom sedikit tenang

“ye, leader-nim..” ujar semuanya

Ketika Yugyeom sudah marah, mereka semua otomatis akan memanggil Yugyeom ‘leader-nim’ agar membuat hati Yugyeom senang.

“jadi, bagaimana keputusannya?” tanya Yugyeom “jika kalian ingin mengatakan secara langsung kepada ayahnya, setidaknya kalian harus memikirkan rencananya dulu, jika gagal kita bisa pakai rencana lain..” sambung Yugyeom meluruskan masalah

Anggota yang lain tidak terpikir sampai sana karena terlalu emosi. Mereka pun mengangguk mengerti dan memulai rapat.

 

***

“A-aku tidak yakin, oppa..” ujar Youngyoo dalam telepon-yang menelponnya saat ini adalah Yugyeom-

[percayalah kepada kami..] teriak Seokmin

[kau dengar kan? Percayalah kepada kami..] ujar Yugyeom juga

Youngyoo benar-benar tidak yakin. Bagaimana kalau ayahnya malah mengusir mereka, bahkan menyuruh para pengawal.

[Youngyoo-ah..] panggil Yugyeom, “eo?”

[kau tahu kan sunbae mu ini jago berkelahi..]

Youngyoo tersenyum, “jangan berkelahi, aku tidak ingin membuat kalian terluka..”

[tenang saja, kami tutup telponnya. Kami sudah sampai di rumahmu..]

Youngyoo berjalan ke jendela kamarnya. Di luar sana dia melihat Yugyeom, Seokmin, Mingyu, Jimin, dan Tia. Dia tidak melihat yang lainnya, hanya melihat kelima anggota tertinggi di klub saja.

Handphone Youngyoo bergetar, menandakan pesan masuk.

 

From: Seungmi

Jangan khawatir..

 

Youngyoo kembali tersenyum. saat melihat Yugyeom dkk. sudah tidak ada lagi diluar, dia keluar dari kamar hendak menuju ke ruang tamu. Namun, dia mengurungkannya dan hanya bersembunyi di belakang tangga.

“mau apa kalian ke sini?” tanya ayah Youngyoo agak tidak menerima kehadiran mereka

“kami hanya ingin melihat Youngyoo..” jawab Tia lembut

Ayah Youngyoo melihat mereka berlima secara teliti dari atas sampai bawah. Kemudian ayahnya mempersilahkan mereka duduk.

“kalian pasti anggota klub tak berguna itu..” ujar ayahnya

Youngyoo hendak berteriak, namun posisinya saat ini sedang bersembunyi. Youngyoo melihat Yugyeom dkk. sangat tenang seperti sudah menduga hal ini akan terjadi.

“hm, maaf jika kami membuat anda tidak terlalu senang dengan kehadiran kami yang mendadak ini..” ujar Jimin dibalas anggukan yang lain

“tidak, aku sudah menduga cepat atau lambat kalian pasti akan datang. Melihat ini semua, sepertinya Youngyoo sudah menceritakan hal yang tidak baik tentangku..”

Yugyeom tersenyum, “hal tidak baik? Apakah anda merasa seperti itu?” tanya Yugyeom

Semua menoleh ke arah Yugyeom. Ini tidak direncanakan, ucapan ini sangat tidak direncanakan. Apa yang ada dipikiran Yugyeom?

Mingyu menyenggol pelan lengan Yugyeom dan berbisik kepadanya.

“ini tidak seperti yang kita rencanakan. Apa yang kau pikirkan?”

“dari awal ini tidak sesuai dengan rencana. Sudahlah, ikuti saja..”

Mingyu dan yang lainnya mengangguk mengerti dan mencoba tenang. Youngyoo bingung dengan apa yang mereka bisikkan.

“apa yang kalian bisikkan?” tanya ayah Youngyoo begitu tajam

“tidak, hanya soal waktu..” jawab Yugyeom tenang dibalas anggukan yang lain

“kenapa? Waktu kalian sangat sedikit? Apa yang kalian lakukan? Bermain?”

Yugyeom tersenyum. “sepertinya iya..” sambung ayah Youngyoo kemudian

“bukankah wajar kalau anak seusia kami bermain?”

“apa? Wajar? Tentu saja tidak! Anak seusia kalian harus memikirkan masa depan!”

Yugyeom kembali tersenyum, “kami memikirkan itu semua saat sedang bermain..”

