Rival! (One Shot)

Rival

 

Hello. Holla. Hai. Aloha. Annyeong~

Saya bawa ff selingan lagi~ Ini baru selesai kemarin setelah perjuangan satu hari ga dapet ide.. *nangis*

Kali ini saya bawa 93line lagi setelah ff Hyunwoo sama Daehyun kemarin. Kenapa? Karena saya suka 93line.. Hahahaha.. Hahahaha.. Hahaha..

Ni ff udah 3 kali ganti judul. Awalnya Kim VS Lee. Kenapa? Karena main castnya bermarga Kim dan Lee. Terus ga nyambung dan berubah menjadi Kim & Lee. Ga nyambung lagi berubah menjadi Misundersanding. Ga nyambung lagi jadi berubah menjadi Rival!

Oke sip! Di sini saya membuat abang-abang ketjeh menjadi bersaudara dan 93line walau ada 94line nyangkut satu*dia awal 94line dan dia juga udah nganggep 93line itu chingu dia*. Yang Starlight, atau EXOfans, atau Shawol atau Kpopers yang suka ngikutin berita, pasti tahu kenapa saya masukin dia ke dalam cast*bisa liat di covernya siapa empunya*.

Ff ini awalnya ga ada niat untuk ngelanjutin cepet-cepet, tapi ketahuan temen*lirik* itu temen yang kemarin saya singgung maksa-maksa buat update cepet*bisik-bisik* dan sekarang dia maksa cepet lanjutin ni ff, dan maksa oneshot aja. Asem lu maksa iya komen kaga T-T, mention gue! Dari pada terus liatin ocehan saya, mending langsung check~ Oh iya, ini 6ribu word lebih looh.. Ahaha, ff terpanjang yang saya miliki.

 

Rival!

  • Main Cast            : Kim Wonshik/Ravi (VIXX), Lee Chanhee/Chunji (Teen Top)
  • Support Cast      : Kim Himchan (BAP), Kim Seokjin/Jin (BTS) as Ravi Brother, Lee Minhyuk (BTOB), Lee Jaehwan/Ken (VIXX) as Chunji Brother, etc.
  • Genre                   : AU, Crack/Humor gagal.
  • Author                  : dk1317 a.k.a GDhia/GDhia1

P.S : This is just FF and my other imagine, don’t be plagiat and other that god and I don’t like! Please don’t be silent readers! So, leave some comment~ Typos every where~

 

Happy Reading~

***

Kim Wonshik a.k.a Ravi dan Lee Chanhee a.k.a Chunji merupakan anak bungsu di keluarga mereka. Sejak kelas satu SD hingga sekarang kelas dua SMA mereka satu kelas.

Ravi merupakan anak yang pintar dan cerdas. Dia selalu mendapat peringkat pertama di kelasnya. Sedangkan Chunji, selalu mendapat peringkat dua.

Awalnya Chunji tak terlalu memperhatikan dan memperdulikan hal ini hingga saat pembagian raport kelas satu SMP yang mengatakan kalau nilainya dan nilai Ravi hanya beda satu angka, langsung membuatnya tersadar kalau Ravi selalu mendapat peringkat satu, mengalahkan dirinya.

Ravi mempunyai dua kakak Kim Himchan dan Kim Seokjin. Himchan, namja tampan berparas tinggi ini merupakan kakak kesukaan Ravi. Berbeda tiga tahun dengan Ravi. Himchan juga pintar dan selalu mengajari adik-adiknya.  Seokjin biasa dipanggil Jin juga tampan dan pintar seperti Himchan. Berbeda dua tahun dengan Himchan dan satu tahun dengan Ravi. Ravi, tidak terlalu suka dengan Jin karena menurutnya, kakaknya satu ini sok pintar, sok hebat, sok keren, sok tampan, dan lainnya.

Chunji juga mempunyai dua kakak Lee Minhyuk dan Lee Jaehwan. Minhyuk, namja tampan yang seumuran dengan Himchan ini tidak seperti adiknya, dia berteman baik dengan Himchan. Minhyuk sangat jago akrobatik. Dia juga pintar dan sering mengajari adik-adiknya. Jaehwan atau biasa dipanggil Ken ini sangat unik. Dia juga sangat ceria. Ken sangat suka menjahili Chunji, saat teman-teman Chunji bermain ke rumah, dia bahkan sering bersekongkol dengan mereka untuk menjahili Chunji.

Chunji dan Ravi adalah rival.

Mereka adalah rival. Sejak kelas satu SMP Chunji menganggap Ravi sebagai rival, dan entah kenapa karena Chunji membencinya, secara tidak sadar, Ravi juga menganggap Chunji sebagai rivalnya.

Mereka rival dalam apa pun, pelajaran, olahraga, seni, bela diri, game, atau apa pun.

Mereka adalah rival, tapi sepertinya.. Tidak akan ada perubahan..

Mereka adalah rival. Rival yang diawali dengan pertemanan semasa kecil..

Kisah ini pun dimulai ketika Ken mempertanyakan hubungan Chunji dengan Ravi di sekolah.

Chunji, Ken, dan Minhyuk saat ini sedang berada di ruang keluarga, membaca komik.

“Chanhee-ya..” panggil Ken, Chunji menoleh. “waeyo, Hyung?” tanya Chunji

Ken mengalihkan pandangannya dari komik ke Chunji, “bagaimana hubunganmu dengan Ravi?” tanya Ken

Minhyuk yang merasa tertarik dengan pertanyaan Ken, menoleh kepada Ken dan Chunji yang menatap Ken agak jengkel karena mendengar nama Ravi dari mulut kakaknya itu.

“Hyung, tidak bisakah kau tidak membicarakannya?” tanya Chunji langsung mengalihkan pandangannya kembali pada komik

“aku hanya bertanya saja. Tapi sepertinya aku tahu jawabannya..” ujar Ken tenang dan kembali membaca komiknya. Sementara Minhyuk yang menyaksikan hal tersebut hanya mengangkat bahunya lalu kembali membaca komik.

Sementara di kediaman keluarga Kim (Ravi). Hal sama dipertanyakan oleh Jin kepada Ravi.

“Wonshik-ah..” panggil Jin yang baru keluar dari dapur menuju ruang keluarga dan mendapati Ravi sedang bermain PSP sedangkan Himchan menonton TV.

“wae?” tanya Ravi singkat. Jin menghela nafas dan duduk di samping Himchan.

“apakah Chunji masih tidak suka denganmu?” tanyanya Jin sambil memakan snack yang dia bawa dari dapur tadi.

Himchan yang tertarik dengan pembicaraan kedua adiknya itu menoleh.  Ravi menghentikan permainannya dan menatap Jin.

“kau tahu sendirikan jawabannya..” jawab Ravi singkat dan kembali bermain PSP. Jin yang merasa kelakuan adiknya itu tidak sopan langsung melempari adiknya itu dengan bantal duduk.

“ah! Wae!?” kesal Ravi tak terima dilempari bantal oleh kakak yang hanya tua satu tahun darinya itu. Sementara Jin tak menjawab dan melemparnya lagi dengan bantal duduk yang tersisa.

“YA!” pekik Ravi kesal. Jin semakin kesal dan melempar bantal terakhir dengan sangat kuat ke arah Ravi.

“Ya-ya-ya! Siapa yang kau panggil ‘ya’, eo!? Aku ini Hyungmu! Jangan panggil ‘ya’! Dan jangan panggil ‘kau’!” kekesalan Jin akhirnya meluap juga

Himchan menatap kedua adiknya yang bertengkar itu sambil menggeleng-geleng. Dia tidak akan melerai mereka sampai mereka bercakar atau berpukulan sampai biru. Tidak akan.

