I’ll Say I LOVE YOU! (Special)

I'll Say I LOVE YOU (Special)

 

Hello. Hola. Hai. Aloha. Annyeong~

Saya baliik wooooy!!! Kangen sama saya enggaak?? Teriakannya mana??

Pasti kangen, yang kangen bilang ya :3 buktinya mampir terus :3
Marhaban ya Ramadhan ^^
Maaf ya lama, mumpung liburan saya mau ngisi blog dulu. Kemarin-kemarin sibuk banget. Sekarang aja malah ga sempet nulis. Ni ff udah lama saya selesaiin untungnya. Huft.

Dan.. KILL ME BECAUSE SEVENTEEN FINALLY DEBUT!!!!
SEVENTEEN debut ketika saya mau UAS T_______T
Tapi akhirnya mereka debut, dua tahun saya nungguin mereka T_T akhirnya, hikhikhikhik.
Walaupun pada akhirnya bertiga belas dan rumor-rumor dibagi unit jepang china koreanya itu hoax doang, saya seeeneeeng.. Kerasa banget fans tuanya haha..

So, di ff spesial ini saya persembahkan jeng jeng dua insan pencari cinta sejati~

Selamat membaca^^ Komentar jangan dilupakan :3

I’ll Say I LOVE YOU! (Special)

  • Main Cast : Lee Hana (OC), Kim Mingyu (SEVENTEEN)
  • Support Cast : Choi Junhong/Zelo (B.A.P), Kim Yugyeom (GOT7), Jeon Jungkook (BTS), Lee Haerin (OC), and find it Yourself, OK?
  • Genre : AU, School-Life, Romance
  • Author : dk1317 a.k.a GDhia/GDhia1

P.S : This is just FF and my other imagine, don’t be plagiat and other that god and I don’t like! Please don’t be silent readers! So, leave some comment~ Typos every where~ EYD kemana-mana..

 

Happy Reading~

***

‘Lee Hana..’

Mingyu memandang lembut perempuan yang berada di depannya. Perempuan itu sedang berbincang asik dengan sepupunya yang bernama Lee Haerin.

Mingyu tersenyum kecil melihat perempuan tersebut. Lee Hana namanya. Perempuan yang berhasil masuk dalam kehidupan seorang lelaki bernama Kim Mingyu.

***

Setelah Yugyeom dan Haerin jadian, banyak sekali teka-teki di kepala Mingyu tentang Hana. Siapa Hana? Bagaimana dia dengan orang lain? Dan sebagainya, dan tentunya kesempatan bersahabat baik dengan Yugyeom dan Jungkook tidak ia sia-siakan.

“ah, panasnyaa..” ucap Yugyeom sambil mengipasi tubuhnya yang penuh keringat. Mingyu melemparkan botol air minum ke arahnya. “gumawo..” ujarnya dan langsung minum.

Mingyu menatap Yugyeom lama sampai Yugyeom selesai minum. Yugyeom merasa ada yang aneh dan bertanya kepada Mingyu, “ada apa? Apa ada yang ingin kau tanyakan?” Tanya Yugyeom

Mingyu mengangguk mantap dan langsung duduk di samping Yugyeom.

“Gyeom-ah..” panggil Mingyu, Yugyeom menoleh, “ada apa?” tanya Yugyeom

Mingyu menghela nafas, “kau adalah teman masa kecil Hana dan Haerin yang sekarang menjadi kekasihmu, menurutmu bagaimana Hana itu?”

Yugyeom kembali menoleh, “kenapa kau menanyakan Hana?” tanya Yugyeom. Mingyu menatap Yugyeom dengan tatapan: ‘ayolah, masa kau tidak mengerti?’. Yugyeom langsung membelalakkan matanya kaget.

“k-kau?” tanya Yugyeom. “memangnya siapa lagi, huh?” kesal Mingyu dan melemparinya botol kosong.

“jadi kau benar-benar menyukai Hana?” tanya Yugyeom, “Ya! Apa maksudmu!?”

“maaf, maaf.. hm.. baiklah.. Hana ya? Hana, orangnya sangat baik dan perhatian, dia juga ceria dan tak kenal lelah, sangat sopan dan baik kepada orang yang lebih tua darinya. Kadang dia kikuk, tapi jika sudah mengenal lebih dalam dia sangat humoris. Hana suka makan, bernyanyi dan benci olahraga. Kau tahu sendiri bagaimana tipe idealnya. Dia juga benci jagung dan tertekan, dia lebih memilih bebas dari pada harus selalu ditekan oleh sesuatu. Dia acrophobia, penyuka warna hijau, dan.. tidak suka dibilang pendek atau gendut..” jelas Yugyeom panjang lebar. Mingyu terdiam mencerna penjelasan Yugyeom tentang orang yang disukainya.