“jangan bercanda. Masa depan harus dipikirkan matang-matang, bukan sekedar mengatakan..” ucapan ayah Youngyoo berhenti saat Yugyeom memotongnya

“..apa yang diinginkan.” ujar Yugyeom menyambung ucapan ayah Youngyoo

Semuanya menoleh ke arah Yugyeom.

“Apa ini? Bagaimana Yugyeom tahu apa yang akan di ucapkan ayah Youngyoo?” batin Seokmin

“sepertinya aku pernah mendengar itu, di mana ya?” ujar Yugyeom

Ayah Youngyoo membelalakan matanya saat mendengar apa yang diucapkan Yugyeom. “si-siapa kau?” tanya ayah Youngyoo gugup

Yugyeom berdiri dan membungkuk. “Kim Yugyeom, ketua klub investigasi..”

“sekarang kalian keluar dari rumahku!” kesal ayah Youngyoo dan sedikit takut

Para pengawal mendekati mereka karena mereka tak kunjung berangkat dari duduk.

“usir mereka!” perintah ayah Youngyoo

“ayah! Jangan!” akhirnya Youngyoo bersuara

“sejak kapan kau di sini, huh!? Apa yang kau lakukan! Cepat masuk kamarmu!”

Para pengawal menarik Yugyeom dkk. secara paksa. “ayah, lepaskan mereka!” teriak Youngyoo

“kau benar-benar sudah dicuci otaknya dengan mereka!” “ayah!”

“tunggu!” ucap Yugyeom

Youngyoo dan ayahnya menoleh, para pengawal pun berhenti. “nama anda, Lee Junghwan bukan?” tanya Yugyeom dan membuat ayah Youngyoo terkejut.

“sepertinya benar. Ibu ku, Choi Yuri memberi salam kepada anda. Ibu bilang jika ada waktu, berkunjunglah kapan-kapan..” ucap Yugyeom dan membuat ayah Youngyoo terkejut sekali lagi

Ayah Youngyoo tak menghiraukannya dan menyuruh para pengawal mengusirnya dan menarik Youngyoo ke kamarnya.

“ah, satu lagi..” ujar Yugyeom namun kali ini tak dihiraukan oleh ayah Youngyoo, “anak anda, sangat mencintai anda..” sambungnya dan melepaskan tarikan pengawal dan berjalan sendiri keluar dari rumah Youngyoo

 

***

“bagaimana kau tahu nama ayahnya?” tanya Tia, “bukannya kita baru saja bertemu dengannya?” tanya Jimin juga

“dia teman ibu ku. satu SMP dan SMA..” jawab Yugyeom

“ah! Pantas saja kau mengatakan kalau ibumu memberi salam padanya..” ucap Seokmin

“hei, hei. lalu bagaimana dengan wajah? Kau baru bertemu dengannya kan?” tanya Jimin jengkel

“ah, aku sudah pernah melihatnya berapa kali saat menjemput Youngyoo..”

Semuanya mengangguk paham, “sekarang kita harus bagaimana?” tanya Mingyu kemudian

Yugyeom tersenyum, “aku yakin dia akan pergi ke rumahku, jadi kita hanya dapat berharap pada ibu ku dan kepadanya juga..”

 

***

“pantas saja Yugyeom menanyakan namamu kepadaku saat melihat foto kita dulu..”

“hm, tak ku sangka. Anakmu benar-benar mirip denganmu..”

“hahahaha. Tidak juga loh, anak itu lebih berani dari pada ku dulu. Dan juga, dia benar-benar lebih mementingkan teman-temannya dari pada dirinya sendiri..”

“aku benar-benar kagum dengan kau. Kau bisa mendidik anakmu dengan baik. Aku? Haha, aku hanya bisa membuat anak-anak ku benci denganku..”

Perempuan yang sedang mengobrol dengan teman lamanya itu menaruh pelan secangkir teh hangat di depannya dan tamunya itu. Dia perlahan duduk dan menggeleng.

“kau tidak salah. Kau sama seperti dulu, ingin yang terbaik tapi kau salah mengambil jalan..”

Tamunya itu hanya tertawa lalu meneguk teh di depannya. “sepertinya kau benar. Aku tak pernah memikirkan akibatnya..”

“hanya karena sebuah kesalahan di masa lalu dan kau tidak ingin kedua anakmu mengikutinya kau jadi memilih hal seperti ini tapi ternyata salah..”

