Angel & Devil – 2

Angel&Devil2

 

 

Hello. Holla. Hai. Aloha. Annyeong~

I’m back with Angel & Devil chap.2 !! Ada yang penasaran bagaiman ‘kencan’ Daehyun dan Shinyoung? Come and check it~~

 

Angel & Devil 2

  • Main Cast            : Kim Shinyoung (Ulzzang, model) as OC, Jung Daehyun (BAP)
  • Support Cast      : You can find it yourself, *wink*
  • Genre                   : Alternate Universe, Out Of Character, School-Life
  • Author                  : dk1317 a.k.a  GDhia/GDhia1

P.S : This is just FF and my other imagine, don’t be plagiat and other that god and I don’t like, and please don’t be silent readers, please leave some comment~ And typos every where~

 

Happy Reading~

***

Shinyoung POV

‘piip piip’ ‘piip piip’ ‘piip piip’ ‘trek’

Ku matikan jam wekerku yang berbunyi dengan berisiknya. Kenapa aku memasang weker di hari libur seperti ini?

Ku raba-raba tempat tidurku mencari ponselku. Setelah ku temukan, perlahan ku buka mataku untuk melihat ke layarnya.

Hm, pukul sembilan lewat sepuluh menit. Tumben sekali aku bangun cepat hari ini, biasanya mungkin jam sepuluh atau sebelas.

“hoaam..” ku buka mataku perlahan. Ku lihat bayanganku pada cermin tepat di depanku. Aku terkekeh kecil karena melihat diriku yang sangat berantakan. Ku lirik ke samping, jendela ku belum dIbuka. Apakah Ibu tidak masuk ke kamarku?

Aku berangkat dari tempat tidur dan membuka jendela kamarku. Aku berjalan menuju meja belajar dan mendapati laptopku yang masih terbuka-tapi tidak hidup-.

Hm? Sepertinya aku melupakan sesuatu.

Ku lihat selidiki kamarku hari ini. Sebuah baju tergantung rapi di samping lemari baju. Tasku juga terduduk rapi di atas meja riasku. Ku tatapi laptopku dan beberapa kertas di sampingnya.

Hongdae, cafe ‘M’? Mural, Ihwa-dong? Namsan Tower? Snack-snack di Namsan Tower? Lotte World?

Otakku mencoba merespon ingatan-ingatan semalam. Tiba-tiba aku melirik ponselku yang bergetar. Cepat-cepat ku ambil. Waktu menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit dan beberapa pesan belum ku baca.

Saat ku buka pesannya, mataku merespon dengan cepat kontak yang mengirimnya. Aku tersenyum kaku dan membaca salah satu pesan tersebut.

 

From: Daehyunie~

Hei, jangan bilang kau masih tidur?

Terkutuklah aku. Aku memukul berkali-kali kepalaku sambil sesekali mengumpat kecil.

“babo! Babo! Babo! Ya! Kau ada janji dengan Daehyun! Babo! Lihat apa yang kau lakukan sekarang! Kebiasaan bangun siangmu itu harus diubah Kim Shinyoung! Heiish!”

Aku segera berlari mengambil handuk dan menuju kamar mandi.

 

***

Author POV

“Daehyun-ah!” panggil Shinyoung setelah sampai di Cafe ‘M’ tempat mereka janji bertemu.

“45 menit. Waktu yang lama untuk alasan terlambat karena macet. Lagi pula hari ini hari libur..” ujar Daehyun sambil melihat Shinyoung yang duduk di depannya.

“mian-mian. Aku tadi mampir ke sesuatu tempat..” bohong Shinyoung

Daehyun menatapnya lama, perlahan matanya memincing mencoba mencari alasan yang benar.

“kenapa kau menatapku seperti itu! Maaf-maaf, aku bangun kesiangan..” ujar Shinyoung mempout bibirnya dan melihat ke samping.

Daehyun terkekeh kecil, “kau tahu aku menunggu di sini selama satu jam. Kalau kau tak membuatku senang hari ini, kau akan tahu akibatnya besok..” ujar Daehyun licik

Shinyoung menatap Daehyun kaget, ‘mati aku..’ batinnya

“iya-iya, maafkan aku Tuan Jung Daehyun..” ujar Shinyoung kemudian sambil menunduk beberapa kali.

Daehyun terkekeh kecil lalu mengusak rambut Shinyoung pelan dan berangkat dari duduknya. “kau tak menyuruhku menunggu lebih lama kan, Nona Kim Shinyoung?”

Shinyoung terkejut, “ugh..” lalu ikut berangkat dari duduknya, dia mengatup kedua tangannya meminta maaf. “tunggu sebentar ya, aku beli minuman dulu, aku haus karena berlari ke sini..” ujar Shinyoung kemudian

Daehyun terkekeh, “sini ku belikan, mau rasa apa?” tanyanya

“serius? Mm, Manggo-Pineapple..” jawa Shinyoung senang

Daehyun berjalan menuju counter dan membeli minuman untuk Shinyoung.

 

***

“jadi kita kemana?” tanya Daehyun

“untuk Namsan Tower terakhir saja..” jawab Shinyoung dibalas persetujuan Daehyun.