Mingyu memiringkan kepalanya, memikirkan sesuatu, “kenapa dia tidak suka jagung?” Mingyu menyuarakan kebingungannya

“dia bilang karena baunya. Kami pernah iseng menaruh jagung di nasinya dan dia langsung tahu padahal jarak nasinya tidak seberapa jauh darinya. Kami juga pernah hendak menaruh jagung di sampingnya ketika dia tidur, belum saja itu terjadi dia terbangun dan menatap kami dengan seram. Ah! Pernah juga saat kami sedang jalan-jalan, dia tiba-tiba mencium bau jagung dan menutup hidungnya, padahal disekitar tidak ada jagung sama sekali, saat kami berjalan agak jauh ternyata ada stan jagung rebus..” jelas Yugyeom panjang lebar lagi

Kali ini, Mingyu menatap Yugyeom dengan kaget. “pantas saja waktu aku sarapan dengan sup jagung dia langsung memberikanku tanda x dengan kedua tangannya dan menjauhiku..”

“haha, aku heran sekaligus kagum dengannya..” ujar Yugyeom

“hm, aku tahu..” Mingyu menyetujuinya, “kenapa kau menyukai Hana?” tanya Yugyeom. Mingyu menoleh, “dan kenapa kau menyukai Haerin?” Mingyu bertanya balik. Yugyeom terdiam, Mingyu tersenyum. “itulah dia, kita tidak tahu apa alasan-alasan tersebut, yang bisa kita katakan hanya ‘aku menyukai dia apa adanya dan tak perlu ada alasan apa pun..’ selalu itu..” ujar Mingyu

Yugyeom kembali terdiam dan mengangguk. “kau benar..”

 

***

>> flashback sebelum Haerin dan Yugyeom jadian..

“pagi pendek..” sapa Mingyu begitu masuk kelas dan mendapati Hana sedang mengapus papan tulis.

“Kim Mingyu! Huh, pagi-pagi jangan cari masalah denganku..” ujar Hana dan melanjutkan menghapus papan tulis, namun sayang di sekitar atas papan tulis tidak bisa diraihnya.

“sepertinya kau perlu bantuan..” ujar Mingyu, “tidak aku bisa melakukan ini sendiri..” tolak Hana. Mingyu tersenyum dan mengambil satu penghapus lagi dan menghapus papan tulis bagian atas yang tak tercapai oleh Hana.

Hana menghindar dari Mingyu dan hanya memperhatikannya menghapus papan tulis. “selesai..” ujar Mingyu dan menghadap Hana.

“kau tidak mungkin tidak butuh seseorang, pendek..” ujar Mingyu, “YA! SIAPA JUGA YANG MINTA BANTUANMU!”

Mingyu hanya tertawa dan duduk di tempat duduknya. “Kim Mingyu kau menyebalkan..” kesal Hana

 

***

‘Kim Mingyu..’

Hana menatap sebal lelaki yang tadi menolongnya. Laki-laki yang menjadi musuh bebuyutannya sejak masuk SMA. Kini laki-laki itu sedang berbincang asik dengan teman lainnya.

Hana tersenyum kecil. Walaupun sebal, tetapi Hana berterima kasih karena Mingyu sudah menolongnya.

 

***

“kenapa sih Mingyu itu selalu saja mengejek ku pendek?” kesal Hana di atap sekolah sendirian.

Hana berdiri tegap. “memang sih aku pendek. Tapi tidak usah sering mengejekku juga kan?” bingung Hana lalu kembali duduk dan memakan rotinya.

‘crek’ “eo?” Hana menoleh ke sumber suara ketika pintu dibuka. Hana langsung membelalakkan matanya kaget karena orang yang berada di depan pintu ternyata adalah Junhong.

“Ju-Junhong oppa..” panggil Hana, “eo? Kau.. Mmm, kau..” Junhong mencoba mengingat-ngingat, “Lee-Lee Hana, kelas 1-1..” jawab Hana, “ah ya benar, Hana! Lee Hana!” ujar Junhong lalu berjalan dan duduk di sampingnya, seketika jantung Hana berdetak kencang.

“kau sendirian?” tanya Junhong, Hana mengangguk. “kenapa?” tanya Junhong lagi, “ti-tidak apa-apa, hanya ingin menikmati langit sendirian..” jawab Hana terbata-bata.

Junhong mengangguk mengerti dan tersenyum, “aku juga sering ke sini sendirian. Hanya untuk menikmati langit, sama denganmu..” ujar Junhong, “terkadang hanya dengan melihat langit, pikiran jadi terbebaskan dari beban-beban..” sambungnya

Hana mencermati kata-kata Junhong, “beban?” tanya Hana. Junhong menoleh kearah Hana, Hana terkejut lalu menunduk. “hahaha..” Junhong tertawa dan kembali menatap langit, “beban. Iya beban. Beban yang sangat berat..”

Hana diam. Junhong juga diam. Tanpa mereka sadari bel masuk berbunyi. “bel sudah berbunyi, ayo ke kelas..” ajak Junhong. “op-oppa duluan saja, aku masih mau disini sebentar..” ujar Hana. Junhong menangkat kedua alisnya, “hm, baiklah. Aku duluan..” ujar Junhong dibalas anggukan Hana kemudian, Junhong masuk kembali ke gedung sekolah.