“haha, ku harap istriku memaafkan ku..”

“atau jangan-jangan karena kau menyalahkan dirimu sendiri?”

Tamunya tersebut terdiam. Tangannya yang memegang cangkir itu bergetar. Dia tersenyum miris lalu menaruh cangkirnya gugup.

“aku.. aku membiarkan istriku meninggal. Kurasa dibenci oleh kedua anakku mungkin adalah hal yang terbaik..”

Perempuan itu tersenyum, “kau salah. Istrimu pasti tidak suka kau seperti ini, istrimu pasti menginginkan kau tersenyum bahagia bersama kedua anakmu..”

Tamunya itu meneteskan air mata lalu menutupkan wajahnya. “aku, tak tahu harus mulai dari mana. Mungkin saat ini mereka benar-benar telah membenciku..”

 

***

Sedari tadi Youngyoo hanya mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali dia melihat ke arah pintu depan berharap seseorang akan menekan bel rumahnya. Sesekali juga dia melihat ke arah pintu samping masih berharap seseorang yang dia tunggu akan membukanya.

‘cklek’ tak berapa lama pintu terbuka dan Youngyoo langsung berlari ke arah orang yang datang. kakaknya.

“oppa! Ayah belum pulang!” teriaknya begitu kakaknya masuk

“he? Bagaimana bisa? Kemana ayah pergi?”

“entahlah. Ayah tak mengatakan apa pun padaku..”

“apa kau berkelahi lagi dengan ayah?”

Youngyoo menatap kakaknya itu lalu menggeleng. “Lee Youngyoo kau tak bisa membohongi kakakmu..”

Akhirnya Youngyoo menyerah dan menceritakan kejadian tadi siang kepada kakaknya dan mungkin alasan ayahnya belum pulang.

“kau sudah mencoba menelpon ayah?”

Youngyoo menggeleng, “tidak diangkat..”

Kakak Younyoo meraih handphone di sakunya dan menekan nomor ayahnya. Hal sama terjadi dengannya.

“kira-kira kemana ayah pergi?” tanya Youngyoo

“entahlah, kita tunggu saja..”

Youngyoo mengangguk dan menunggu ayahnya bersama dengan kakaknya di ruang keluarga.

 

***

“sunbaemu itu..” kakaknya membuka percakapan

“eo?” “berani juga..”

Youngyoo tersenyum, “itulah mengapa aku suka dengan klub itu. Mereka berbeda, oppa..”

“iya, aku tahu. Hanya dengan melihatmu bercerita seperti itu aku sudah mengerti..”

“anakku..”

Tanpa mereka sadari ternyata ayah mereka sudah pulang dan berjalan mendekati mereka.

“ayah!”

“ayah dari mana saja? Kami mengkhawatirkanmu..” ujar Youngyoo sambil menghampiri ayahnya

“kau tidak minum kan?” ujar kakak Youngyoo juga sambil menghampiri ayahnya juga

Ayahnya menggeleng lalu memeluk kedua anaknya tersebut.

“maafkan ayah. Ayah terlalu keras kepada kalian..” ujar ayahnya sambil terisak

“ayah adalah ayah yang jahat. Yang tak pernah mengerti kalian. Ayah adalah ayah yang tak pantas untuk kalian..”

Awalnya Youngyoo dan kakaknya terkejut kemudian ikut meneteskan air mata dan ikut memeluk ayah mereka itu.

“ani. Tidak apa-apa ayah. Kami mengerti. Ayah melakukan ini semua demi kami..” ujar kakak Youngyoo dan dibarengi anggukan Youngyoo

“yaa, walaupun aku kesal karena ayah tak membiarkan ku di klub investigasi. Tapi yah, klub itu yang membuatku berani seperti sekarang..”

“iya, ayah mengerti. Maafkan ayah, mulai sekarang lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan, tapi jangan sampai kalian salah jalan..”

“iya, tenang saja ayah. Terima kasih ayah. Kami sayang ayah..”

 

***

“oppa, ayah mengajak makan bersama di rumah..” ujar Youngyoo kepada Yugyeom lewat telepon

[oh ya? Apakah aku melakukan kesalahan?]

“aniya. Ayah ingin minta maaf pada mu dan juga berterima kasih. Aku bisa mengabarkan kepada yang lain, datangnya oppa?”

[tentu saja. Demi anggota ku tercinta aku rela menghabiskan waktu ku bersama..]