Shinyoung mengambil buku catatannya dan membuka apa yang telah dia catat semalam.

“hm, bagaimana kalau melihat mural di sekitar jalan di sini?” tanya Shinyoung

“di Hongdae ada mural?” Daehyun malah balik bertanya

Shinyoung mengangguk, “di Seoul ada tiga tempat di mana terkenal dengan muralnya. pertama Hongdae, kedua Hoegi-dong, dan yang ketiga Ihwa-dong. Yang paling terkenal adalah Ihwa-dong..” jawab Shinyoung

Daehyun mengangguk-angguk, “lalu kau akan menunjukkanku yang mana?” tanya Daehyun

“di Hongdae ini, dan di Ihwa-dong..” jawab Shinyoung

Daehyun melirik buku catatan Shinyoung, “kau yakin akan pergi ketempat sebanyak itu dalam waktu sehari dan dimulai pada pukul sepuluh?” tanya Daehyun agak mengejek

“hei! Jangan melihat catatan seorang guide sembarangan! Kalau tidak ada waktu setidaknya Namsan Tower adalah yang terakhir..” cibir Shinyoung merasa kalau Daehyun mengejeknya karena menekan pada ucapan ‘pukul sepuluh’

“hahaha, iya-iya. Maafkan aku Nona guide. Ayo kita pergi..”

Mereka pun berjalan mencari mural di sekitar jalan Hongdae ini.

Tidak banyak yang mereka temukan namun bisa sebagai obat mata. Untungnya Shinyoung membawa kamera jadi mereka berpoto-poto di sana.

“turis tidak bawa kamera? Turis apaan itu?” ejek Shinyoung

“setidaknya aku punya guide yang membawa kamera..” ujar Daehyun tak mau kalah dengan Shinyoung. Shinyoung mendengus kesal karena merasa dia dimanfaatkan.

“ah! Ada es krim, kau mau es krim?” tanya Daehyun. Shinyoung melirik toko es krim yang di tunjuk Daehyun, senyumnya merekah setelah melihatnya. Dia mengangguk dan mereka pergi ke sana.

 

***

“heee!? Sudah setengah dua!” pekik Shinyoung begitu melihat jam di tangannya tersebut

Daehyun menggeleng-geleng karena sikap Shinyoung yang menurutnya agak memalukan.

“eottokhae Daehyun-ah? Padahal masih banyak tempat yang ingin kita kunjungi..” sesal Shinyoung sambil menatap ke arah Daehyun

Daehyun hanya mengangkat bahunya tidak tahu menahu. Shinyoung merengut dan duduk di bangku taman Naksan. Daehyun pun ikut duduk dan melihat Shinyoung yang sedang mengambil pulpen dan buku catatannya. Shinyoung membuka buku catatannya itu dan memegang geram pulpen yang ia pegang. Beberapa tempat yang dia catat dicoretnya. Saat ini mereka sudah pergi ke empat tempat: Hongdae tentunya, Ihwa-dong, kedai Jjampong paling pedas di Ihwa-dong, dan di sini taman Naksan.

Shinyoung menatap Daehyun sehingga membuatnya terkejut, “kau mau pulang jam berapa, Dae?” tanya Shinyoung serius

Agak kaget karena dipanggil ‘Dae’ oleh Shinyoung lalu dia melihat jam tangannya. Sekarang sudah hampir jam dua.

“jam lima, mungkin?” jawab Daehyun lalu kembali menatap Shinyoung

Kini Shinyoung terlihat serius. Dia kembali menatap buku catatannya dan kembali menyoret beberapa tempat. Kini dia hanya menyisakan dua tempat dan salah satunya Namsan Tower.

“satu setengah jam di Lotte World dan satu setengah jamnya lagi di Namsan Tower! Kajja Daehyun-ah! Jangan menyia-nyiakan waktu!” ujar Shinyoung penuh semangat.

 

***

“ramai seperti biasa..” ujar Shinyoung sambil berkacak pinggang. Shinyoung melihat Daehyun dan Daehyun melihatnya. Daehyun menatap aneh Shinyoung yang saat ini di depannya, sedang tersenyum yang bisa dibilang ‘licik’.

“Daehyun-ah, kau mau main apa? Bagaimana kalau, Bungee Drop?” tawar Shinyoung sambil menatap Daehyun penuh senyuman

Daehyun merasa keringat dinginnya mulai bercucuran, “kau ingin aku memuntahkan Jjampong yang kita makan tadi?” kesal Daehyun

Saat ini bisa dibilang Shinyoung ingin balas dendam. Kenapa? Sebelumnya rencana makan Jjampong bukan rencana Shinyoung, tapi Daehyun. Karena kebetulan dia tahu kedai Jjampong terpedas di Ihwa-dong jadi dia mengajak Shinyoung kesana. Awalnya Shinyoung ragu, tapi Daehyun tetap menggodanya dengan bilang kalau Jjampongnya tidak pedas. Shinyoung pun percaya dan menyesal. Jjampongnya superrrr pedasss.