Hana menghela nafas panjang, seolah-olah dia tak bernafas dari tadi. “a-aku berbicara dengan Junhong oppa! Kyaaa!” teriaknya senang dan melompat-lompat tidak jelas

 

***

Fesitival Olahraga Sekolah dimulai dengan perlombaan tim sorak. Hana terlihat sangat cantik. Itulah yang dipikirkan Mingyu saat itu. Dia menatap Hana yang dengan lincahnya bersorak dengan teman sekelas lainnya.

Setelah selesai, Mingyu memberikan minum kepada Hana. Awalnya Hana bingung lalu mengambil minum dan meminumnya.

“gumawo..” ujar Hana, “kau keren juga..” puji Mingyu, “tentu. Kau saja yang tidak tahu kalau aku keren..” “tapi sayangnya pendek..” “ya Kim Mingyu!” Hana memukul lengan Mingyu, Mingyu merintih kesakitan. “Ya! Tangan ini masih ku pakai nanti!” kesal Mingyu.

Hana mengangkat kedua alisnya, “oh ya? Memangnya kau ikut lomba apa?” tanya Hana. “basket..” “kau bisa bermain basket?” tanya Hana atau lebih tepatnya mengejek, “ya!” “ahaha, ya sudah semangat, tapi akan kalah juga jika melawan Junhong oppa..” “ya! Kau mendukung kelasmu atau kelas orang lain sih?”

Hana kembali mengangkat kedua alisnya, “aku mendukung cintaku..” jawab Hana enteng dan hanya dibalas wajah malas dari Mingyu.

‘Junhong lagi Junhong lagi..’ kesal Mingyu di dalam hati dan pergi meninggalkan Hana

“kenapa dia?” tanya Hana lalu membiarkan Mingyu pergi.

 

***

Saat lomba basket kelas 2-1 melawan 2-3

“kyaaaaa!! Junhong Oppa!!” teriak Hana begitu semangat setelah melihat Junhong berhasil mencetak skor untuk kelasnya

Mingyu dari kejauhan melihat Hana berteriak seperti itu entah kenapa benar-benar kesal.

“ada apa?” tanya Jungkook yang melihat keanehan pada Mingyu. “aku hanya tidak enak badan. Aku ke UKS sebentar..”

“baiklah. Untungnya kita belum akan main..” ujar Jungkook dan membiarkan Mingyu pergi ke UKS

 

***

‘kenapa aku tidak pernah bisa jujur dengan Hana? Kalau begini mana bisa dia menyukaiku..’ ujar Mingyu lalu menutup matanya

‘kreek’ pintu UKS terbuka, Mingyu ikut membuka matanya, suara bisik-bisik ia dengar. Sepertinya, orang yang masuk ke UKS tidak menyadari kehadiran Mingyu. Mingyu mencoba mengintip dan betapa kagetnya dia ketika mendapati Junhong dan Hayoung.

‘bukankah itu Junhong hyung dan Hayoung sunbae?’ tanya Mingyu di dalam hati. Lebih terkejutnya lagi, kali ini Mingyu melihat mereka berpelukan. Mingyu kembali tidur seakan tidak melihat apa yang dia lihat barusan. Itu privasi seseorang menurutnya.

“aku akan merindukanmu, aku keluar duluan..” ujar Junhong, “aku juga akan merindukanmu..” ujar Hayoung.

Pintu UKS dibuka yang sepertinya menandakan keluarnya Junhong, tak berapa lama pintu UKS kembali dibuka yang sepertinya menandakan keluarnya Hayoung.

Mingyu kembali membuka matanya. “sepertinya mereka berdua pacaran. Dan sepertinya dirahasiakan..”

Mingyu hanya terdiam lalu berangkat dari tidurnya. Entah kenapa dia mengkhawatirkan Hana saat ini.

 

***

“GO! GO! GO! TIM BASKET 1-1 PASTI MENANG!!”

Saat ini tim basket kelas 1-1. sedang main melawan kelas 1-4. Terlihat masing-masing kelas menyorakkan nama kelas masing-masing.

“GOOOOOOO!!!! KIM YUGYEOM CETAK SKOR UNTUK KAMI!!!” teriak Hana penuh semangat

“auuh lihatlah Lee Hana. Itu perempuan yang kau sukai?” tanya Yugyeom, “ya! Dia sahabatmu tahu!” kesal Mingyu, “lebih baik kita bermain serius..” sambung Mingyu dan hanya dibalas juluran lidah dari Yugyeom.

Setelah kurang lebih 15 menit, pertandingan selesai dan dimenangkan oleh kelas 1-1.

“lawan kita selanjutnya kelas 2-1 loh..” ujar Yugyeom. “ah, Junhong hyung..” ujar Seokmin malas

Mingyu hanya diam sambil mengganti bajunya. ‘sudah ku duga ini kan terjadi..’ ujarnya dalam hati

 

***

“Haerin-ah! Hana-ya!” teriak Yugyeom begitu menyadari kehadiran Hana dan Haerin dikejauhan dan dibalas lambaian balik dari Hana

“nanti kalian akan tanding dengan kelas 2-1 kan? Kalian pasti kalah karena ada Junhong Oppa di sana..” ujar Hana sambil menjulurkan lidahnya meledek Yugyeom dkk.