“hehe, apakah itu bisa ku sebut pernyataan perasaan? Hehehe, gumawoyo oppa..”

[tidak apa-apa. Kalau ada yang kesusahan kita harus saling bantu. Apa lagi teman..”

Youngyoo tersenyum kemudian mematikan teleponnya. Dia menatap keluar jendela mendapati langit biru yang cerah.

Harinya yang sesungguhnya dimulai hari ini.

Harinya sebagai Lee Youngyoo yang bebas.

 

***

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, mereke menjadi semakin akrab dan tak terasa waktu pun bergulir dengan sangat cepat.

-Di kelas 3-1

“YAHOOOOO!!!” teriakan Seokmin memenuhi kelas 3-1

“ya! Kau berisik!” kesal Jimin

Seokmin hanya terkekeh pelan dengan reaksi Jimin sementara anggota klub investigasi memandangnya dengan jengkel dan aneh.

“kau gila?” tanya Mingyu “habis obat?” sambung Yugyeom “belum disuntik?” sambung Jungkook juga

“ya! Kalian ini! Besok kan liburan musim panas! Liburan!” ujar Seokmin agak jengkel atas perlakuan teman-temannya itu

“memangnya kau mau melakukan apa, huh?” tanya Yerin, “main game seharian?” sambungnya

Seokmin menggeleng kepalanya cepat, “kau itu benar-benar tidak bisa menikmati hari libur, eo? Liburan ya liburan! Nikmati liburan musim panas itu dengan main ke pantai!” ujar Seokmin dengan semangat berkobar

“ah! Kau benar Lee Seokmin!” setuju Bambam yang kebetulan main ke kelas 3-1 dan disetujui juga dengan Mingming yang ikutan main.

“sejak kapan kalian datang!” kaget Jingoo

Mingming dan Bambam saling menoleh dan melihat jam tangan mereka, “satu menit lima puluh dua detik yang lalu..” ujar mereka serempak

Jingoo menatap mereka cengo. “ngomong-ngomong tentang pantai, ide mu bagus juga Lee Seokmin..” ujar Jungkook kemudian

“benar kan! Selain bisa bersenang-senang..” Seokmin menggantungkan perkataannya lalu melihat teman-temannya. Dia tersenyum ketika melihat Jingoo dan Jungkook tahu apa yang dipikirkannya.

“cari cewek!” ujar mereka bertiga kompak

Jimin, Yerin, dan Tia langsung memutar bola mata mereka malas sambil menghela nafas.

Saat Jungkook hendak berbicara, bel masuk berbunyi. Bambam dan Mingming pun pamit kembali ke kelas mereka.

 

***

Wali kelas 3-1 yang kebetulan mengajar jam itu berdiri di depan kelas dengan senyumnya seperti biasa.

“selamat siang, semua..” sapa Park seonsaeng-Park Jungsoo-

“selamat siang, Pak!”

“seperti yang kalian tunggu, besok kita libur musim panas..”

“yeaaaaaaah!!” “yahoooo!!” “akhirnya!!!” “ke pantai yuk!!” “cari cewek ah..” “ah, kau benar!” “aaah, tidak sabar lagi..” “main game sepuasnya!”

‘tok tok tok’ Park seonsaeng-nim menggedor mejanya.

“bisa kalian diam?” tanya Park seonsaeng sambil menatap lemas murid-muridnya.

“siapa tadi yang berencana mencari cewek, ha?” tanya Park seonsaeng lagi

Semua pandangan tertuju pada Seokmin, Jingoo, dan Jungkook. “hei, kenapa kami?” tanya mereka ‘sok’ innocent.

“sudah-sudah. Yeo Jingoo, Jeon Jungkook, Lee Seokmin! Kalian sudah kelas tiga! Kalian tahu itu!”

“ye, jwiesonghamnida seonsaeng-nim..” ucap mereka serempak

Park seonsaeng menghela nafas. Kemudian kembali terfokus kepada murid-muridnya.

“jadi, satu bulan liburan musim panas ini, lakukan hal-hal yang bermakna, oke? Jangan main game terus, dan jangan cari cewek juga, ingat kalian sudah kelas tiga..”

Setelah Park seonsaeng berceramah panjang lebar di hari terakhirnya mengejar hari itu. Akhirnya bel pulang berbunyi. Yugeom dkk. bersiap menuju ruang klub.