“Kau tidak tahu berterima kasih! Aku ini selalu setia mengajarimu, kau tahu!?” kesal Jin

“ani. Himchan Hyung yang mengajarimu, kan? Jadi yang mengajariku itu sebenarnya Himchan Hyung, bukan kau..” ujar Ravi sambil menjulurkan lidahnya

“yak! Kau! Belum puas aku lempari empat bantal duduk, eo!?” kesal Jin dan memukul-mukul Ravi dengan bantal duduk yang dilemparnya tadi

“ak! Hyung! Sakit!!” teriak Ravi begitu dikroyok(?) pukulan bantal dari Jin

 

 

***

Besoknya di ‘S’ Senior High School.

“Lee Chanhee! Kerjakan soal nomor satu..” panggil Kim seonsaengnim begitu selesai menulis beberapa soal di papan tulis

“ne, ssaem!” jawab Chunji dan mulai mencari jawaban

“untuk nomor dua, hm.. Siapa ya?” Kim seonsaeng berpikir sambil memperhatikan siswa-siswanya yang mencari jawaban dengan kesusahan

“Kim Wonshik..” ujar Kim seonsaeng. Chunji dan semua murid di kelas menoleh

“ne, ssaem..” jawab Ravi tenang. Sementara Chunji dan yang lainnya melihat Kim seonsaeng dan Ravi bergantian.

“sepertinya akan ada perang..” bisik Daehyun kepada sahabat sebangkunya Lee Byunghun atau biasa dipanggil L.Joe. “Kim seonsaengnim memang suka perang..” bisik L.Joe juga

“soal nomor dua susah sekali, kalau Ravi menemukan jawabannya dan Chunji tidak, bisa ngamuk Chunji nanti..” Gong Chanshik atau yang biasa dipanggil Gongchan ikut berbisik dengan mereka

“lihat itu..” ujar Gongchan lagi sambil menunjuk ke arah Chunji yang sedang mencoret-coret kertas buramnya dengan kesal

“ku perhatikan dia sepertinya sudah selesai mencari jawaban soal nomor satu, dan dia begitu frustasi dengan soal nomor dua..” sambung Gongchan

Daehyun dan L.Joe langsung menggeleng dan melihat Gongchan. “aku tak suka Kim seonsaeng..” ujar mereka berdua serempak

“Jung Daehyun, kerjakaan soal nomor tiga, Lee Byunghun soal nomor empat, Gong Chanshik nomor terakhir..” ujar Kim seonsaeng yang ternyata mendengar percakapan mereka bertiga

‘mampus!’ batin mereka lalu mengambil buku coretan untuk mencari jawabannya

Kim seonsaeng berjalan menuju mejanya. “Lee Chanhee, apakah sudah selesai?” tanyanya

Chunji terkejut lalu menoleh ke arah Kim seonsaeng dan mengangguk lalu maju ke depan untuk menulis jawabannya. Sementara itu ternyata Ravi juga telah menyelesaikan pencarian(?) jawaban nomor dua dan maju ke depan. Semua menoleh ke Ravi yang berjalan menuju papan tulis. Chunji merasa ada yang aneh di belakangnya dan menoleh, begitu kesalnya dia menemukan Ravi yang sedang tersenyum ‘evil’ kepadanya dan mulai menulis jawaban nomor dua di papan tulis.

Chunji terus menulis dan memperhatikan Ravi, ketika dia sudah selesai dia melihat jawaban yang ditulis Ravi. Dia menelan ludahnya berat, ‘sepertinya jawabannya benar..’ batinnya lalu kembali ke tempat duduknya begitu pula Ravi.

Kim seonsaeng melihat ke arah papan tulis dan mengangguk-angguk. “benar dua-duanya. Nomor tiga, empat dan lima maju!”

Semua menoleh ke arah Ravi dengan memasang wajah kagum. Ravi hebat sekali.

“tak ku sangka jawabanmu benar. Aku bahkan tidak berhasil menemukan jawabannya..” ujar Bomi kepada Ravi

“aku pernah diajari Hyungku..” ungkap Ravi dan membuat Bomi semakin terkagum

Sementara Chanhee.. Dia.. Menatap Ravi.. Dengan.. Tatapan.. Pembunuh.. Yah benar. Dia paling kesal kalau sudah kalah dengan Ravi walau karena hal sepele.

 

***

Istirahat siang.

Seperti biasanya kantin selalu penuh dan antrian panjang terlihat sampai di koridor. Chunji yang sudah lebih dulu berada di sana bersama ketiga sahabatnya, Suga, Tao, dan Aron. Mereka duduk dengan Chunji dan Tao bersama dan berhadapan dengan Aron dan Suga yang duduk bersama. Aron yang memang tidak sekelas dengan mereka itu memandang bingung Chunji yang melahap ‘ganas’ makan siangnya .

“kenapa dia?” tanya Aron kepada Tao dan Suga. Tao dan Suga langsung menghela nafas begitu mendengar pertanyaan dari Aron.

Suga menunjuk dengan sumpitnya malas ke arah beberapa orang yang sedang makan di pojok sebelah kiri mereka. Aron menoleh ke arah yang di tunjuk Suga.

“aah, ada apa lagi dengannya?” tanya Aron begitu melihat Ravi, Kai, dan Taemin sedang makan siang bersama.

Chunji menatap Aron dengan tajam, Aron sudah biasa dengan itu.

“ya, Aron Kwak!” panggil Chunji lalu meminum airnya. “kalau bisa aku benar-benar ingin bertukar kelas denganmu!” ujar Chunji dan hanya direspon malas oleh ketiga sahabatnya. Pasalnya, Chunji sudah mengatakan hal tersebut berkali-kali.

“aargh! Aku kesal sekali dengannya!! Dia! Dia! Dia itu bodoh! Jelek! Hitam! Aneh! Seperti kartun Larva! Seperti domba! Kambing! Sok pintar! Sok keren! Bla bla bla..” sementara Chunji mengoceh sendiri tentang Ravi, Suga malah mengikutinya seakan tahu benar apa yang akan dikatakan Chunji

“… dia itu gendut, hitam, badut, pesek!” Chunji menyelesaikan ocehannya dengan diikuti ketiga sahabatnya. Chunji melihat ketiga sahabatnya, “kalian tahukan? Jadi aku tidak perlu mengatakannya lagi..” sambung Chunji dan melanjutkan makannya

Ketiga sahabatnya itu hanya menggeleng-geleng dan ikut melanjutkan makan siang mereka.

Sementara itu Ravi dan kedua sahabatnya Kai dan Taemin yang sedang makan dipojokkan tertawa setelah melihat kelakuan Chunji mengejek Ravi.

“selalu itu yang dia katakan..” ujar Kai sambil tertawa

Ravi dan Taemin hanya tertawa mendengarnya. Lalu mereka melanjutkan makan siang.

“aku heran kenapa dia segitu bencinya denganmu?” Taemin membuka pembicaran

Ravi hanya terkekeh. “entahlah, dia sudah seperti itu sejak kelas satu SMP..” jawab Ravi. Taemin dan Kai menggeleng-geleng mendengar jawaban sahabatnya itu. “Ravi-ya..” panggil Kai sambil mengambil sosis Taemin ketika Taemin sedang minum namun sayangnya ketahuan dan dihalangi Taemin dengan sumpit.

Ravi yang melihat itu terkekeh dan memberikan sosisnya kepada Kai.