“hei Lee Hana, kau membela kelasmu atau kelas orang lain sih?” tanya Mingyu untuk yang kedua kalinya sedangkan yang lain langsung tertawa, “kan sudah ku bilang tadi..” jawab Hana lalu tertawa pelan.

Mingyu hanya diam dan menatap Hana yang memperhatikan kelakuan aneh Haerin.

 

***

Saat pulang sekolah dan diperjalanan, Mingyu sedari tadi terlihat bingung dan resah. Sesekali dia menanyakan tanggal hari ini.

“ada apa?” tanya Seokmin, “Ibuku ulang tahun hari ini..” jawab Mingyu. “ya! Kau lupa?” kaget Seokmin, “aku tidak bermaksud melupakannya tau!” kesal Mingyu

Seokmin terdiam, Mingyu ikut diam. “kau sudah punya kado?” tanya Seokmin. Mingyu menggeleng. “kalau begitu sana, mumpung masih ada waktu..” ujar Seokmin

“tapi aku tidak tahu apa yang harus ku berikan..” ujar Mingyu, “ajak siapa untuk ikut denganmu. Kalau mau sih perempuan. Perempuan kan tahu selera perempuan..” saran Seokmin

Mingyu berpikir, ‘bukankah ini kesempatan bagus untuk jalan bersama Hana?’ pikirnya. Mingyu langsung mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Hana.

“kau pulang duluan saja, aku mau mengajak Hana..” ujar Mingyu kepada Seokmin. Seokmin terkejut dan tersenyum, “sukses ya bersama Hana. Sekali dayung dua pulau terlewati nih..” ujar Seokmin, “bisa saja kau. Hati-hati ya..”

 

***

Hana menatap kesal laki-laki yang berdiri dengan senyum ‘sok manis’-menurutnya di depannya. Hana berkacak pinggang. Laki-laki di depannya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“kau tahu ini jam berapa?” tanya Hana. Mingyu segera melihat jam. “setengah lima..” jawab Mingyu. Hana menghela nafas, “apa tujuanmu ke sini?” tanya Hana, “meminta tolong..” jawab Mingyu

Hana mengangkat alisnya, “apa yang bisa ku bantu?” tanya Hana. “hari ini Ibuku berulang tahun, jadi aku ingin kau menemaniku atau lebih tepatnya memberi saran apa yang harus ku berikan kepada Ibuku..” jawab Mingyu

Hana terdiam dan kembali melihat jam. Dia ada janji dengan Haerin jam 5 nanti. Apakah dia harus menolak ajakan Mingyu? Lagi pula, jarang sekali seorang Kim Mingyu mengajaknya berbelanja-atau lebih tepatnya memilih hadiah untuk sang Ibu.

“tidak bisa, jam 5 nanti aku ada janji dengan Haerin ke rumahnya..” jawab Hana dan hendak masuk kembali ke dalam rumah tetapi dicegah Mingyu.

Mingyu mengenggam tangan Hana mencoba menahannya masuk. “wae? Ku bilang aku tidak bisa..” ujar Hana

“kali ini saja.. Ku mohon.. Demi Ibuku..” pinta Mingyu. Hana diam lalu menghela nafas. “lepaskan tanganmu. Baiklah. Tunggu aku..” ujar Hana menyerah

“kau serius?” tanya Mingyu, “jadi kau tidak mau? Ya sudah..” “aah jangan-jangan. Baiklah ku tunggu..”

Hana kembali masuk ke dalam rumahnya. Mingyu tersenyum senang karena berhasil mengajak Hana.

Tak berapa lama, Hana keluar. “kau harus minta maaf dengan Haerin karena membuatnya menungguku, eo?” ucap Hana, “baiklah..”

 

***

Hongdae, Seoul

“berapa umur Ibumu?” tanya Hana, “mm, 43 tahun..” jawab Mingyu

Hana melihat-lihat di sekeliling, banyak sekali toko di Hongdae. “kau sudah tahu apa yang ingin kau beli?” tanya Hana, “belum, makanya aku mengajakmu. Seleramu kan bagus..” ujar Mingyu

Hana menoleh kearah Mingyu heran, ‘tumben sekali anak ini bertingkah baik kepadaku..’ pikirnya. “kenapa?” tanya Mingyu, “ah tidak apa, ayo kita ke sini..” jawab Hana

Hana megajak Mingyu ke salah satu toko. Mereka banyak sekali keluar masuk toko, kadang bukan untuk membeli hadiah Ibu Mingyu malah bermain-main dengan aksesori yang ada. Di salah satu toko, Hana tertarik dengan gantungan ponsel couple, Mingyu memperhatikannya dari tadi, hanya ada senyum kecil dari Hana yang entah apa artinya.