“benar. Aku ingin memuntahkan Jjampong sialan itu!” ucap Shinyoung masih dengan senyumnya

“oh ayolah, yang ekstrim-ekstrim itu nanti saja. Bagaimana kalau rumah hantu dulu?” tanya Daehyun kemudian dengan senyum jahilnya

Mendengar itu, raut wajah Shinyoung yang tadinya tersenyum licik kini berubah menjadi kesal.

“ya! Kau ingin aku tidak tidur semalaman!” kesalnya lalu memukul pelan Daehyun

“haha, maaf-maaf..”

Akhirnya mereka memutuskan untuk mecari aksesori terlebih dahulu, berhubung mereka berdua sama-sama menyukai aksesori. Di tengah kesibukan mereka memilih, Daehyun membuka pembicaraan.

“kau ini tidak bisa menghitung ya?” tanya Daehyun

Shinyoung merasa diejek menyahut, “enak saja! Memangnya kenapa!?”

“dari Taman Naksan sampai ke sini kita sudah kurang lebih satu jam loh, bagaimana kita dari sini ke Namsan?”

Shinyoung menatap Daehyun dengan mata membulat kemudian melihat jam tangannya.

“astaga! Ayo kita bayar dan segera ke Namsan!” ujar Shinyoung panik

Daehyun hanya dapat menggeleng-geleng tak percaya.

 

***

Setelah perjuangan(?) mereka akhirnya sampai di Namsan dan menuju Namsan Tower dengan menggunakan kereta gantung. Walau sedikit tak rela karena belum menjahili Daehyun dengan naik Bungee Drop, Shinyoung menikmati pemandangan di bawahnya.

“sudah lama tidak ke sini..” ujar Shinyoung pelan namun bisa di dengar oleh Daehyun

“kapan terakhir kau ke sini?” tanya Daehyun kemudian. Shinyoung melihat Daehyun lalu melihat pemandangan lagi. “saat umurku 11 tahun, mungkin? Sudah lama sekali aku lupa..” jawabnya

Daehyun mengangguk mengerti dan ikut memandang pemandangan yang ada di depan dan di bawah mereka.

Tak lama setelahnya akhirnya mereka sampai di Namsan Tower.

“huaaah!!”

Shinyoung berlari penuh semangat. Matanya menemukan sesuatu yang bisa dimakan.

“Daehyun-ah, belikan aku itu..” pinta Shinyoung. Daehyun hanya tersenyum dan mengikuti permintaan Shinyoung.

Setelahnya mereka berjalan-jalan menikmati pemandangan Namsan Tower dan sampai di tempat yang paling di tunggu. Gembok.

“hm..” mata Shinyoung mendeteksi gembok yang ingin dia pilih

“apa yang kau pilih sih, seperti spesial sekali..” ejek Daehyun, “hei, jangan remehkan kekuatan sebuah gembok..” cibir Shinyoung membuat Daehyun tak bisa berkata-kata

Akhirnya mereka memilih gembok masing-masing. Shinyoung memilih gembok yang dapat membuatnya menulis banyak, sedangkan Daehyun memilih gembok yang agak simpel.

Shinyoung menuliskan perkata demi perkata begitu pula Daehyun. Tak lupa dengan tanggal dan nama mereka. Setelahnya mereka mengaitkan gembok mereka bersama gembok yang lainnya.

“selesai!” ujar Shinyoung semangat, “kau menulis apa? Banyak sekali..” ujar Daehyun sambil melihat gembok Shinyoung yang banyak tulisan.

“hm, lihat saja kalau kau berani..” ujar Shinyoung

Daehyun terkekeh dan mengusak rambut Shinyoung gemas.

 

***

Saat ini mereka sedang duduk di salah satu bangku sambil memakan es krim.

“oh iya, kenapa kau ingin ke sini?” tanya Shinyoung

“aku? Ah, Ayahku bilang di sini tempat dia bertemu cinta pertamanya untuk pertama kali..” jawab Daehyun

Shinyoung sedikit kaget, “Oh ya? Kalau begitu sama dengan Ibuku..”

Daehyun menoleh, sama kagetnya dengan Shinyoung. “ternyata Namsan Tower banyak sekali kenangan indah..” ujar Shinyoung kemudian. “kau benar..” Daehyun menyetujuinya

“kau.. Sama sekali tidak seperti apa yang dipikirkan teman-teman..” ujar Daehyun

“hm? Maksudmu?” tanya Shinyoung. “yah, teman-teman kebanyakan bilang kalau kau sangat dingin dan kurang percaya dengan namja..” jelas Daehyun

“ah, ternyata aku seperti itu di mata orang lain. Kalau boleh jujur, aku bersikap seperti ini karena aku ingin tahu perasaan mereka sesungguhnya. Banyak namja di dunia ini yang menyakiti yeoja dan aku benci itu..” jelas Shinyoung

Daehyun menatap Shinyoung lalu tersenyum, “aku berbeda loh dengan mereka..” ujarnya kemudian

Shinyoung terkejut lalu menatap Daehyun. Tiba-tiba wajahnya langsung tersipu ketika melihat Daehyun tersenyum seperti itu, dia langsung membuang mukanya.

“a-apa maksudmu?” tanya Shinyoung meminta penjelasan

“yah, kau tahu maksudku..”