“eo! Gumawo, ya! Kau jangan jadi pelit seperti Taemin..” ujar Kai senang dan memakan sosis yang diberikan Ravi, “ya Kim Jongin!” kesal Taemin

Ravi hanya terkekeh melihat tingkah kedua sahabatnya tersebut, “ada apa? Kenapa kau memanggilku tadi?” tanya Ravi mengingat kalau Kai memanggilnya tadi

“ah, kau benar!” pekik Kai dan meminum airnya, “kau tidak ingin mencari tahu alasannya..” sambung Kai

Taemin dan Ravi menoleh dan menatap Kai heran. “hei, itu aneh sekali, kan?” ujar Kai dan masih ditatap bingung oleh kedua sahabatnya. “kau bilang kalian selalu sekelas sejak kelas satu SD. Waktu SD kalian biasa-biasa saja, dan sejak SMP dia membencimu. Apa kau tidak mencoba menyelidikinya, kenapa dia membencimu?” tanya Kai. Ravi dan Taemin bertatapan lalu menatap Kai kembali.

“kenapa? Ku tanya apa kau tidak mencoba menyelidiki hal tersebut?” ujar Kai lagi, mencoba memancing Ravi menuju permainan detektif yang menurutnya akan menyenangkan

“haruskah?” tanya Ravi kepadanya dan Taemin yang sepertinya setuju dengan ide Kai.

“tentu! Ya! Kalau kalian begini terus, kalian bisa saja terus berkelahi sampai tua dengan alasan yang tidak jelas!” ujar Kai dan diikuti anggukan semangat dari Taemin.

Ravi berpikir, dia merasakan hal yang tidak enak dengan ide itu. Tapi mendengar ucapakan Kai barusan, ada baiknya dia melakukan hal tersebut.

“baiklah, kalian mau membantuku?” tanya Ravi akhirnya

“tentu saja! Untuk apa kami memberimu dukungan dan ide kalau tidak membantumu!” jawab Kai semangat, “Kai benar! Kita ini bersahabat!” sambung Taemin

Dan mulai saat itu, Detektif RaKaTae beraksi.

 

***

Sepulang sekolah di kediaman keluarga Kim

“aku pulang~” ujar Ravi dan, “kami datang~” Taemin Kai

Yeah, benar. Agar rencana mereka berhasil, tempat yang paling sempurna adalah rumah Ravi karena berdekatan langsung dengan rumah Chunji.

“eo? Kai dan Taemin! Sudah lama kalian tidak main..” ujar Himchan begitu melihat mereka hendak menaiki tangga menuju kamar Ravi

“annyeonghaseyo, Hyung! Sudah lama sekali!” sapa Taemin dan Kai sementara Ravi berjalan lurus menuju kamarnya

“eo.. Ada apa kalian main ke sini?” tanya Himchan, “misi Hyung!” jawab Kai semangat. Taemin menyenggol Kai pelan karena merasa jawaban Kai kurang memuaskan, “benar Hyung. Misi sekolah..” tambah Taemin

Himchan menaikkan alisnya lama, “baiklah kalau begitu. Lakukan yang terbaik, kalau mau makanan kecil bisa diambil diruang tengah atau ruang baca..”

“ne, kamsahamnida Hyung!” jawab mereka semangat dan lanjut menaiki tangga menuju kamar Ravi dengan Ravi yang menunggu diluarnya

“Wonshik-ah!” panggil Himchan sebelum mereka benar-benar memasuki kamar Ravi, “ne?” tanya Ravi dan berbalik melihat Himchan di bawah sedang memperhatikan laptopnya.

“Seokjin mana? Dia tidak bersama mu?” tanya Himchan dan masih terus terfokus pada laptopnya, “Seokjin Hyung pergi menjenguk wali kelasnya, Hyung..” jawab Ravi kemudian berbalik dan memasukki kamarnya dan langsung mendapati Taemin dan Kai yang sedang mengambil komik dari lemarinya dan tiduran di tempat tidurnya.

Ravi memandang kedua sahabatnya itu datar. ‘aku tahu ini akan terjadi..’ batinnya dan mendekati Kai dan Taemin lalu menendang mereka berdua

“ya! Bagaimana dengan rencana kalian tadi, eo?” ujar Ravi dan menarik kaki kedua sahabatnya itu karena tak mau lepas dari tempat tidurnya

“sebentar saja. Ya! Kau tidak bilang kalau kau sudah punya edisi terbaru..” pinta Taemin sambil menunjuk-nunjuk komik yang tadi diambilnya ke arah Ravi

“Taemin benar..” setuju Kai dan ikut menunjuk-nunjuk komik yang ada di tangannya kepada Ravi

“karena kalian pasti tidak akan mengembalikannya lagi!” ungkap Ravi dan dipandang dengan tatapan ‘sok’ polos dari kedua sahabatnya

“mian, aku lupa..” ujar Taemin dengan wajah‘sok’ polos, “hmm, sepertinya aku menghilangkan beberapa komikmu..” ujar Kai jujur namun dengan wajah ‘sok’ polos juga

Ravi mengigit bibirnya kesal dan langsung saja dia membungkus Kai dan Taemin dengan selimut dan menimpa mereka. “kalau begitu baca saja di sini!” ujar Ravi sedikit berteriak namun aslinya dia geram dengan kedua sahabatnya ini

“aa! Ya! Ravi-ya! Kim Ravi!” teriak Kai dan Taemin yang terbungkus selimut karena kesakitan ditimpa Ravi berkali-kali

Ravi pun menghentikan acara ‘mari membuat kedua anak ini kesakitan’-nya. Taemin membuka selimut sambil memegang pinggangnya karena posisinya tadi sedang terkurap sedangkan Kai juga memegang pinggangnya karena posisinya tadi miring.

Ravi menatap puas kepada kedua sahabatnya itu. “cepat bacanya aku mau ambil makanan dulu..” ujarnya dan langsung dibalas senyum merekah dari kedua sahabatnya itu

 

***

Sementara di kediaman keluarga Lee. Suga, Aron, dan Tao juga berkunjung. Chunji langsung menyuruh ketiga sahabatnya itu masuk dan menuju ke kamarnya. Saat hendak masuk, mereka dikejutkan dengan Ken yang sedang membaca komik di dalam kamar Chunji.

“Hyung! Sudah ku bilang baca komik di kamarmu!” ujar Chunji kesal sambil menarik-narik tangan Ken. Ken menoleh ke arah adiknya itu dan mendapati Suga, Aron dan Tao.

“eo! Sudah lama kalian tidak main!” sapa Ken kemudian merubah posisinya yang tadi tiduran menjadi duduk. Suga, Aron, dan Tao membungkuk memberi salam kepada Ken.

“apa kabar Hyung?” tanya Tao, “tidak baik..” jawab Ken agak lesu

“eh? Kenapa?” tanya Suga, “apa kau sakit, Hyung?” tanya Chunji

Ken megangguk. “sakit apa?” tanya Aron, Suga, Chunji, dan Tao serempak

Ken memegang dadanya, “hatiku..” jawab Ken sambil pura-pura memasang wajah sedih dan langsung dibalas tatapan malas dari Chunji dan ketiga sahabatnya.

“Hyung kau tidak mau keluar sekarang juga?” tanya Chunji mulai geram

Ken tersentak-lebih tepatnya pura-pura tersentak-mendengar jawaban Chunji, “lihatlah! Bagaimana hatiku tidak sakit jika adikku sendiri mengusirku?” ujar Ken sambil memasang wajah sedih kepada Aron, Tao dan Suga.

Aron, Tao dan Suga mengangguk-angguk. Sepertinya mereka mengerti maksud dari Ken memasang wajah seperti itu kepada mereka.

“hentikan Hyung.. Kau membuatku ingin menonjokmu..” ujar Chunji malas

“Chanhee-ya, kau tidak boleh seperti itu terhadap Hyungmu sendiri..” ujar Suga sambil menepuk-nepuk pundak Chunji, “Yoongi benar Chanhee-ya..” ujar Aron, “aku juga setuju, Chunji-ya..” ujar Tao juga

Chunji menatap tak percaya ketiga sahabatnya itu. “ya! Kalian dipihakku atau Jaehwan Hyung, sih!?” kesal Chunji dan hanya dibalas tertawa lantang dari Ken, Aron, Tao, dan Suga.