“kau mau membelinya?” tanya Mingyu. Hana menoleh lalu tertawa, “untuk apa membeli benda couple jika yang satu lagi tidak ada yang memakai?” Hana bertanya balik, “biar aku yang pakai satunya..” ujar Mingyu

Hana terdiam. Mingyu merasa dia mengakatakan hal yang fatal. Hana kemudian tertawa. “terima kasih sudah menghiburku..” ujar Hana kemudian.

Mingyu sedikit lega namun sedikit sedih juga. ‘Hana-ya, kau tak sadar juga, huh?’ tanya Mingyu di dalam hati.

 

***

“gumawo sudah menemaniku hari ini..” ujar Mingyu. “tentu, aku juga berterima kasih sudah ditraktir hari ini..” ujar Hana senang sambil memakan hoddeok-nya. Mingyu tersenyum mengingat dia sudah mentraktir Hana ayam goreng, ddeokbokki, ice cream, dan kali ini hoddeok, “ternyata kau memang suka makan..” ujar Mingyu pelan, “hm? Apa?” tanya Hana karena dia tidak mendengar apa yang dikatakan Mingyu namun Mingyu hanya menggeleng.

“ah! Sudah hampir jam 6! Aku duluan Mingyu-ya, nanti Haerin marah denganku, ah! Harusnya dia marah denganmu. Jangan lupa kau harus minta maaf dengan Haerin, eo!?” ujar Hana terburu-buru lalu berlari menuju halte bus, “ah! Juga terima kasih traktirannya!” sambung Hana dan masuk ke dalam bus setelah bus sampai ke halte.

Masih sempat Hana melambai saat bus melewati Mingyu.

“aku juga berterima kasih..” ujar Mingyu lalu tersenyum, “itulah mengapa aku menyukaimu Hana-ya..” sambungnya

Mingyu berbalik menuju toko yang menjual gantungan ponsel tadi..

 

***

“Yo! Pendek..” sapa Mingyu begitu masuk kelas dan menemukan Hana sedang menulis absen. Hana langsung memandang Mingyu datar, “menyesal aku menemanimu kemarin..” ujar Hana dan hanya lanjut menulis absen.

“mian mian. Ngomong-ngomong, Ibuku senang sekali dengan kadonya. Gumawo..” ujar Mingyu, “tentu saja, semua Ibu pasti suka kado yang ku pilih..” ujar Hana, “apa itu? Pujian terhadap diri sendiri, huh?” tanya Mingyu jengkel

Hana menatap Mingyu, “apa salahnya?” Hana bertanya balik dan hanya dibalas tatapan datar dari Mingyu, “inilah mengapa aku malas berdebat denganmu Lee Hana..” ujar Mingyu dalam hati namun yang dilakukannya hanya menjitak pelan kepala Hana

“yak! Kau!” kesal Hana. Mingyu hanya tertawa dan berjalan menuju kursinya.

Saat hendak kembali ke kursi, Hana menemukan kotak kecil persegi panjang di samping tangannya. “sejak kapan?” tanya Hana sambil melihat ke kiri dan ke kanan mencoba mencari siapa yang menaruh kotak kecil ini di sampingnya. Saat dia membukanya, gantungan ponsel couple yang ia lihat kemarin terdapat di dalamnya. Hana sedikit terkejut dan melihat Mingyu yang sedang bercanda dengan Jungkook. Hana tersenyum pelan dan memasukkannya ke dalam saku seragamnya.

Hana berjalan menuju Mingyu dan berbisik pelan, “gumawo..” ujarnya lalu kembali berjalan menuju kursinya. Mingyu sedikit terkejut lalu tersenyum.

“mwoya? Kalian sudah lancar, huh?” tanya Jungkook yang sedikit kaget dengan keadaan yang dilihatnya baru saja.

“semoga iya..” jawab Mingyu dan hanya dibalas tatapan datar Jungkook.

<<flashback end

 

***

“aku tidak mengerti dengan Kim Mingyu..” ujar Hana kepada Haerin yang sedang memilih baju. Hari ini Haerin ada kencan dengan Yugyeom, jadi dia meminta Hana untuk memilihkannya baju

“memangnya ada apa dengannya?” tanya Haerin, “anak itu terkadang baik, kadang menyebalkan, kadang kau merasa ingin membunuhnya, bahkan kau kadang merasa ingin dia tidak ada di dunia..” jawab Hana sambil memberikan tanda x dengan tangannya kepada baju yang Haerin perlihatkan

“oh ya?” tanya Haerin lagi dan hanya dibalas anggukan oleh Hana. “tapi dia memberikanmu gantungan couple itukan? Kira-kira apa artinya?” tanya Haerin, “awalnya aku hanya melihat, kemudian dia bertanya apa aku akan membelinya, ku jawab tidak karena aku hanya menyukainya..” Hana berhenti bercerita

Haerin sedikit kebingungan, “lalu?” tanya Haerin, “aku bilang untuk apa membeli jika yang satunya lagi tidak ada yang memakai..” nada bicara Hana sedikit menurun. Haerin kembali bingung, “lalu dia mengatakan apa?” tanya Haerin

Hana terdiam sambil memandang beberapa baju Haerin. Haerin hanya bingung dan tetap memilih baju. Hana kemudian melihat wallpaper ponselnya dimana disana tertera wajah dia, Haerin, Yugyeom, Jungkook, dan Mingyu yang sedikit menyelip. Entah kenapa Hana baru menyadari ada wajah Mingyu di sana.