“aku tidak tahu. Ah! Sudah jam lima! Ayo kita pulang!” ujar Shinyoung lalu berangkat dari duduknya. Daehyun tersenyum melihat tingkah Shinyoung.

“Shinyoung-ah..” panggil Daehyun. Shinyoung menoleh dan mencoba mengatur ekspresinya.

“gumawo..” lanjut Daehyun sehingga membuat Shinyoung tersenyum. “sama-sama..” ujarnya

Lalu mereka berjalan kembali ke Namsan dan pulang.

 

***

Daehyun merebahkan tubuhnya begitu memasuki kamarnya. Hari ini dia lelah sekali, namun menyenangkan. Diraihnya ponsel dari saku celananya dan dilihatnya poto-poto dia bersama dengan Shinyoung.

“apakah benar kau malaikat?” Daehyun terdiam melihat poto Shinyoung sedang tersenyum memanggilnya. “apa yang harus ku lakukan? Aku jadi menyukaimu..”

Daehyun menghela nafas dan menutup matanya. Dia tak siap menerima kenyatan kalau Shinyoung benar-benar malaikat. Dia baru saja mengkonfirmasi kepada kakaknya, dan kakaknya bilang Shinyoung 100% malaikat.

Sementara saat ini, Shinyoung juga terbaring di kasurnya dan melihat poto-potonya bersama Daehyun, sesekali dia tersenyum, sesekali dia tertawa.

Dia menghela nafas, “apakah aku menyukainya?” tanya Shinyoung entah kepada siapa

“hei, aku malaikat cinta, tidak mungkin aku tidak tahu aku menyukainya atau tidak..” ujarnya kemudian

Perlahan dia memegang dadanya. Terasa sesak di dalam dan perlahan dia meneteskan air mata. Dia tahu benar dia menyukainya, menyukai Jung Daehyun sang iblis.

Baru saja Shinyoung diberitahu Ibunya kalau Daehyun benar adalah seorang iblis. Sebuah kenyataan yang menyiksa.

 

***

Shinyoung POV

“Bu, aku pergi dulu..” pamitku kemudian keluar dari rumah

Hari ini seperti biasa cerah sekali. Ku harap aku dapat bertemu segera dengan Daehyun.

Aku tersenyum miris. Jung Daehyun. Iya, Jung Daehyun.

Aku menghela nafas kemudian kembali berjalan munuju halte bus dengan bus yang akan mengarah ke sekolahku.

 

***

“Shinyoung-ah!” panggil seseorang dari arah belakang

Ku toleh ke arah suara. Jung Daehyun. Senyumku langsung terurai begitu melihatnya. Dia membalas senyumku dan berjalan di sampingku.

“pagi..” sapanya, “pagi..” balasku

“ah, hari ini cerah sekali. Oh iya, yang kemarin makasih, ya?” ucapnya. Aku hanya mengangguk.

Ku pandangi dia dengan tatapan agak kesal. Dia menoleh dan memasang wajah tanya.

“ada apa?” tanyanya, “kemarin aku benar-benar kesal karena tak jadi menjahilimu naik Bungee Drop..” jawabku

“haha, salahmu sendiri memilih Lotte World yang menempuh jarak jauh sekali dari Taman Naksan..” kekehnya sambil mengusak pelan rambutku

Aku mencibir kecil lalu tersenyum. Dia berbeda. Dia tak sama dengan iblis lainnya, aku tahu itu.

Tak terasa kami sudah sampai di kelas. Saat kami masuk, beberapa pandangan tertuju pada kami. Aku dan Daehyun yang heran terus berjalan menuju bangku kami.

“ada apa?” tanyaku kepada Minah yang tadi juga memandangiku

“kalian pacaran?” tanya Minah

Aku terkejut, “hei, tidak!” jawabku

Minah tersenyum, tersenyum penuh arti padaku. Dia menghadap mejaku dan menopang dagu pada satu tangannya.

“sudah jujur saja! Kau tahu? Kemarin Jieun, Bomi, dan Eunji melihat kalian membeli aksesori di Lotte World..” ujar Minah sambil terus tersenyum.

“hei, aku-“ “kalau pun tidak, tapi akhirnya kau membuka perasaan pada namja. Padahal kau bilang semua namja itu sama, selalu mempermainkan yeoja. Tapi ku lihat, pada Daehyun kau bersikap biasa saja..” sambung Minah memotong ucapanku

Aku tertegun mendengar perkataan Minah. Benar juga..

“tapi kau..” ucapku khawatir Minah akan marah, karena ku pikir Minah juga menyukai Daehyun

“aku? Ah, aku tidak menyukainya. Lagi pula aku sudah punya pacar, dan aku ingin mengatakan padamu hari ini..”

“eh!? Siapa? Kapan?” Minah tersenyum, “mungkin kau tidak akan menyangka. Itu kemarin, dan dia adalah..” “Minah-ya..” ucapan Minah terpotong begitu mendengar orang memanggil namanya. Aku dan Minah menoleh ke sumber suara. Ku lihat Kyungsoo, Chanshik, dan Daehyun juga ikut menoleh ke sumber suara. Kini seorang Lee Byunghun mendekati Minah.