“nanti aku akan traktir kalian ddeokbokki, eo?” ujar Ken dibalas anggukan mantap dari Suga, Aron, dan Tao. “baiklah, Hyungmu ini akan keluar Lee Chanhee..” lanjut Ken dan berdiri dari posisinya kemudian mengacak-acak rambut Chunji gemas dan segera keluar dari kamar Chunji sebelum Chunji mengamuk kembali.

Chunji menatap ketiga sahabatnya geram. “ya! Coba saja kalau kalian berani bersekongkol dengan Jaehwan Hyung lagi!” ujar Chunji dan hanya dibalas tertawa oleh ketiga sahabatnya

“dia sudah mengatakan itu berkali-kali..” bisik Tao dan langsung dibalas anggukan dan tawaan dari Aron dan Suga

“apa yang kalian bisikkan!?” tanya Chunji karna menyadari mereka berbisik-bisik. Aron, Tao, dan Suga hanya terkekeh pelan.

 

***

Hari sudah menjelang malam dan teman dari kedua pihak entah mengapa pulang di saat yang bersamaan. Jadilah mereka bertemu di depan pintu pagar rumah masing-masing.

“bye Ravi-ya!!” ujar Kai dan Taemin, “bye Chunji-ya..” begitu pula dengan Tao, Aron, dan Suga

Mereka saling menoleh, begitu pula Chunji dan Ravi. Chunji melihat malas ke arah Ravi.

“annyeong Chunji-ya..” sapa Ravi. Chunji memutar bola matanya malas dan melihat ketiga sahabatnya. “pulanglah..” ujar Chunji

“jadi kau mengusir kami, eo?” tanya Suga agak tak terima, “ani. Bukan begitu maksudku, hari sudah mulai malam dan aku sedang malas melihat wajah seseorang..” jawab Chunji sambil mengayunkan tangannya menyuruh ketiga sahabatnya untuk pulang.

Suga mencibir dan langsung berbalik untuk pulang, begitu pula Tao dan Aron. Setelahnya, Chunji kembali masuk ke rumah dan sengaja menutup pintu pagar kuat sekali.

Ravi yang melihat adegan tersebut menatap kedua sahabatnya begitu pula kedua sahabatnya. Mereka saling menangkat bahu dan menepuk-nepuk bahu agar bahu mereka turun.

“kami pulang dulu..” pamit Taemin, “awas kalian besok! Omongan saja mau buat rencana malah baca komik seharian suntuk, snack kesukaan ku dihabiskan, malah berkomplotan dengan Jin Hyung untuk membuatku kesal, dengan entengnya melahap habis lauk kesukaanku!” cibir Ravi panjang lebar mengingat apa yang telah kedua sahabatnya ini lakukan di rumahnya

“mian mian.. Besok kami janji akan serius!” ujar Kai dibalas anggukan Taemin

Ravi menyipitkan matanya, menyelidiki kepastian dari kedua sahabatnya. Sedangkan sahabatnya sendiri hanya senyum-senyum tidak jelas.

“baiklah. Sudah sana pulang! Aku muak melihat wajah kalian seharian penuh..” ujar Ravi. “baiklah! Besok aku punya firasat baik!” ujar Taemin senang

Kai dan Ravi menoleh, “oh yeah?” tanya mereka serempak dan dibalas anggukan Taemin. Pasalnya, firasat Taemin selalu tepat dan akurat.

Kai dan Ravi pun mengangkat bahunya pelan, tak berapa lama Kai dan Taemin pun pulang ke rumah masing-masing.

 

***

Ravi, pagi sekali sudah sampai di sekolah. Lagi-lagi dia berkelahi dengan kakaknya Jin karena dibangunkan pagi sekali, pantas saja wajahnya hari ini agak kesal. Hari ini juga dia tidak sedang dalam suasana hati yang bagus dan dia mempunyai firasat buruk.

Kai seperti biasa masuk sebelum 1 menit bel berbunyi, bersiul mendekati Ravi dan Taemin yang sedari tadi mengobrol. Dia hanya melihat kedua sahabatnya itu lama sekali karena terlihat wajah mereka yang serius.

“kalian kenapa? Sepertinya serius sekali?” tanya Kai akhirnya. Taemin dan Ravi menatap Kai dan menghela nafas.

“bad feeling..” jawab mereka berdua. Kai mengangkat alisnya, “bad-bad apa?” tanya Kai mencoba memperjelas pendengarannya. “bad feeling Kim Kai! Firasat buruk!” ujar Ravi dan Taemin serempak. Kai melongo melihat mereka, “aku kan cuma minta pengulangan..” cibirnya karena jika Ravi dan Taemin punya firasat buruk dia akan kena imbas bad-mood mereka berdua

Saat Ravi dan Taemin hendak menjawab cibiran Kai, bel pun berbunyi dan masuklah, Han seonsaeng guru kesenian.

“selamat pagi semuanya..” sapa Han seonsaeng, “pagi, ssaem..” jawab semuanya

Han seonsaeng merapikan berkas-berkasnya dan menatap siswanya sambil tersenyum. siswa-siswanya hanya bingung melihat tingkah guru kesenian mereka itu.

“pelajaran kita selanjutnya, membuat lagu..” ujar Han seonsaeng dan langsung saja dibalas helaan nafas dari siswa-siswanya. “diam, diam! Kali ini kalian berkelompok! Satu kelompok ada yang tiga dan ada yang empat..” ujar Han seonsaeng

Seluruh siswa langsung gaduh dan langsung membuat kelompok mereka. “tapi..” Han seonsaeng melanjutkan pembicaraannya dan langsung ditatap oleh siswanya

Han seonsaeng tersenyum dan seluruh siswa malah menjadi tidak enak badan, “ssaem yang menentukan..” lanjut Han seonsaeng dan langsung dijawab perasaan tak terima

“ssst-diam, diam!! Kelompok pertama!” teriak Han seonsaeng dan langsung saja membuat semuanya bungkam

“Kim Jongin, Lee Taemin, Huang Zhi Tao, Min Yoongi!” ujar Han seonsaeng dan langsung dibalas tatapan kaget oleh siswanya

“ss-ssaem..” Taemin hendak berkomentar, “kelompok kedua!”

Taemin menggigit bibirnya geram, “inilah firasat buruk ku..” ujarnya kepada Kai yang masih melongo dengan pemilihan kelompok dari Han seonsaeng.

“kau bagaimana?” tanya Taemin yang khawatir dengan Ravi karena dia juga punya firasat buruk, “aku punya firasat buruk, dan ku harap itu bukan satu kelompok dengan Chunji..” ujarnya

“… Kelompok lima, Kim Wonshik, Lee Chanhee, Jung Daehyun!”

Semua menoleh kepada Han seonsaeng dan menoleh kepada Ravi dan Chunji yang saling menatap dengan tatapan benci. Sedangkan Daehyun..

“sial aku..” ujarnya lemas dan menghela nafas berat.

 

***

Di ruang musik.

Ravi mengetuk-ngetuk pensilnya dan memainkannya sesekali sembari melihat kertas musik di hadapannya dan menulis beberapa kata di dalamnya. Sementara di sampingnya, Daehyun menggumamkan beberapa syair sambil menuliskannya. Dan di depannya, Chunji memandang kertas musiknya kesal kemudian menuangkan kekesalannya di dalamnya.