“aku harus bertemu dengannya..” ujar Hana. “Hana-ya! Bagaimana dengan bajuku?” tanya Haerin saat melihat Hana buru-buru membereskan barang bawaannya, “dress peach sepaha itu kau pakai dengan jeans putih andalanmu, sepatu bootsmu yang berwarna cokelat, rambutmu kau kuncir setengah saja, jangan lupa pakai pita yang cantik kalau ada yang berwarna peach, jam cokelatmu dan tas cokelatmu..” ujar Hana lalu pergi meninggalkan Haerin

“daebak..” ujar Haerin melihat kepergian sepupunya itu

 

***

Hana menatap Mingyu yang duduk di depannya sekarang. Tak ada percakapan diantara mereka, hanya suara tamu-tamu di cafe itu yang ada. Mingyu menatap Hana bingung sedangkan Hana hanya mengumpat di dalam hatinya.

“ada apa kau mengajakku bertemu? Tumben sekali?” tanya Mingyu lalu meminum jusnya.

Hana menghela nafas, membulatkan takadnya untuk bertanya. “aku tidak yakin kau akan menjawab pertanyaan ini sekarang atau tidak..” Hana mengawali pertanyaannya. Mingyu makin terlihat bingung. “kenapa kau membeli gantungan ponsel itu dan memberikannya kepadaku?” tanya Hana

Mingyu terdiam mendengar pertanyaan Hana, dia membeku sesaat kemudian meminum jusnya dan menatap Hana, “karena kau bilang kau menyukainya..” jawab Mingyu

“ta-tapi aku sudah mengatakannya kepadamu kalau aku membelinya siapa yang akan memakai satunya lagi..” ujar Hana. Mingyu tersenyum, “ah.. setelahnya aku mengatakan kalau aku yang akan memakainya kan? Tak usah pikirkan hal itu. Aku memberikannya kepadamu agar kau bisa menemukan orang yang pantas memakai yang satunya lagi..” ujar Mingyu lalu berangkat dari duduknya dan pergi meninggalkan Hana.

Hana terdiam, matanya menjadi tidak fokus. Entah kenapa di dalam hatinya, dia merasa sesak.

 

***

Entah kenapa sejak saat itu, Hana dan Mingyu tidak saling bertegur. Tidak lagi saling mengejek. Tidak ada lagi berisik-berisik yang mereka timbulkan. Entah siapa yang memulai duluan mereka tak tahu.

Saat bel istirahat, Hana hendak menuju atap sekolah. Hatinya berkata harus ke sana. Hana sedikit terkejut ketika mendapati Junhong berjalan di depannya hendak menuju atap juga. Hana tersenyum senang karena mengetahui tujuan mereka sama. Hana sengaja berjalan di belakang Junhong agar terlihat pertemuan mereka tidak disengaja, namun dari arah lain, Hayoung ikut berjalan di belakang Junhong atau lebih tepatnya di depan Hana. Hana sedikit kebingungan akan hal itu.

Sebelum masuk, Junhong melihat ke kiri, kanan, dan belakang seperti memastikan kalau tidak ada yang mengikutinya, Hana berbalik seraya tidak tahu apa-apa. Tak berapa lama, sosok Junhong dan Hayoung menghilang dari penglihatan Hana yang diduga kalau mereka ke atap.

Hana yang penasaran berjalan menuju pintu ke atap dan membukanya perlahan agar tak menimbulkan suara. Tak jauh dari pintu, betapa kagetnya Hana ketika menemukan Hayoung dan Junhong berpelukan.

Hana menutup pintu perlahan agar tak diketahui mereka berdua. Hana merasa wajahnya memanas, pandangannya mulai kabur. Dia menutup mulutnya lalu berlari entah kemana.

Dan tanpa Hana sadari juga, Mingyu sudah memperhatikannya dari tadi. Kali ini Mingyu yang mencoba mengintip dan menemukan Junhong dan Hayoung. Mingyu menghela nafas dan sedikit terlihat kemarahan di wajahnya lalu berlari mencari Hana.

 

***

Terdengar suara isakan saat Mingyu hendak menuju belakang gedung sekolah. Mingyu mencoba mendekati dan berhasil menemukan Hana yang sedang menangis di bangku belakang sekolah. Mingyu duduk di samping Hana, menunggu sampai ia selesai menangis.