“aku ada tiket bioskop nih, nanti kita ke sana yuk..” ajak Byunghun dan dibalas anggukan Minah, “dengan senang hati..”

Aku, Daehyun, Kyungsoo, dan Chanshik menatap tak percaya pemandangan di depan kami ini. Minah pacaran dengan Byunghun. Mimpi apa aku semalam. Memang sih Minah sering bercerita tentang Byunghun tapi tak ku sangka mereka akan pacaran.

Byunghun mengusak rambut Minah pelan kemudian berjalan menuju Daehyun dkk. Daehyun dkk. menatap tak percaya pada Byunghun yang perlahan mendekati mereka bertiga.

“kau berhutang penjelasan kepada kami Lee Byunghun..” ujar Kyungsoo dibalas anggukan Daehyun dan Chanshik

Aku kembali melihat Minah masih dengan tatapan tak percaya. Dia hanya tersenyum dan mengangkat bahunya pelan.

“sekarang kau tahu..” ujarnya sambil senyam-senyum tak jelas

Aku mencoba mengontrol ekspresi wajahku saat ini, “Bang Minah, kau berhutang penjelasan juga padaku..” aku menarik Minah menuju Daehyun dkk.

 

***

Author POV

“jadi, sejak kapan kalian dekat, huh?” tanya Kyungsoo sambil memandang serius pasangan di depannya. Begitu pula dengan tiga pasang mata di sebelahnya.

Minah dan Byunghun menoleh satu sama lain, bingung bagaimana menjawabnya.

Kemudian Byunghun menoleh ke depan kembali, “hm, awal kelas dua?” ujarnya merasa agak kurang pas dengan jawabannya, “tiga hari pertama masuk kelas dua..” sambung Minah memperjelas ucapan sang kekasih.

Kini, keempat pasang mata di depan mereka menghela nafas serempak. Mereka tidak percaya kalau teman mereka itu telah dekat hampir setengah tahun lamanya.

“tapi kau tidak pernah bilang kalau kau menyukai Minah..” ujar Chanshik. Minah menatap Byunghun dengan tatapan, ‘tidak pernah?’. Byunghun panik melihat ekspresi kekasihnya yang menuntut sebuah jawaban.

“dia memang tidak bercerita, tapi kemarin dia bilang Minah cantikkan?” tanya Daehyun mengingat kejadian beberapa hari lalu yang tentunya menyelamatkan nyawa Byunghun.

“ah, kau benar..” ujar Kyungsoo dan Chanshik bersamaan

“kau juga Minah-ya. Kau tidak pernah bercerita padaku kalau kau suka Byunghun..” ujar Shinyoung yang membuat Byunghun balas menatap Minah dengan tatapan ‘tidak pernah?’.

Minah panik, “hei-hei. bukankah aku sering bilang kalau Byunghun itu keren, baik, perhatian, lucu?” Minah melempar segala pertanyaan untuk membuat Shinyoung menyadari hal yang selama ini diceritakannya tentang Byunghun.

“ah, jadi itu cara kau menceritakan rasa suka mu?” tanya Shinyoung kikuk

Minah menatap sahabatnya itu tak percaya, “kau tidak mengerti? Hah, tidak bohong kalau kau tidak punya orang yang kau sukai..” ujar Minah langsung ditatap dengan pandangan tanya oleh Kyungsoo, Byunghun, Chanshik, dan Daehyun.

“jadi itu benar!?” pekik mereka berempat

Shinyoung menatap Minah kesal. Sekarang Minah merutuki mulutnya yang berbicara tanpa berpikir.

“i-itu dulu!” ujar Minah sambil senyam-senyum kaku. “sekarang Shinyoung sudah punya orang yang dia sukai..” sambungnya dan kembali dipandang Kyungsoo, Chanshik, Byunghun, dan Daehyun, kali ini dengan tatapan terkejut.

“benarkah!?” pekik mereka lagi dan langsung melihat Daehyun yang-sepertinya-hatinya sedang hancur lebur sekarang. Sementara Minah merutuki mulutnya dan meminta maaf kepada Shinyoung yang sedang memukulnya kesal.

“ya! Kau! Babo!” bisik Shinyoung kesal dengan mulut ‘tidak bisa direm’ sahabatnya itu.

“mian-mian. Aku tidak sengaja. Haish, mulutku ini tak bisa tidak diam..”

“gwaenchana?” tanya Chanshik berbisik karena melihat sahabatnya satu itu-Daehyun-sedang tidak dengan ekspresi yang menyenangkan.

“hei, tidak bisakah kau melihat ekspresinya itu?” sela Kyungsoo kemudian

Bagi mereka saat ini, ekspresi Daehyun tak bisa dijelaskan dengan kata-kata*ini lebay*. Setelah perkelahian sengit(?) dua sahabat-Shinyoung dan Minah-mereka menatap tiga sahabat yang kini menepuk-nepuk pelan pundak sahabat mereka, Daehyun.