“kalau anggota klub mau berlibur bersama, kayaknya bakal asyik deh..” ujar Tia

“ah, kau benar. Kita ajak Boa seonsaeng untuk mengawasi kita..” setuju Jimin

“benar juga, uang kas kita lumayan banyak kan?” tanya Yugyeom begitu mendengar saran Tia

Tia berpikir, “lumayan lah, kita jarang menggunakannya..” jawabnya

Tak terasa mereka sudah sampai di ruang klub dan bertemu Seungmi, Ji Oh, Hansol, Seungkwan, Youngyoo, Shinae dan Jaemoo yang hendak membuka pintu.

“oppa!” panggil Seungmi dan berlari kecil menuju Mingyu

“annyeong, Seungmi-ya..” balas Mingyu lalu mengusap pelan rambut Seungmi

“ah, satu bulan tak bisa bertemu denganmu, oppa..” ujar Seungmi dengan nada menyesal

“siapa bilang? Nanti kita akan kencan, kau tak mau kencan denganku?” tanya Mingyu agak sedih mendengar penuturan sang kekasih

“he, kalau begitu tidak apa-apa..” jawab Seungmi senang

“hei, hentikan drama kalian..” kesal Jungkook dan Seokmin begitu melihat Mingyu dan Seungmi ber-‘lovey-dovey’

“cari pacar gih, ‘jomblo’!” ujar Seungmi agak kesal dengan perlakuan sunbaenya itu

“ya! Byeon Seungmi..”

“eonni! Oppa!” panggil seseorang dari arah belakang memutuskan perkataan Jungkook yang baru saja hendak memarahi Seungmi

Dari arah kejauhan nampak Jihee sedang melambai-lambai ke arah mereka.

“ya! Kau Jin Jihee!” panggil Jungkook kemudian, “wae? Wae?” tanya Jihee gugup karena Jungkook memanggilnya dengan nada marah, “ya! Kau mengganggu acara ku memarahi Seungmi kau tahu!?” kesal Jungkook padahal tak sepenuhnya kesal

“memangnya Seungmi eonni kenapa? Lalu kenapa aku kena imbasnya?” kesal Jihee juga tak terima

“kenapa kalian berdiri di sini dan tidak masuk?”

Semuanya menoleh ke arah suara. Terlihat Boa seonsaeng berdiri sambil membawa tas kerjanya memandangi mereka semua.

“seonsaengnim..” panggil mereka serempak begitu melihat Boa seonsaeng.

“wae? Kenapa kalian tidak masuk? Ku pikir kalian sudah di dalam semuanya..” ujar Boa seonsaeng bingung dengan situasi aneh sekarang ini

“eh, benar juga. Masuk, ayo masuk!” ujar Yugyeom menyuruh anggota yang lain masuk ke ruang klub

 

***

“senangnya melihat kita berkumpul lagi..” ujar Boa seonsaeng begitu meminum tehnya

“tumben sekali, ssaem. Ada apa?” tanya Jaemoo

“besok kita sudah mulai liburan musim panas kan? Bagaimana kalau kita, klub investigasi berlibur bersama selama 3 hari 2 malam?” usul Boa seonsaeng

Yugyeom dkk-anak kelas 3 lebih tepatnya-saling menatap lalu kembali menatap Boa seonsaeng.

“wae?” tanya Boa seonsaeng

“itulah yang tadi kami pikirkan, ssaem!” jawab Seokmin penuh semangat

“eh? Benarkah?” tanya Boa seonsaeng tak percaya

“iya benar. Karena ku pikir uang kas kita masih banyak, kita berlibur saja..” ungkap Tia

“hoo, benar-benar. Lalu, kita mau kemana?”

Semua terdiam. Saling bertatapan. Saling mencari jawaban. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Menoleh satu sama lain. Tidak tenang. Gelisah. Menutup mata memikirkan jawaban yang tepat. Tiba-tiba semuanya langsung menoleh ke Boa seonsaeng sehingga Boa seonsaeng tersentak.

“berkemah!” “ke pantai!” “ke gunung!”

Semuanya bertatapan, mencoba mencari tahu siapa yang memiliki jawaban yang tak sama.