Beginilah kira-kira yang ditulis oleh Chunji:

Hari ini begitu sial. Pagi-pagi sudah ditinggal Minhyuk Hyung dan disuruh menunggu Jaehwan Hyung. Dan apa sekarang? Satu kelompok dengan domba aneh ini? Heol Daebak! Aku tidak apa-apa satu kelompok dengan Jung Daehyun yang pintar menyanyi ini, tentu tidak apa-apa. Tapi apakah domba ini bisa bernyanyi? Jangan harap, nilai saja bagus tapi suaranya jelek. Tunggu! Apakah aku memuji nilainya bagus? No-no! Itu berkat kedua Hyungnya yang pintar dan cerdas!

Dia sedari dulu memang tak bisa menyanyi, hahaha. Sepertinya aku lebih unggul darimu kalau masalah menyanyi domba!

Daehyun yang menyadari kalau Chunji sedari tadi menulis dengan lancarnya langsung melongo kagum. Ravi yang ikut tersadar melihat Daehyun yang terkagum kemudian melihat Chunji yang menulis dengan sangat evil dan tertawa nista(?).

Ravi mencoba melihat apa yang ditulis Chunji. Setelah membaca hampir seluruhnya, Ravi menatap Chunji datar. Chunji yang menyadari seseorang menatapnya, terkejut melihat Ravi yang memasang wajah datar kepadanya.

“oh? Kau membacanya?” tanya Chunji sambil menunjuk kertas musiknya dengan pensil kepada Ravi

“siapa yang kau maksud domba aneh? Dan lagi, nilaiku bagus juga karena aku berusaha, bukan hanya karena Hyung ku! Dan, dulu aku memang tidak bisa bernyanyi tapi sekarang beda! Lagi pula apa ini? Kau lebih unggul dariku dalam menyanyi? Jangan harap! Suara mu itu cempreng! Kau tahu itu!?” ujar Ravi panjang lebar kepada Chunji sambil menunjuk-nunjuk tulisan yang dibuat Chunji tentangnya

Chunji menggeram kesal melihat Ravi, “apa kau bilang! Hei! Suara ku tidak cempreng! Dan tentu saja aku unggul darimu dalam menyanyi! Kau bahkan tak bisa baca nada! Kau ingat betapa sulitnya Jaehwan Hyung mengajarimu tangga nada dulu?”

“i-itu memang ku akui! Tapi sekarang aku beda! Lalu bagaimana dengan kau? Bukannya Himchan Hyung juga sangat sulit mengajarimu bermain piano! Kau bahkan tak bisa mengingat tuts-tuts musik dan kunci-kuncinya!”

“ya! Kenapa kau mengingatkan hal itu, eo!?”

“wae? Apa tidak boleh!? Dan lagi! Kau tahu betapa sulitnya Seokjin Hyung mengajarimu memasak telur gulung waktu itu? Eeii.. Kau bahkan takut menyalakan kompor tapi mau belajar masak..”

“Ya Kim Wonshik! K-kau! Bagaimana dengan kau! Kau sendiri takut badanmu sakit tapi mau belajar akrobatik dengan Minhyuk Hyung!”

“Ya!” “kau tahu, badanmu tidak akan pernah selentur Minhyuk Hyung..”

Sementara kedua ‘teman masa kecil’ ini membongkar masa lalu masing-masing. Siswa-siswa yang lain begitu pula dengan Han seonsaeng malah menyaksikan mereka dengan asyiknya.

“lihatlah mereka, sejauh mana mereka akan membongkarkan masa lalu masing-masing..” ujar L.Joe dibalas anggukan Gongchan

“… Dasar bodoh! Tetap saja kau tidak ada perubahan sejak dulu!!” teriak Ravi dan Chunji serempak dan menyelesaikan acara ‘mari membongkar masa lalu anak ini’ mereka.

Semua terdiam begitu pula Chunji dan Ravi. Mereka yang menyadari suasana di antara mereka begitu sepi, mengerjabkan mata dan melihat sekeliling mereka. Betapa memalukannya mereka saling mengatakan masa lalu di hadapan teman sekelas bahkan guru kesenian.

“sudah selesai?” tanya Do Kyungsoo ketua kelas mereka atau biasa dipanggil D.O.

“aku masih penasaran, loh..” ujar Bomi dibalas anggukan Jiyeon

Ravi dan Chunji mengusap wajah mereka karena malu. Ravi dan Chunji saling bertatapan dan mencibir satu sama lain.

 

***

“haish, Lee Chanhee!” ujar Ravi kesal dan menendang kaleng minuman di depannya

Taemin dan Kai hanya menatap Ravi sambil menggeleng kepala mereka. “bukankah itu bagus kalau kalian satu kelompok. Kau bisa tahu apa penyebab kekesalan Chunji padamu..” ujar Taemin

Kai menepuk tangannya semangat, “benar apa kata Taemin!” Kai menyetujui perkataan Taemin dan mereka berdua ber-high five

Ravi melihat kedua sahabatnya itu sambil menghela nafas, “aku tahu penyebabnya..”

Taemin dan Kai berhenti dan menatap Ravi kaget, “benarkah? Bagaimana bisa?” tanya mereka serempak

Ravi kembali menghela nafas, “tadi waktu kami saling mengatakan masa lalu kami. Dia bilang dia tak suka aku selalu jadi nomor satu dan dia selalu nomor dua..” jawab Ravi

Taemin dan Kai menatap Ravi tak percaya, “kalau itu, salahnya sendiri kenapa lebih bodoh darimu..” ujar mereka serempak dan langsung dibalas tawa dari Ravi

“ahahahaha! Kalian benar!” ujar Ravi lalu merangkul kedua sahabatnya itu untuk kembali berjalan

“jadi, kita ngapain di rumahmu kalau kau sudah tahu alasan dia membencimu?” tanya Taemin

Kai memandang Taemin tak percaya dan memukul bahunya pelan, “tentu saja menghancurkan harinya..” jawab Kai sambil tersenyum jahil

“ya! Kalian jangan membuatku kesal lagi, eo!? Tak ku izinkan kalian masuk ke kamarku!” ujar Ravi setelahnya Kai dan Taemin berlari menjauhi Ravi

“kalau kami sampai duluan kau tidak akan melakukan hal itu!” ujar Kai dan Taemin dan berlari kencang menuju rumah Ravi

 

***

Sepulang sekolah dan hari libur memang jadi hal favorit Chunji. Selain dapat bersantai, dia tidak akan melihat wajah menyebalkan Ravi. Saat ini, dia sedang menonton drama kesukaannya sebelum diganggu oleh satu pesan masuk. Chunji membuka dengan jengkel pesannya.

 

From: Daehyun

Kita tidak akan kerja kelompok untuk menyelesaikan lagu kita?
Tiga hari lagi dikumpulkan, kau ingat?

 

Disaat yang bersamaan, Ravi juga menerima pesan tersebut.

“aai, Jung Daehyun..” ujar mereka berdua serempak. Ravi berpikir sejenak sedangkan Chunji melempar ponselnya ke sofa, tak berniat membalasnya.

Ravi kemudian tersenyum dan membalas pesan Daehyun

 

To: Daehyun

Baiklah! Ayo, di rumahku!

 

Lalu mengirim pesan kepada Chunji

 

To: ChanJi (Chanhee-Chunji)

Ya, Lee ChanJi! Ayo kerja kelompok di rumahku!

Tak ada alasan menolak atau akan ku katakan kepada Han ssaem kalau kau tak aktif!

Nyehehe. Ku sarankan kau membawa cookies kesukaan ku.

Aku tahu ibumu membuatnya kemarin. Ku tunggu~

 

Chunji begitu shock melihat pesan dari Ravi entah mengapa saat membaca pesan itu, dia hendak melahap cookies yang dimaksud Ravi. Chunji melahap cookies-nya buru-buru dan membalas pesan Ravi.

 

To: Yang(domba)Ravi KimWonshiki Babo

Seenak perutmu menyuruh-nyuruhku dan mengancamku!