“kalian kenapa?” tanya Minah dan Shinyoung serempak bingung-lebih tepatnya lola-

Keempat sahabat itu langsung salah tingkah. Tak berapa lama bel masuk berbunyi, menyiratkan sebuah pertanyaan dalam benak Shinyoung dan Minah.

 

***

-istirahat

Kini, Shinyoung terpaksa mengikuti sahabatnya Minah berkumpul-makan-bersama kekasihnya dan ketiga sahabatnya. Walau agak terpaksa, namun Shinyoung juga berterima kasih berkatnya dia bisa lebih dekat dengan Daehyun.

“oh ya, gossip yang mengatakan kalian ke Lotte World kemarin benar?” tanya Minah membuka percakapan. Shinyoung dan Daehyun yang merasa mereka lah yang diajak berbicara, terkejut dan nyaris memuncratkan apa yang mereka makan/minum.

“ah, Aku juga penasaran akan hal itu..” ujar Byunghun

Chanshik dan Kyungsoo melihat Byunghun dan Minah. ‘Kompak sekali pasangan baru ini’, pikir mereka. Lalu melihat Shinyoung dan Daehyun.

Shinyoung dan Daehyun bertatapan kemudian saling menghela nafas.

“itu benar..” jawab mereka serempak

“hee!? Kalian kencan? Tunggu, kalian pacaran?” tanya keempat pasang mata yang kini menatap mereka serius.

“ani, kalian salah paham..” ujar Daehyun dan dibalas anggukan Shinyoung.

“kemarin aku hanya menemani Daehyun keliling Seoul..” ujar Shinyoung kemudian dibalas juga anggukan Daehyun

“kami ke Hongdae..” “melihat mural di sekitar Hongdae, kemudian melihat mural di Ihwa-dong..”

“Daehyun mengajak ke kedai Jjampong dan aku tertipu. Kalian tahu? Di sana pedas sekali..”

“kemudian kami beristirahat di taman Naksan, setelahnya karena waktu yang mepet kami ke Lotte World..” “lagi-lagi karena waktu yang mepet, Shinyoung tak jadi balas dendam. Rencananya dia ingin naik Bungee Drop, haha..”

“kau tahu, itu sangat mengesalkan. Tapi aku punya firasat akan membalasmu suatu saat, Jung Daehyun..”

“oh ya? Lihat saja nanti apa yang dapat kau lakukan..” “oh, kau mengejekku?”

Keempat pasang mata hanya dapat melihat perkelahian kecil Shinyoung dan Daehyun. Dalam hati mereka: ‘sejak kapan mereka akrab?’.

“sejak kapan kalian akrab?” Chanshik menyuarakan kata hatinya dan ditatap langsung oleh kelima pasang mata di sekitarnya.

Karena pertanyaan Chanshik, Daehyun dan Shinyoung menjadi salah tingkah dan menggaruk kepala/tengkuk mereka yang tidak gatal.

“a-apa salahnya mereka akrab?” Kyungsoo mencoba mengubah suasana

“tidak salah sih. Kalian cocok..” Chanshik kembali menyuarakan kata hatinya. Anak ini tak bisa baca suasana.

Satu kata yang Chanshik ucapan itu langsung membuat Shinyoung dan Daehyun saling menoleh dan salah tingkah.

“kenapa kalian tidak pa-“ “Chanshik-ah, kau mau ku traktir?”

Kyungsoo menarik Chanshik secara paksa ketika ia hendak mengucapkan kata-katanya lagi. Kali ini Kyungsoo tahu apa yang ingin dia katakan makanya menariknya menuju salah satu kedai di kantin.

“ya! Kau ini kenapa sih!?” kesal Kyungsoo

“kau itu yang kenapa! Aku ini mendukung mereka, lagi pula benar kan mereka sangat cocok..” jawab Chanshik sama kesalnya

“kau ini tidak baca suasana, eo!?” “kenapa kau marah padaku? Aku hanya ingin membantu Daehyun, kau tidak lihat wajahnya yang menyedihkan tadi pagi?”

“ya! Aku lihat! Sangat jelas malah! Tapi biarkan Jung Daehyun itu menyatakan perasaannya sendiri..” ujar Kyungsoo sudah lebih tenang dari sebelumnya

Chanshik terlihat berpikir kemudian menyerah, “baiklah Tuan Do Kyungsoo, aku ingin ini, kau bilang tadi akan mentratirku kan?” ujar Chanshik lalu meninggalkan Kyungsoo yang melotot menatapnya.

“kurang ajar kau Gong Chanshik! Memanfaatkan waktu, heish! Menyesal aku!” kesal Kyungsoo kemudian mengambil beberapa snack dan membayar snacknya dan Chanshik.

Saat kembali, suasana berubah berkat peralihan pembicaraan dari Byunghun dan Minah.

 

***

Siapa sangka keempat orang yang tadinya canggung menjadi akrab dalam sehari berkat pasangan Minah dan Byunghun. Sekarang mereka keluar gedung sekolah bersama.

“Shinyoung-ah, mian. Aku pulang dengan Byunghun. Tidak apa, eo?” tanya Minah kepada sahabatnya itu. Biasanya mereka akan pulang bersama, sepertinya mulai hari ini akan berubah berhubung Byunghun adalah kekasih Minah.