“kenapa? Hiks..” tanya Hana. Sepertinya Hana menyadari kehadiran Mingyu. “kenapa kau malah menemaniku di sini, Mingyu-ya? Hiks..” tanya Hana

Mingyu tak menjawab. “bahkan kau tak menjawab juga kali ini.. Siapa yang benar-benar tahu apa yang ku rasakan saat ini..” ujar Hana lalu berangkat dari duduknya dan hendak pergi

‘grep’ Mingyu menarik tangan Hana dan memeluknya. “mian..” ujar Mingyu dan langsung saja membuat air mata Hana kembali mengalir. Hana terisak begitu saja dan tak mengatakan apa pun, hanya terisak sedangkan Mingyu juga tak berkata apa pun, hanya memeluk Hana dan sesekali mengelus kepala Hana lembut mencoba menenangkan hatinya.

 

***

Hana memandangi langit di belakang sekolah. Hana dan Mingyu hampir membolos satu jam pelajaran. Hana menghela nafas lalu membuka mulutnya.

“Junhong oppa..” Hana memulai percakapan. Hana kembali menghela nafas mencoba untuk tidak mengeluarkan air mata lagi. “Junhong oppa sepertinya pacaran dengan Hayoung eonni..” ujar Hana lalu kembali menghela nafas, “aku tidak menyangka. Mereka cocok, sangat cocok..” sambung Hana

Hana tersenyum dan menunduk lalu kembali menghela nafas. “ku putuskan..” Hana kembali bersuara namun kali ini sedikit bergetar. Hana meluruskan pandangannya, “aku akan move on dari Junhong oppa!” ujarnya bersemangat sambil mengepalkan tangannya kuat

Mingyu tersenyum, “kalau begitu aku juga..” ujar Mingyu. Hana menatap Mingyu, “ku putuskan untuk tetap mempertahankan rasa cintaku terhadap orang yang ku cintai sekarang..” sambung Mingyu lalu balas menatap Hana. Hana langsung mengalihkan pandangan.

Tiba-tiba saja, Hana mengingat pelukan Mingyu tadi dan jantungnya berdetak dengan kencang, apalagi melihat senyuman Mingyu barusan.

‘apa ini?’ tanya Hana di dalam hati

 

***

3 Bulan kemudian..

Hana baru saja keluar dari kamar mandi dan hendak menyisir rambutnya. Dibukanya laci meja riasnya, padangannya tertuju pada kotak kecil persegi panjang.

“ah benar. Kau masih di sini..” ucap Hana pelan lalu mengambil kotak tersebut. Dibukanya kotak itu dan dipandanginya gantungan ponsel couple itu, “kau bukan lagi hak ku karena aku tidak akan bisa menemukan pemilikmu yang satu lagi. Menyukai seseorang yang menyukai orang lain, bahkan sekarang juga..” ujar Hana lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang

“aku ingin bertemu di tempat biasa..”

 

***

Mingyu mengedipkan matanya bingung ketika Hana menyodorkan kotak yang tidak asing kepadanya. “kenapa?” tanya Hana. Mingyu tak menjawab. “itu memang milikmu kan? Aku kembalikan padamu, lagi pula kau bilang akan segera mengungkapkan perasaanmu dengan orang yang kau sukai jadi ku pikir kau yang lebih cocok memilikinya..” ujar Hana lalu menaruh kotak itu ditangan Mingyu.

Mingyu melihat kotak tersebut, “gwaenchana?” tanya Mingyu. Hana menatap Mingyu lalu tersenyum, “tentu saja! Ku katakan juga kalau itu milikmu kan?” ujar Hana

Mingyu menghela nafas lalu menatap Hana serius. Hana sedikit terkejut dengan tatapan Mingyu. “maksudku, apa kau tidak apa-apa jika yang satunya lagi ku berikan kepada perempuan lain?” tanya Mingyu

Hana terdiam. Selama beberapa detik dia tidak mengatakan apa pun, “ke-kenapa kau menanyakan hal itu?” tanya Hana. Mingyu menatap kedua mata Hana, Hana malah memalingkan wajahnya.”aku tidak apa-apa kok, lagi pula kenapa aku harus kenapa-napa?” ujar Hana

Mingyu berangkat dari duduknya, “baiklah kalau bagitu. Lagi pula aku memang sudah janji dengan orang ku sukai itu..” ujar Mingyu lalu berjalan meninggalkan Hana

Hana melihat Mingyu yang berjalan menjauhinya, entah kenapa hatinya terasa sesak mengetahui kalau Mingyu akan bertemu dengan orang yang ia sukai.

“Ki-Kim Mingyu!” teriak Hana

Mingyu tidak berhenti begitu pula tidak menoleh, seakan tidak mendengar teriakan Hana. Hana berangkat dari duduknya dan berlari mendekati Mingyu, “Kim Mingyu!” teriak Hana sekali lagi. Kali ini Mingyu berhenti namun tetap tak menoleh.

Hana menjadi geram, “Lihat aku Kim Mingyu!” teriak Hana sekali lagi.