 

Ravi tertawa dan sengaja tak membalas pesan Chunji. Chunji yang mulai kesal mengambil plastik di dashboard dapur dan membungkus cookies kesukaan Ravi. Begitu-begitu, dia juga takut akan ancaman Ravi. Kemudian dia berlari menuju kamarnya dan mengambil kertas musiknya lalu berlari menuju pintu dan bertemu dengan Minhyuk yang baru saja pulang kuliah.

“loh? Mau kemana?” tanya Minhyuk, “rumah Ravi..” jawab Chunji lalu buru-buru keluar rumah dan berlari, “tumben sekali..” ujar Minhyuk agak bingung melihat tingkah adik bungsunya itu

Chunji sampai di pagar rumah Ravi dan menekan bel. “nuguseyo?” tanya orang di dalam rumah, yaitu Ravi. Chunji menempelkan wajahnya ke kamera bel.

“ya! Kim Wonshik!” teriak Chunji, ‘piip’ sambungan diputuskan oleh Ravi, ‘tiit tiit’ dan pintu dibukakan Ravi. Chunji melongo sesaat karena dia tidak diperdulikan Ravi.

Tanpa basa basi, Chunji langsung masuk ke halaman rumah. Agak kaget karena sudah lama sekali dia tidak main ke rumah Ravi. Tiga tahun, mungkin? Yeah, terakhir kali dia ke rumah Ravi saat kelas satu SMP. Yeah, saat Chunji mulai tak menyukai Ravi. Chunji langsung membuka pintu rumah Ravi.

“ya! Kim Wonshik!” pekik Chunji begitu masuk. Kagetnya, Ravi sudah menunggunya dengan senyum merekah.

“empat menit, eo? Lumayan cepat. Mana cookies-nya?” tanya Ravi sambil melihat tangan Chunji dan senyumnya tambah merekah begitu menemukan sebungkus cookies di tangan Chunji

Chunji menatap bungkus cookies-nya malas dan membuka sepatunya lalu memberikan cookies tersebut kepada Ravi.

“assa!” ucap Ravi senang, “jangan kau makan sendiri! Aku sengaja membungkus banyak untuk keluarga mu juga!” ujar Chunji begitu melihat Ravi hendak melahap satu cookies

“arasseo! Gumawo!” cibir Ravi dan melahap cookies-‘nya’

Chunji melihat ke sekeliling rumah. Tak ada yang berubah, pikirnya. Sama seperti tiga tahun yang lalu. Dekorasinya juga hampir sama. Saat berjalan menuju ruang tengah, Chunji menemukan Jin dan Himchan yang sedang menonton.

“eo! Hyung!” panggil Chunji. Jin dan Himchan sedikit terkejut karena melihat Chunji dan Ravi dibelakangnya melahap cookies dengan senang, pemandangan yang langka untuk mereka.

“Chanhee-ya! Sudah lama sekali!” sapa Himchan. Chunji hanya tersenyum mendengar sapaan Himchan karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Jin, matanya terpusat pada apa yang dipegang Ravi, cookies.

“apa yang kau makan, Wonshik-ah?” tanya Jin. Chunji menoleh dan melihat Ravi, “ah, kemarin eomma membuat cookies dan aku membawa banyak untuk kalian..” bukan Ravi yang menjawab tapi Chunji.

“eo? Gumawo. Ya Kim Wonshik! Jangan makan sendirian..” ujar Himchan dan langsung membuat Ravi yang tadinya memegang erat cookies tersebut menjadi melemas dan memberikannya kepada Himchan.

“kau tahu kan kalau kedua Hyung mu ini menyukainya juga..” ujar Himchan dan memakan cookies dan memberikan beberapa kepada Jin. Sementara Ravi meratapi cookies yang seharusnya miliknya dimakan kedua Hyungnya.

“sebagai gantinya ku berikan ini..” ujar Jin dan memberikan satu toples kripik kepada Ravi yang masih menatap lekat cookies-‘nya’

“Hyung, berikan aku tiga lagi, ani! Empat lagi..” pinta Ravi dengan menatap kedua kakaknya memohon. Chunji langsung menatapnya ngeri, dia tak pernah melihat wajah memohon seorang Kim Ravi.

Jin dan Himchan langsung mengambil cookies untuknya, wajah Ravi langsung berseri-seri dan mengadahkan tangannya.

“satu..” “dua..” ujar kedua kakaknya bergantian sambil memberikan dua cookies kepada Ravi

Ravi mengerjabkan matanya, “pffft..” Chunji langsung menutup mulutnya mencoba menahan tawa. Ravi menatap tajam kepadanya kemudian beralih lagi kepada kedua kakaknya

“Hyung..” panggil Ravi dengan nada memelas. Chunji memegangi perutnya dan menutup mulutnya mencoba tidak menyuarakan tertawanya.

“sudahlah. Ini saja masih sedikit dan aku akan membagikannya dengan Himchan Hyung. Kau pasti sudah makan banyak sejak tadi kan? Dan berikan dua cookies itu kepada Kai dan Taemin..” ujar Jin dibalas anggukan Himchan yang memakan dengan senang cookies di tangannya

“Hyung..” panggil Ravi dengan nada memelas lagi sedangkan Chunji sedikit terkejut dengan perkataan Jin, ‘ada Kai dan Taemin? Sedang apa mereka? Apa mereka tidak mengerjakan tugas?’ pikir Chunji

“Ravi-ya..” panggil seseorang dari arah belakang Chunji dan Ravi. Ravi, Chunji, Himchan, dan Jin menoleh dan mendapati Kai dan Taemin berjalan ke arah mereka.

“kau lama sekali..” ujar Taemin jengkel. Ravi memasang wajah masam ke arah mereka.

“tuh, berikan kepada mereka..” ujar Himchan.Taemin dan Kai bingung sedangkan Ravi menghela nafas pasrah lalu berjalan menuju kedua sahabatnya itu dan memasukan satu persatu cookies ke mulut mereka

“eo? Apa ini, gumawo..” ujar Kai dan memakan habis cookies-nya

“jadi ini cookies buatan eommanya Chunji? Benar katamu enak..” ujar Taemin kepada Ravi yang menatap nanar cookies yang telah dilahap habis kedua sahabatnya

Kai membulatkan matanya, “jadi ini buatan eommamu?” tanya Kai kepada Chunji dan Chunji hanya mengangguk, “woah! Benar-benar enak!” puji Kai sambil mengancungkan jempolnya

Chunji hanya tersenyum mendengar pujian dari Kai dan Taemin.

“sebelum kau datang, Ravi terus berbicara tentang enaknya cookies buatan eommamu. Dia bilang, kalau eommamu membuatnya dia akan langsung tahu. Dia bahkan bilang kalau cookies buatan eommamu yang paling enak..” ujar Taemin dan hanya ditatap bengong oleh Chunji

Chunji kemudian menatap Ravi, “kenapa? Bukannya sudah pernah ku katakan kepadamu kalau cookies eommamu memang yang paling enak?” tanya Ravi kepada Chunji karena dia terlihat tak percaya

Chunji hanya tersenyum dan menggeleng, “arra..” jawabnya kemudian berjalan meninggalkan Himchan, Jin, Taemin, Kai, dan Ravi menuju tangga

“kau mau kemana?” tanya Ravi, “kamarmu. Mau kemana lagi? Kamar Jin Hyung? Aku tidak mau melihat barang-barang pink di dalamnya..” jawab Chunji dan terus berjalan menuju kamar Ravi

“ya, Lee Chunji!” pekik Jin setelah medengar penuturan Chunji dan hanya dijawab tertawa oleh Chunji yang sudah berada di lantai atas

Sedetik itu juga bel berbunyi, ‘ting tong’. Ravi menoleh ke arah pintu kemudian menoleh lagi ke arah Chunji

“itu pasti Daehyun! Ya, Lee ChanJi kau masih ingat kamarku, kan? Nanti kau salah masuk..” ujar Ravi sambil tertawa lalu berlari menuju pintu rumah, sementara Kai dan Taemin mengangkat bahu mereka kemudian menyusul Chunji ke atas

Sementara Chunji diatas memutar bola matanya malas dan membuka pintu kamar yang ia yakini itu kamar Ravi. Dan tentunya dia benar.