“eo, gwaenchana..” ujar Shinyoung kemudian lalu melihat sahabatnya itu melambai dan pergi bersama Byunghun.

“ah, kami juga. Annyeong~” ujar Chanshik dan Kyungsoo kemudian meninggalkan Shinyoung dan Daehyun berduaan di sana.

Suasana terasa canggung. “mau ku antar?” tanya Daehyun memecah suasana

“eh?” Daehyun menarik lengan Shinyoung, “anggap saja ucapan terima kasih untuk yang kemarin..” ujarnya sambil tersenyum dan berjalan menuju tempat parkiran.

Betapa terkejutnya Shinyoung ketika melihat mereka sedang berjalan menuju sebuah mobil sedan hitam yang berkilauan di depan mereka.

“kau bisa mengendarai mobil!? Tunggu, bukankah ini ilegal? Kau bahkan belum berumur 20 tahun!?” pekik Shinyoung begitu saja

Daehyun terkekeh pelan mendengarnya, “haha, tenang saja..” ujarnya kemudian membuka pintu mobil untuk penumpang di depan

“tapi-tapi..”

“sudah masuk saja..” Daehyun menarik dan memaksa Shinyoung masuk lalu menutup pintu. Dia terkekeh pelan lalu berjalan menuju pintu pengendara dan masuk.

“Dae-Daehyun-ah, ini tidak benar..” ujar Shinyoung kemudian-panik

Daehyun hanya terkekeh melihat tingkah menggemaskan orang yang disukainya ini. Lalu dia memasang seatbelt Shinyoung dan mulai menyalakan mesin.

“oh Tuhan, semoga tidak ada polisi..” ujar Shinyoung sambil mengatup kedua tangannya berdoa. Daehyun terus terkekeh karena tingkah lucu Shinyoung.

 

***

“untunglah tidak ada polisi..” ujar Shinyoung setelah Daehyun dengan selamat mengantarkannya pulang ke rumah

“haha, sudah ku bilang tenang saja..” ujar Daehyun kemudian mengusak rambut Shinyoung gemas

Tiba-tiba wajah Shinyoung memerah. Dia langsung menunduk dan melepas seatbeltnya lalu membuka pintu. Sebelum keluar, Shinyoung menoleh ke arah Daehyun.

“gu-gumawo..” ucapnya kemudian keluar dari mobil Daehyun. Daehyun tersenyum dan membuka jendela mobilnya dan melihat punggung Shinyoung yang buru-buru masuk ke pagar rumahnya. Sesekali Shinyoung menoleh lalu menunduk malu. Saat dia berada di pintu rumah dan membukanya, Shinyoung masuk dan menyisakan sebuah senyuman pada bibir Daehyun. Saat Daehyun hendak menyalakan mobilnya, pintu rumah Shinyoung kembali terbuka. Daehyun bingung dan melihat kembali pintu rumah Shinyoung. Muncul tangan Shinyoung lalu melambai ke arah Daehyun, tak lama Daehyun mendapat pesan.

 

From: Shinyoungie~

Gumawo. Hati-hati, semoga tidak ada polisi.

 

Daehyun terkekeh kecil dan mengklakson mobilnya setelah menyadari kepala Shinyoung sedikit keluar dari pintu rumahnya. Daehyun membalas lambaian Shinyoung sehingga membuat Shinyoung tersenyum dan kembali melambai. Tak lama setelahnya, Daehyun menyalakan mobilnya dan pulang.

 

***

Shinyoung POV

‘Shinyoung-ah, boleh aku jujur padamu? Aku adalah iblis. Dan aku tahu kalau kau adalah malaikat..’

‘Shinyoung-ah! Cepat pergi dari sini! Hyung ku telah mengetahui keberadaanmu! Shinyoung-ah! Ku mohon selamatkan dirimu! Aku mencintaimu!’

‘Dae-Daehyun-ah!’

‘Shinyoung, perasaan antara iblis dan malaikat itu terlarang! Kau tahu itu!’

‘Nek, aku tulus menyukai Daehyun. Bukan, aku mencintainya, Nek! Sangat mencintainya!’

 ‘apakah hatimu sudah dirasuki para iblis itu? Kau mirip sekali dengan –sensor-!’

‘Daehyun-ah, aku akan dibawa ke Australia. Ku rasa aku tak bisa menemuimu lagi. Daehyun-ah, aku mencintaimu. Sungguh..’

“HAAAAAH!!”

Nafasku tersengal-sengal. Apa barusan? Mimpi?

“kh..” ku tutup wajahku dengan kedua tanganku, tersentuh sesuatu yang lembab dari sudut mataku. Apakah aku menangis?

Tiba-tiba jantungku terasa sesak jika mengingat mimpi barusan, terlalu nyata jika dianggap sebagai sebuah mimpi dan.. Terlalu menyakitkan.

 

***

Hari ini aku sama sekali tak fokus belajar. Pikiranku terus melayang pada mimpiku tadi. Kenapa? Kenapa aku merasa itu akan menjadi kenyataan? Apakah Tuhan memberitahukan ku akan hal itu? Aku butuh jawaban sekarang. Siapa pun, tolong jawab aku!