Mingyu membalikkan tubuhnya dan begitu kaget ketika mendapati Hana dengan air mata yang berlinang. Satu tetes telah jatuh dari pelupuk matanya, Mingyu langsung berjalan satu langkah namun tertahan karena Hana menyuruhnya untuk tidak mendekatinya.

Hana menghapus air matanya dan menatap Mingyu sambil tersenyum.

“kau tahu, aku sangat senang sekali jika kau dengan orang yang kau sukai dapat berjalan dengan baik dan lancar. Dan ku harap kalian tidak sering berkelahi. Sepertinya juga orang yang kau sukai sangat cantik dan mm, tinggi? Hehe..” ujar Hana

Mingyu terdiam, bingung harus berkata apa. “ya Kim Mingyu! Boleh ku akui satu hal?” tanya Hana. Mingyu menatap Hana. Hana menggigit bibir bawahnya, menahan tangis.

“ah, tidak bisa..” ujar Hana setelah air matanya kembali keluar. Mingyu tak tahan dan berjalan menuju Hana, walau ditahan Hana tetap saja dia mendekati Hana dan kini dia tepat berada di depan Hana.

“Kim Mingyu, ingin ku akui hal ini..” ujar Hana sambil sedikit terisak. Cuaca yang cukup dingin malam ini tidak menahannya untuk berbicara. “entah sejak kapan tapi..” Hana tak melanjutkan kata-katanya karena air matanya yang mengalir cukup deras kali ini.

“aku..” ujar Hana. Mingyu sudah tak tahan lagi melihat Hana seperti itu. Mingyu mengepal tangannya kuat. “aku menyu-“ ‘grep’ tak selesai Hana mengatakannya, Mingyu langsung memeluk Hana kuat.

Hana yang terkejut malah tambah mengalirkan air mata. “ya babo! Kenapa kau memelukku?” tanya Hana dan hendak melepaskan pelukan Mingyu

Mingyu meregangkan pelukan mereka dan menatap Hana. Hana juga menatap Mingyu lalu menunduk. Mingyu menarik tengkuk Hana sehingga Hana menatapnya. Kemudian Mingyu menghapus air mata yang mengalir keluar dari mata Hana.

“mian. Aku membuatmu menangis..” ujar Mingyu lembut yang malah membuat Hana tambah menangis

Mingyu menatap lembut Hana, “kau tahu, aku sangat ingin mengatakan hal ini. Dari pertama kali masuk SMA, aku menemukan seorang perempuan yang berhasil menarik perhatianku. Dia pendek dan sangat ceria. Dia mempunyai sepupu yang sangat cantik tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan sepupunya. Saat masuk ke kelas ku pikir aku tidak akan bertemu dengannya, namun ternyata perempuan itu sekelas denganku..” mendengar cerita Mingyu, Hana kembali meneteskan air mata

“aku sering sekali mengejeknya pendek karena dia sangat menggemaskan ketika marah tapi sayang dia menyukai kakak kelas. Ku akui kakak kelas itu tampan dan tinggi, tapi aku juga tampan dan tinggi..” Hana tertawa kecil mendengarnya

“suatu hari aku memaksanya menemaniku membeli kado untuk Ibuku, saat itulah aku benar-benar tahu bagaimana perempuan yang ku sukai itu. Dia sangat sangat sangat ceria, baik, pengertian walaupun dia menganggapku menjengkelkan tapi dia masih mau menolongku padahal dia ada janji dengan sepupunya sendiri..” Hana kini menjadi tenang

“tanpa ku sadari, aku memberikannya barang yang ia sukai yang sampai saat ini belum mempunyai pemilik, kadang aku berpikir kapan dia akan memberikan salah satunya kepadaku? Tapi suatu hari, dia mempertanyakan pemberianku. Entah kenapa aku langsung hilang harapan, dan mulai saat itu kami menjadi renggang..”

Mingyu menatap Hana dan Hana juga menatapnya, “tapi untungnya, kakak kelas yang dia sukai menampakkan rahasianya sendiri kepada perempuan itu. Hari itu dia menangis dan memutuskan untuk tak menyukai kakak kelas itu lagi, sejak saat itu aku mulai kembali berharap..”

“dan hari ini..” Mingyu tersenyum, Hana membalas senyumannya

“perempuan itu mengembalikan barang itu kepadaku dan berharap agar aku dapat memakainya bersama orang yang ku sukai..” Mingyu mengambil kotak berisi gantungan ponsel itu di kantong jaketnya

Mingyu mengulurkan tangannya meminta ponsel Hana, Hana tertawa kecil kemudian memberikan ponselnya kepada Mingyu.

“selesai..” gantungan ponsel itu tergantung manis di ponsel Hana. “aku sudah memakainya bersama orang yang ku sukai..” sambung Mingyu

Hana sedikit bingung, Mingyu langsung mengambil ponselnya dan ternyata, Mingyu sudah memasang lebih duluan gantungan itu di ponselnya. Hana tertawa kecil dan memeluk Mingyu.

“saranghae..” bisik Mingyu di telinga Hana, “nado..” ujar Hana

 

-selesai-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s