Chunji masuk ke dalam dan melihat betapa berantakannya kamar Ravi. Chunji menggeleng-geleng dan mengobservasi seberapa banyak perubahan pada kamar Ravi selama tiga tahun karena dia tak pernah main.

“sudah berapa lama kau tak main ke rumah Ravi?” tanya Kai begitu masuk ke kamar Ravi

Chunji menoleh dan mengambil komik dari lemari Ravi, “eem, tiga tahun..” jawab Chunji kemudian duduk di sofa bantal(?)*itu sofa/kursi yang kayak bantal. Gak tau namanya* yang ada di kamar Ravi.

Kai dan Taemin mengangguk-angguk. Tak berapa lama, datanglah Ravi bersama Daehyun.

“loh? Ada Kai dan Taemin. Kalian tidak menyelesaikan tugas kalian?” tanya Daehyun kepada mereka berdua

“besok. Hari ini Suga sedang sibuk..” jawab Kai dan Taemin serempak

Daehyun, Chunji, dan Ravi mengangkat sebelah alis mereka, dan mengangguk-angguk mengerti.

“ku harap kalian tidak menganggu kami..” ujar Daehyun dan langsung dibalas tatapan ‘Jung Daehyun kau tidak asyik’ dari Kai dan Taemin.

Daehyun membalas tatapan Kai dan Taemin, “kalau kalian menganggu kami, jangan harap besok kalian bisa menyelesaikan tugas kalian..” ancam Daehyun

Kai dan Taemin langsung menelan ludah, sedikit takut dengan ancaman Daehyun. Akhirnya mereka menyerah dan lebih memilih untuk membaca komik.

“kau belum punya edisi baru, Ravi-ya?” tanya Chunji sambil menunjukkan komik yang dipegangnya kepada Ravi. Ravi melihat komik tersebut dan menggeleng, “kau tahu, aku sudah mencarinya kemana-mana..” jawab Ravi

“oh ya? Aku sudah punya..” ujar Chunji. Ravi, Taemin, dan Kai langsung menoleh. “kau punya!?” pekik mereka bertiga serempak

“bagaimana bisa? Bukannya edisi terbaru sudah habis dalam lima menit begitu keluarkan?” tanya Kai

Chunji tertawa, “beruntungnya, saat pengeluaran aku berada di toko buku!” jawab Chunji menyombongkan diri

“ya! Pinjamkan aku!” pinta Taemin, “jangan! Aku saja!” pinta Kai, “Chunji-ya, aku saja!” pinta Ravi

Daehyun menyaksikan mereka berempat dengan bingung, “ada apa?” tanya Daehyun karena tak mengikuti jalan cerita mereka sedari tadi

Ravi, Kai, dan Taemin menoleh. “komik ini! Kau punya edisi terbaru?” tanya Taemin sambil menunjuk komik yang ada di tangan Chunji

Daehyun melihat komik tersebut, “aaaah!” pekik Daehyun

Kai, Ravi, dan Taemin memasang wajah berharap, “tidak ada..” jawab Daehyun datar

Kai, Ravi, dan Taemin langsung menutup mata mereka geram mendengar jawaban Daehyun.

“daripada itu, cepat kita kerjakan tugas kita Kim Wonshik, Lee Chanhee!”

Begitulah, karena sepertinya suasana hati Daehyun sedang tidak baik, mereka pun mengerjakan tugas dengan hati-hati bahkan Kai dan Taemin tak berani menganggu sedikit pun.

 

***

Hari libur. Iya benar, hari libur. Hari yang menyenangkan bagi seorang Lee Chanhee, hingga menjelang malam dan sebelum..

“Chanhee! Tolong belikan eomma bahan-bahan masak untuk appamu! Kau ingatkan appamu akan pulang hari ini!” teriak ibu Chunji dari arah dapur sedangkan Chunji.. Dia sedang bersantai di ruang baca.. Membaca komik.

Chunji memutar malas bola matanya, “Lee Chanhee!!” teriak ibu Chunji untuk yang kedua kalinya

“kenapa tidak Jaehwan Hyung atau Minhyuk Hyung saja eomma?” tanya Chunji dan tak berniat keluar dari ruang baca

“makanya berhenti membaca komik! Kau bahkan tidak tahu Hyungmu pergi!” bentak ibu Chunji yang sudah berada di depan pintu ruang baca dan membuat Chunji tersentak kaget

“eomma! Kau menganggetkan ku!”

“sudahlah! Cepat! Ini daftarnya ini uangnya!” perintah ibu Chunji dan memberikan uang dan daftar belanja kepada Chunji. Dengan malas Chunji mengambilnya dan keluar dari ruang baca

“aku pergi..” ucapnya lesu dan keluar rumah

 

***

Chunji belanja dengan cepat secepat kilat. Dia tidak mau menyia-nyiakan hari liburnya hanya untuk berbelanja, walaupun untuk ayahnya sendiri.

“setidaknya aku tidak bertemu dengan Wonshik di supermarket, hahaha..” ujarnya pelan dan melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah

Langkahnya terhenti begitu melihat sosok yang tidak asing olehnya dan sepertinya sedang beradu mulut dengan dua laki-laki paruh baya yang terlihat mabuk. Chunji menyipitkan matanya mencoba melihat lebih jelas siapa orang yang sedang beradu mulut tersebut. Orang itu sedang membawa bungkusan yang sama dengan Chunji yang berarti mereka dari supermarket yang sama.

Setelah pandangannya mendapat gambaran jelas siapa orang tersebut, matanya langsung membulat sempurna. Ravi, dialah orangnya.

“sedang apa dia berkelahi dengan para ahjussi itu?” heran Chunji

Mata Chunji kembali membulat ketika melihat salah satu lelaki paruh baya itu memukul wajah Ravi. Chunji panik, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Menolong rivalnya? Atau pura-pura tidak tahu? Tapi yang lebih gawat saat ini, dia pulang lewat arah sana.

“peduli dengan rival! Nyawa seseorang harus didahulukan!” ujarnya lalu berjalan menuju mereka

“ehem. Ahjussi-deul, apa tidak apa-apa menghajar satu orang siswa SMA berdua?” tanya Chunji belagu hebat

“Chunji!?” kaget Ravi. Chunji berjalan mendekati Ravi dan berdiri di sampingnya.

“dua lawan dua dong..” ujar Ravi lagi

“mwo!? Dasar bocah belagu! Sok pahlawan! Apa tidak ada yang mengajari kalian sopan santun, eo!?” teriak salah seorang ahjussi itu dan meninju wajah Chunji

“akh!” pekik Chunji merasa kesakitan di sekitar rahang atasnya. Ravi terkejut dan menatap kesal ahjussi-ahjussi itu.

“ahjussi sendiri, apa tidak diajari sopan santun untuk tidak menganggu orang ketika mabuk? Ah, mabuk berarti tak sadarkan diri, aku lupa..” ujar Ravi pelan sambil tersenyum mengejek ke arah ahjussi-ahjussi itu

“mwo!” kedua ahjussi itu semakin kesal dan hendak memukul Ravi lagi, namun kali ini Ravi menghindarinya. Salah satu ahjussi kembali hendak memukuli Ravi dan kali ini, Chunji menghalanginya.