“sedang apa?” tanya sebuah suara dari arah belakang. Ku toleh dan ku dapati Daehyun membawa sebuah roti dan susu cokelat berjalan ke arahku.

“hm, hanya memandangi langit..” jawabku lirih. Saat ini kami sedang berada di rooftop sekolah. Tempat favorit ketiga setelah kantin dan perpustakaan.

Daehyun duduk di sampingku dan memberi ku roti dan susu cokelat yang dia pegang barusan. Aku menerimanya dan menaruhnya di depanku.

“sepertinya kau banyak pikiran..” ujarnya kemudian lalu menatapku

Aku hanya dapat tersenyum. Senyum dipaksakan. “apa kau percaya mimpi dapat menjadi kenyataan?” tanyaku

Daehyun memasang wajah bingung, “terkadang iya. Terkadang juga tidak..” jawabnya

Aku menghela nafas, “aku takut mimpiku semalam akan jadi kenyataan..” ujarku kemudian dan mencoba mengendalikan air mataku

Daehyun menatapiku sedih, dia kemudian menggenggam tanganku erat. Aku terkejut dan hal ini membuat jantungku berdetak kencang.

“aku hanya takut akan tiga hal di dunia ini..” ujar Daehyun lalu menatapku

Aku menatapnya bingung, memintanya melanjutkan ucapannya. “satu, hyungku. Dua, melihat Ibuku menangis, ketiga melihatmu menangis..” lanjutnya

Aku menatapnya bingung, mencoba mencari penjelasan di perkataannya barusan. Kenapa? Kenapa dia takut melihatku menangis?

“Shinyoung-ah..” kini dia menggenggam erat kedua tanganku, kemudian salah satu tangannya menyentuh pipiku. Dia menunduk sesaat kemudian menatapku penuh keyakinan dan itu membuat jantungku berdetak dengan kencang.

“saranghae..”

Kata-kata yang terlontar dari mulut Daehyun membuat air mata yang ku tahan mengalir begitu saja. Entah karena aku terharu, atau..

Hh, apakah ini mimpi? Daehyun, Daehyun sang iblis menyukaiku dan aku sang malaikat juga menyukainya.

Pikiranku kembali pada mimpiku semalam. Apakah mimpi itu adalah pesan yang disampaikan Tuhan? Bolehkah aku mengabaikan mimpi itu? Bolehkah aku ikut menyerukan rasa suka ku terhadap orang di depanku ini? Yang sedang menunggu jawabanku? Tuhan, ku harap kau tidak marah. Aku tahu kau menciptakan sebuah perasaan untuk ini.

“na-nado, Daehyun-ah. Nado saranghae..” jawabku akhirnya

Dia menatapku dengan terkejut lalu tersenyum. Aku ikut tersenyum. Dia menghapus air mataku. Lalu memelukku.

Hangat. Pelukan Daehyun sangat hangat. Kehangatannya menenangkan hatiku. Begitu tenang.

 

***

Minah, Byunghun, Kyungsoo, dan Chanshik melihat tak percaya ke arah kami, terutama ke arah tangan kami yang saling bergandengan.

“daebak..” ujar Byunghun dan Minah serentak

“ya-ya!” panggil Kyungsoo begitu aku dan Daehyun sampai ke meja mereka

Aku dan Daehyun hanya tersenyum melihat mereka. “ya-ya..” Kyungsoo kembali dengan ‘ya-ya’-nya sambil menunjuk-nunjuk tanganku dan Daehyun yang saling bergandengan.

“wae?” tanya Daehyun tenang lalu mengangkat gandengan kami. “ada apa dengan ini?” tanya Daehyun lagi

“ya! Eottokkhae..” ujar Kyungsoo benar-benar tak percaya akan pemandangan siang hari yang kami sajikan untuk mereka.

Aku terkekeh pelan. “hei Gong Chanshik, tutup mulutmu..” ujarku setelah melihat mulut Chanshik yang terus terbuka lebar.

“jadi apa yang kalian lakukan di rooftop, huh?” ujar Minah minta penjelasan lalu menarikku untuk duduk di depannya. Daehyun ikut duduk di sampingku dan empat pasang mata melihat serius kepada kami.

Aku terkekeh pelan begitu pula Daehyun, “apa maksudmu apa yang kami lakukan di rooftop? Tentu saja menyatakan perasaan masing-masing..” ujar Daehyun kemudian

Keempat pasang yang tadinya menatap kami kini saling menatap.

“benar juga, apa lagi yang mereka lakukan..” ujar Chanshik

“kenapa? Apa kau membayangkan yang tidak-tidak, Bang Minah?” ujar Kyungsoo “jangan ngawur, ini sekolah..” sambungnya

“a-apa maksudmu!? T-tentu saja mereka saling menyatakan perasaan!” ujar Minah gugup karena ucapan Kyungsoo

“atau kau mengharapkan sesuatu dariku, jagi?” goda Byunghun

“ya! Lee Byunghun!” kesal Minah

Aku dan Daehyun hanya dapat terkekeh melihat pemandangan di depan kami ini.

Apakah aku boleh merasa tenang?

 

-bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s