“ya! Siapa yang ingin ke gunung, eo? Pantai! Pantai!” protes Jungkook

“pantai itu panas, oppa! Ke gunung! Lebih sejuk!” protes Jihee

“kemah dong! Kita berkemah di Perkemahan Nanji! Ada sungai, ada pemandangan..” protes Chan

“aku setuju denganmu Chan..” ujar Hansol

“aku lebih setuju dengan Jihee..” ujar Youngyoo

“aku Jungkook hyung..” ujar Seungkwan

“hentikan, lebih baik kita voting..” usul Boa seonsaeng dan disetujui semuanya

Akhirnya mereka melakukan voting. Hasil voting adalah 5:8:8. Dengan 5 suara untuk berkemah: Chan, Hansol,  Sohyun, Shinae, dan Jimin. 8 suara untuk pantai: Jungkook, Mingyu, Seokmin, Mingming, Bambam, Seungkwan, Jingoo, dan Ji Oh. Dan 8 suara lagi untuk gunung: Jihee, Youngyoo, Jaemoo, Yerin, Tia, Yugyeom, Yujeong, dan Seungmi.

“ah, wae!!” kesal mereka serempak

“kalian tidak suka berkemah?” tanya Jimin agak kesal

“justru aku yang tanya, kalian tidak suka ke pantai?” tanya Jungkook agak kesal juga

“hei-hei. Lalu, apa kalian tidak suka ke gunung, eo?” tanya Yerin juga

Mereka terdiam, kesal dengan hasil yang tertera. Boa seonsaeng hanya dapat menghela nafas melihat tingkah kedua puluh satu anak didiknya tersebut. Boa seonsaeng kemudian mengetuk meja pelan, mencoba mencari perhatian anak didiknya.

“bagaimana kalau kita berangkat ke tiga tempat saja. Waktu liburan kita satu bulan, kan?” ujar Boa seonsaeng kemudian. Perlahan wajah-wajah anggota klub yang tadinya murung, kini kembali ceria.

“jinjjayo, ssaem?” tanya Seokmin berseri-seri

“tapi..” ujar Tia. Pandangan tertuju padanya. Tia mengenggam tangannya erat.

“ada apa?” tanya Yerin kemudian. Tia memandang teman-temannya itu, “sepertinya uang kas tidak akan cukup jika kita ke tiga tempat itu..”

“EEEEH!!!??” kembali tersirat kemurungan di wajah mereka. Satu kata dari Tia sukses membuat mereka semua seperti itu.

“kira-kira uang kita akan cukup dengan apa?” tanya Boa seonsaeng kemudian

Anggota yang lain menatap penuh harap. Menatap Tia yang sedang mengecek uang kas.

“mm, transport dan makan selama 3 hari 2 malam di satu tempat, dan masih sedikit sisa untuk membeli snack, mungkin?” jawab Tia. Anggota yang tadinya berharap kini kembali murung.

“berarti, kita hanya tidak punya biaya menginap..” ujar Boa seonsaeng kemudian

Mereka semua terlihat lesu tidak bersemangat. Ada yang menenggelamkan kepalanya di bantal duduk, ada yang melihat ke depan dengan tatapan kosong, ada yang mencoba menjahili tapi tidak bersemangat, ada yang memutar mutar cangkir teh yang kosong, ada yang menggigit biskuit dengan lambat, dan masih banyak hal aneh lainnya.

“ah! Tunggu! Tujuan kita mau kemana?” tanya Tia kemudian membuat yang lainnya terkejut

“wae?” tanya Jimin yang sudah lesu, “kalau ku hitung sih, mungkin akan cukup kalau kita ke tempat kemah saja. Lagi pula, Perkemahan Nanji tidak jauh dari rumah kita kan? Kita bisa ke sana pakai bus umum..” jawab Tia

Semuanya saling menoleh lalu mengangguk-angguk.

“baiklah, dari pada tidak. Aku setuju..” ujar Jingoo

“aku juga~” ujar Seungmi

Akhirnya semuanya setuju dengan berkemah di Perkemahan Nanji. Boa seonsaeng tersenyum melihatnya. Mereka hanya akan pergi ke perkemahan di hari H, dan yang mengurus adalah Boa seonsaeng. Namun, Jimin merasa tidak enak, dan akhirnya ada beberapa yang akan ikut dengan Boa seonsaeng nantinya.

 

-bersambung

 

Wuahahahahah!!! Uahahahahaha!! APA INI!?

Gimana? Komentar dan kritik saya terima^^

Penasaran sama Chap. berikutnya? Hm.. *evil-smile*

2 thoughts on “School Investigate CLUB! (Not a Detective Club): Case 5: Youngyoo’s Problem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s