“jangan halangi aku bocah!” kesal ahjussi yang dihalangi Chunji, “omo, ahjussi. Apakah anda punya anak? Apakah anak anda tahu kelakuan anda seperti ini?” tanya Chunji kepada ahjussi itu

“mwo!?” tanya ahjussi tersebut dan berhenti melancarkan pukulan kepada Chunji begitu pula ahjussi yang satu lagi

“dia benar, apakah anak kalian tahu kelakuan kalian seperti ini? Bagaimana kalau anak kalian tahu kalau ayah mereka mudah mabuk dan tersinggung hanya karena tersenggol lengan seorang anak SMA?” sambung Ravi

Kedua ahjussi itu terdiam dan menunduk, tiba-tiba mereka bedua meneteskan air mata membuat Chunji dan Ravi bingung.

“hiks, sebenarnya hari ini kami berdua dipecat..” ujar salah satu ahjussi dan mulai duduk di jalan begitu pula ahjussi satunya lagi. Mereka tambah membuat Ravi dan Chunji bingung.

Dan begitulah, mereka mendengar curhatan panjang kedua ahjussi itu.

 

***

“dasar ahjussi aneh..” ejek Chunji karena capek mendengar curhatan kedua ahjussi itu selama kurang lebih satu jam

“kenapa pula kau menolongku..” ujar Ravi menyalahkan Chunji

Chunji menatap Ravi kesal, “bukannya berterima kasih! Kau tahu, wajahmu itu meminta pertolongan. Aku jadi kasihan denganmu..” ujar Chunji sebal

Ravi menatap Chunji kesal, “aish, aku benci mengatakannya tapi terima kasih..” ucap Ravi tulus

Chunji melihat Ravi dan tersenyum kecil, “kapan terakhir kali kau mengucapkan kata itu kepada ku..” ujar Chunji

Ravi menoleh dan berpikir, “tiga tahun yang lalu. Sejak kau membenciku, aku heran kenapa kau tiba-tiba membenciku..”

“itu karena kau selalu lebih unggul dariku! Aku kesal itu!”

“kalau itu aku tahu! Lagipula, salahmu sendiri kenapa tak bisa mengungguliku..”

“ya! Kau itu unggul karena kedua Hyungmu, kau tahu itu!?”

“mwo!? Ya! Kau bahkan tak tahu perjuanganku diajari Himchan Hyung dan Seokjin Hyung saat liburan! Dan kau? Liburan kerjaan mu hanya membaca komik..”

“mwo!? Ya! Aku juga belajar!”

“heh? Aku tak percaya..”

“kau-“ ponsel Chunji berdering. Ibunya menelpon.

“siapa?” tanya Ravi. Chunji melihat Ravi dengan wajah panik, “eommaku..”

Ravi tertawa, “hahaha, kau pasti akan dimarahi..” ujar Ravi lalu menepuk-nepuk pundak Chunji

Chunji menelan ludahnya berat dan menerima telpon dari ibunya

[LEE CHANHEE!! KAU LAMA SEKALI! CEPAT! SATU JAM LAGI APPAMU SUDAH PULANG!!] teriak sang ibu dengan kuatnya sampai Chunji menjauhkan ponselnya dan Ravi menjauh dari Chunji

“ba-baiklah.. Maaf..” ujar Chunji takut-takut dan segera mematikan telponya sebelum ibunya berteriak lagi

“menyeramkan..” ujar Ravi begitu Chunji mematikan telponnya

“haah, kalau begitu aku duluan..” ujar Chunji dan dibalas anggukan Ravi

Chunji pun berlari meninggalkan Ravi menuju rumahnya.

 

***

Seperti biasa, matahari menyambut pagi warga kota Seoul dengan sangat hangat.

“aku pergi dulu..” pamit Ravi dan Chunji entah kenapa bersamaan

‘cklek..’ pintu pagar dibuka bersamaan dan keluarlah dua rival yang sejak kelas satu SMP memulai perang mereka. Chunji dan Ravi saling bertatapan.

“kau sudah mau pergi?” tanya mereka berdua bersamaan

Mereka kemudian terdiam. Ravi berjalan duluan. Arah ke sekolah berada di sebelah kiri dan sebelah kiri merupakan rumah Chunji. Ravi berjalan melewati Chunji yang mematung.

Ravi berhenti dan berbalik. “tidak mau pergi bersama? Sudah lama kita tidak pergi bersama..” ujar Ravi. Chunji mengerjabkan matanya, “baiklah..” jawabnya

Chunji berjalan menyusul Ravi dan mereka menuju ke sekolah bersama.

“kau masih sering makan ddeokbokki di toko Jiyong Imo?” tanya Ravi

“kadang-kadang. Kau sendiri?” Chunji balik bertanya

“aku juga. Bagaimana kalau pulang nanti kita ke sana?” ajak Ravi

“ide yang bagus. Kau yang traktir..” “mwo?” “kenapa? Bukannya sedari dulu sudah seperti itu, yang mengajak yang traktir..” “ya! Apa itu masih berlaku, eo?” “tentu saja..” “ya Lee Chanhee!”

Chunji berlari sebelum Ravi menyekiknya atau lebih parah membuat wajahnya yang tampan penuh dengan warna biru atau merah. Tidak-tidak, bercanda. Sebelum Ravi meronggoh sakunya dan mencuri dompetnya.

“ya! Kau! Ke sini cepat!” panggil Ravi dan terus mengejar Chunji

“bukannya kau bilang kau jago olahraga? Mengejarku saja kau tak bisa..” ejek Chunji

“ya! Kau! Lihat saja nanti kau dikelas!” kesal Ravi dan terus mengejar Chunji

Mereka adalah rival. Sejak kelas satu SMP Chunji menganggap Ravi sebagai rival, dan entah kenapa karena Chunji membencinya, secara tidak sadar, Ravi juga menganggap Chunji sebagai rivalnya.

Mereka rival dalam apa pun, pelajaran, olahraga, seni, bela diri, game, atau apa pun.

Mereka adalah rival, tapi sepertinya.. Sekarang sudah berubah..

Mereka adalah rival. Rival yang diawali dengan teman semasa kecil dan diakhiri dengan persahabatan..

 

***

15 tahun kemudian..

“… Jadi begitulah kisah pertengkaran aneh Appamu ini dengan Chunji Samchun..” ujar Ravi sambil mengangguk-angguk setelah menceritakan kisah persahabatannya dengan Chunji

“kenapa Chunji Samchun menganggap Appa sebagai rivalnya?” tanya putra pertama Ravi yang sekarang sudah berumur 7 tahun

“kenapa? Tentu saja karena Appamu ini tampan dan populer..” jawab Ravi bangga

“omong kosong apa itu, huh?”

Ravi dan putranya menoleh ke sumber suara dan mendapati Chunji, istri Chunji, istrinya dan putri Chunji yang seumuran dengan putra Ravi.

“eo? Kau sudah datang rupanya..” sapa Ravi lalu memeluk sahabatnya itu

“omong kosong apa yang kau katakan tadi, huh? Kau tampan dan populer? Hahaha!!” Chunji tertawa sedangkan Ravi hanya merentangkan kedua tangannya heran

“kau itu bahkan sangat jauh jika dibandingkan dengan Hongbin dan Hyunwoo!” sambung Chunji

“ada apa denganku?”

Chunji dan Ravi menoleh dan mendapati Hongbin.

“Hongbin! Yaaa~ apa kabar, eo?” sapa Ravi dan Chunji, “baik! Kalian bagaimana?” “tentu saja baik..”

Tak berapa lama, teman satu angkatan mereka satu persatu datang. Yeah, mereka sedang mengadakan reuni..

 

-tamat-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s